Rasa takut adalah hal wajar yang dimiliki manusia, sebagaimana rasa lapar, sedih, gembira atau bahagia dan cinta. Tapi ada tingkat-tingkat dimana manusia melangkah menuju pembebasan, pada dasarnya adalah pembebasan dari rasa takut.
Sungguh mengagumkan jika manusia bisa bebas dari rasa takut. Kelaparan, kesedihan, kecemasan dan banyak lagi penderitaan lainnya sering berasal dari rasa takut. Ketakutan dari masa lalu, adalah segulung kenangan buruk yang barangkali mengendap dari kesadaran lebih dalam lagi ke dunia ketaksadaran kita. Ketakutan pada masa depan atau kecemasan seolah adalah bentuk ilusi, imajinas atau bayangan buruk tentang masa depan dari endapan masa lalu tersebut.
Padahal hidup adalah hari ini. Masa lalu telah lewat, dan masa depan belum terjadi. Tapi sungguh, betapa sulitnya membebaskan diri dari kenangan masa lalu. Tak semua kesedihan berasal dari kenangan buruk. Sebab ada kesedihan justru berasal dari kenangan yang terlalu manis dari masa lalu. Kenangan tentang kebersamaan dan kehadiran yang indah misalnya. Kesedihan dari masa lalu adalah perasaan kehilangan yang tak pernah berlalu dari kesadaran sehari-hari.
Ketakutan bisa terjadi atas apa yang sedang kita alami saat ini. Siksaan fisik, teror psikis, trauma dan harapan yang seolah musnah. Oran-orang yang telah mampu membebaskan dirinya dari rasa takut, adalah orang-orang yang patut dikagumi. Para Rasul dan sahabat-sahabatnya, para sufi (penempuh jalan cinta sejati), para pejuang kemanusiaan: Gandhi, Mandela, Suu Kyi dll.
Konflik Arab-Israel berasal dari endapan-endapan rasa takut itu, aksi teror para pejuang militan berasal dari rasa takut, aksi teror Amerika ke negara-negara Islam adalah rasa takut mereka sendiri, pengucilan Aung San Suu Kyi adalah rasa takut penguasa Myanmar, dan ah.. banyak lagi.
Seorang Ustadz penah bertutur tentang orang yang telah dapat membebaskan dirinya dari rasa takut. Dalam Islam, adalah orang yang telah menyatukan dirinya dengan Ilahi. Dimana semua peristiwa adalah kehendak-Nya semata, oleh karenanya waktu hilang darinya selain dari ikatan kemanusiaannya saja. Masa lalu, masa depan dan hari ini menyatu dalam genggaman. Ruhnya mensucikan diri dari ikatan waktu dan materi.
Film Matrix mengungkapkan imajinasi tentang keberadaan materi dan kita, tapi tak mampu menjelaskan rahasia kehadiran Yang Tunggal dan Mengawali. Jika materi hanyalah sesuatu yang diproyeksikan ke dalam benak kita, dan waktu adalah eksistensi virtual, maka tak hendak kita lepas dari semua kehendak-Nya. Segalanya adalah Satu. Pembebasan diri dari rasa takut adalah perjalanan kita keluar dari virtualitas, sebuah ketiadaan belaka. Sesungguhnyalah kita tak punya alasan lagi untuk terus menggenggam ketakutan? Inipun adalah pertanyaan yang tak pernah bisa kita jawab sendiri.