Hari ini, jam ini, waktu catatan ini ditulis, di luar jendela mendung gelap dan pekat. Aku belum beranjak dari kursi buat lari pulang. Mereka masih di jalan...., dua orang tercinta, istri dan
jagoan kecilku. Sebentar lagi pasti hujan lebat, gluduk ngomel-ngomel terus dari tadi. Langit seperti 'nggrundel', kilat menyambar sesekali.
Tiap kali hujan deras, tiap kali itu pula Jakarta macet luar biasa. Biasanya beberapa tempat juga banjir. Sepertinya sudah cukup lama pemerintah daerah DKI Jakarta, bicara soal banjir kanal. Jadi sampai hari ini, sebelum rencana itu terwujud, silahkan berenang bagi yang daerahnya kebanjiran.
Di Jakarta ada lebih dari 10 jalur sungai (Metropolitan Tunggang Langgang - Marco K). Tapi semua orang tinggal dengan membelakangi sungai, akibatnya..., semua yang keluar dari -maaf- bagian belakang keseharian mereka menuju ke sungai dengan bebasnya. Orang-orang tak akrab hidup dengan sungai. Sebagaimana pula tak semua orang akrab hidup dengan air. Air bersih untuk memasak dan minum lebih mahal dari seliter minyak tanah. Dan kira-kira tak lebih dari 70% kebutuhan air bersih orang Jakarta yang sanggup dilayani PDAM.
Di luar hujan deras, mendung tebal, suara adzan kalah dengan jerit mobil-mobil yang merayap atau macet. Sering, ketika dirunut semua masalah kembali pada hal-hal yang sepele. Terlalu banyak hal-hal yang tidak bisa ditangani di Jakarta selalu berasal dari hal-hal yang itu-itu juga (tapi ini bukan hal yang sepele). Selebihnya hanya soal teknis atau bahkan waktu saja untuk terjadi. Banjir salah satunya.