Hanya sebuah batas tipis saja yang memisahkan kehidupan dan kematian. Barangkali orang sering berpikir bahwa kehidupannya adalah segalanya. Dimana seluruh kewajiban yang harus dipikul dan hak atas kenyamanan dan kesenangan harus diletakkan sama. Sebagian berusaha mati-matian melepaskan diri dari beban, sebagian yang lain tak mau melepaskan diri dari kesenangan yang melenakan, sebagian berusaha memahami semuanya, sebagian tak perduli, sebagian bahkan tak mengerti sama sekali dengan apapun yang terjadi.
Orang berusaha mencari teori tentang segala, the theory of everything, mengulik-ngulik semua fenomena dan mencoba menyusun kerangka pemahaman atas semua perilaku dan parameter kehidupan dengan lebih sederhana. Barangkali ada yang hampir sampai kesana, barangkali juga tak akan ada yang bakal sampai kesana. Orang-orang bijak, memilih untuk menerima hidup apa adanya. Tanpa berusaha untuk menyederhanakan, merumitkan atau menyodorkan sebuah kesimpulan atas segala hal. Segalanya justru nampak lebih sederhana.
Muhammad SAW, Gandhi atau orang-orang besar lain, menerima hidup sebagai tanggung jawab atas seluruh manusia. Bahwa keberadaan kita adalah karena keberadaan seluruh umat manusia. Apapun yang kita adalah apapun yang seluruh manusia. Kita adalah bagian dari konstelasi energi kehidupan. Seperti pemahaman semboyan Ubuntu. Saya merasa Yang Maha Mulia, tak butuh penafsiran-penafsiran. Kehidupan adalah seperti kehendakNya. Dan kita adalah bagian dari itu.
I miss some long discussion about life and its filosofic taste behind it.