Jarak antara kita dengan kematian barangkali adalah beberapa hela nafas atau detak jantung saja. Hidup sebenarnya adalah rapuh sekali. Dalam tempo yang cepat, tubuh kita akan menua, mengeriput dan ketika maut menjemput, dingin dan selesailah segala sesuatu yang menjadi atribut hidup kita. Ketika bumi menyambut kita dengan dingin dan penuh penerimaan, hampir tak ada lagi yang tersisa. Menurut Islam, tinggal tiga perkara saja yang masih terhubung di account kita. Amal materi, amal ilmu dan keturunan yang baik dan shalih (yang tak lepas mendoakan perjalanan kita di dimensi berikutnya). Selesailah semuanya, selesai sudah kesombongan dan kedegilan kita semasa hidup.
Apa yang tersisa kemudian? Barangkali hanya sepenggal kenangan, separuh ilusi, kata seorang penyair. Ya, karena hidup toh juga sesuatu yang kelak retak. Selembar foto, bau keringat, kebiasaan, kebaikan atau juga keburukan saja yang bisa kita andaikan dalam kenangan. Kenangan bisa begitu dalam keberartiannya, ketika terasa manis, seperti sepotong kue peristiwa yang ditaburi gula halus kebaikan, ketulusan dan kasih sayang.
Barangkali adalah warisan harta, sepetak tanah, sebuah gedung, sejumlah nilai di bank, selemari surat berharga dan asuransi jiwa. Tapi hampir tak ada yang sanggup menyelimuti rasa haru sedahsyat kenangan manis. Jika hidup adalah sebuah tanda, maka kematian adalah juga sebuah tanda.
Kematian mengantarkan tanda-tanda sebelum kedatangannya. Seseorang tiba-tiba mendapati di tengah-tengah sebuah kota, seekor burung gagak berkoak-koak. Atau seorang ibu, bermimpi sebuah giginya tercabut dan meninggalkan sakit ketika terbangun, meski giginya masih rapi tak tercabut benar-benar. Tapi terkadang juga kematian melenakan sekian orang pada detik penjemputan. Para penunggu terlena dalam kantuk atau pekerjaan lain, sementara maut datang menjemput yang tercatat namanya dalam buku kematian.
Pada dasarnya manusia adalah baik. Makhluk istimewa yang pernah diciptakan Allah SWT. Ketika seseorang berpamit, selalu ada yang terambil dari kita. Barangkali sekeping kenangan di sudut hati, atau secuil keikhlasan. Bagi seseorang yang pergi, pemberhentian berikutnyalah yang sudah ada di dunianya. Bagi yang ditinggalkan, anehnya, selalu saja yang tersisa adalah sejumlah kebaikan yang sulit kita kumpulkan ketika almarhum masih hidup. Karena hati kita lebih mudah mengenali kebaikan ketika itu, karena itulah kenangan manis lahir, rasa haru menyerbu dan air mata luruh tanpa malu.
Pada bulan Ramadhan, kata Sang Pendoa, tak ada siksa kubur. Allah berkenan memanggil hamba-Nya di bulan Ramadhan, mungkin karena sebuah kebaikan istimewa pernah dilakukan almarhum di masa lalu. Hidup begitu singkat, dan kematian menjadi tandanya. Beruntunglah yang dipanggil-Nya bulan ini. Semoga Allah berkenan dengan kebaikannya, seperti dalam kenangan dan rasa haru kita.
So, touching.
Benar sekali...kata2 itu.
A very strong statement, karena memang begitulah adanya.
Semoga kita diselamatkan di dunia dan di akhirat...