Monday, April 14. 2008
Linux Desktop? PCLinuxOS
Diantara semua distro linux desktop sudah lama pilihan saya jatuh pada PCLinuxOS. Saya pengguna PCLinuxOS sejak 0.93a, sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu. Dari sejarah penggunaan linux, saya awalnya adalah pemakai Mandrake (nama lama dari Mandriva), hanya karena alasan yang sangat sederhana. Umumnya pengguna awal Linux akan berkenalan dengan distro populer seperti Redhat (sebelum ada Fedora) atau Suse. Itupun terjadi pada saya. Tapi Redhat gagal mengenali soundcard murahan pada komputer desktop saya. Karena kecewa saya mencoba Mandrake, dan Mandrake versi 5 waktu itu dengan cepat dan mudah mengenali semua perangkat desktop saya. Seakan seperti Lindows/Linspire, hanya klik, klik dan jalan (click 'n run). Jadilah saya pengguna Mandrake yang fanatik. Mandrake menggunakan distribusi paket aplikasi .rpm, sehingga saat itu, paket-paket aplikasi Redhat (yang lebih banyak vendor pendukungnya), juga dapat digunakan pada Mandrake.
Sampai suatu saat, tempat saya bekerja memperkenalkan saya pada Debian, dan hanya boleh menggunakan Debian sebagai server, dan desktop pada akhirnya. Mulanya sangat menyebalkan, karena Debian bukan jenis distro yang mudah dikonfigurasi di komputer dekstop. Tapi manajemen paket aplikasi Debian (.deb) dengan apt (Aptitude) sangat luar biasa, menurut saya. Beda dengan Slackware, Redhat atau bahkan Suse (dengan Yast-nya). Debian karena rapi dan mudahnya manajemen paket-nya, membuat instalasi Debian sebagai server tak pernah semudah yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Redhat dan juga Suse, selalu memerlukan desktop grafis-nya (X-Server) untuk instalasi, padahal kita tak membutuhkan X untuk server. Atau Slackware, yang sungguh tidak mudah instalasinya pada saat itu. Debian, dari potato (2.1), woody (3.0), sarge (3.1) sampai etch (4.0) saat ini, masih pilihan distro saya untuk server. Dengan spesifikasi komputer desktop yang cukup saja, hanya dibutuhkan waktu kurang dari 15 menit untuk instalasi Debian. Tetapi Debian juga sangat tergantung pada jaringan. Tanpa koneksi ke internet, Debian memang jadi seperti distro-distro lain, yang instalasinya hanya tergantung pada CD/DVD. Untunglah, tempat saya bekerja pada saat itu, bahkan membuat mirror Debian, jadilah instalasi Debian serasa seperti dalam LAN saja.
Tetapi saya selalu terpesona dengan Mandrake yang kemudian menjelma menjadi Mandriva setelah merger Mandrake dan Connectiva. Mandrake membuat desktop dan konfigurasinya seolah kita tidak sedang di dunia yang lain dan asing sama sekali dari pengguna Linux pemula seperti saya. Lalu datanglah Knoppix, LiveCD hebat pertama yang saya kenal dan diturunkan dari Debian pula! Knoppix adalah pilihan yang wajar untuk LiveCD dan kemudahannya jika diinstalasikan pada hardisk. Lantas bagaimana dengan Mandrake, favorit desktop saya itu? Dimulailah pencarian saya tentang distro-distro yang barangkali diturunkan dari Mandriva.
Mulanya adalah MCNLive. MCNLive adalah distro LiveCD pertama yang saya temukan diturunkan dari Mandriva. MCNLive adalah LiveCD yang ringan dan mudah digunakan karena mirip dengan Mandriva tetapi jalan sebagai LiveCD. Tapi MCNLive memang didesain sebagai LiveCD saja. Tidak untuk bisa dioptimasi sebagai linux desktop terinstalasi. MCNLive juga tidak menyediakan cara penurunan atau remaster langsung dari MCNLive. Pada dasarnya saya adalah penyuka desktop yang cantik dari Mandriva. Jadi saya mencari lagi distro yang paket manajemen-nya semudah dan serapi Debian tapi desktop-nya secantik Mandriva. Sampai akhirnya saya bertemu dengan PCLinuxOS.
PCLinuxOS
PCLinuxOS benar-benar distro yang penuh harapan, sejak dari awal saya mengenalnya. PCLinuxOS menggabungkan kemudahan instalasi dan manajemen paket software Debian sekaligus kekayaan aplikasi desktop pada mirror-nya. Model distribusi yang digunakan adalah LiveCD. Tidak seperti Debian yang harus diinstalasikan ketika kita ingin tahu isinya atau Knoppix yang sekali diinstall ke hardisk agak repot jika ingin kita perlakukan seperti Debian dimana kita bisa update dan install paket-paket terbaru langsung dari server-server mirror-nya, PCLinuxOS menggunakan paket .rpm (khas Mandriva) untuk aplikasinya tetapi menggunakan cara distribusi paket Debian (apt). Meski sekarang Ubuntu dan OpenSuse sebagai desktop juga tidak kalah bagus, tetapi sekali lagi, PCLinuxOS tidak pernah mengecewakan saya. Ini adalah pilihan wajar dan paling tepat bagi saya. Kenapa? Suatu saat saya mencoba memperkenalkan notebook saya dengan Ubuntu. Sayang sekali Ubuntu tidak terinstalasi dengan baik, tidak mengenali banyak perangkat di notebook saya dan beberapa hal lagi yang mengecewakan. Mungkin notebook itu juga sudah tidak terbilang muda lagi, sayang sekali Ubuntu hanya mau dengan daun-daun muda saja
PCLinuxOS sudah cukup matang sejak PCLinuxOS 2007. Texstar sudah membuatnya demikian gemilang, cantik, kompak dan mudah distribusinya. Saya telah menggunakannya sebagai distro utama desktop saya. Kemudahan ini dibarengi dengan adanya mirror-mirror baru PCLinuxOS di Indonesia.
Instalasi
Proses intalasi PCLinuxOS relatif mudah dan cepat. Karena dimulai dari LiveCD, setidaknya kita jadi punya kesempatan dulu untuk review atau merencanakan seperti apa desktop yang akan kita inginkan. Lamanya waktu instalasi tergantung pada jenis PCLinuxOS yang akan kita gunakan. Saat ini, dari Texstar tersedia PClinuxOS 2007 dengan basis desktop KDE yang gemuk dan lengkap. Kemudian muncul juga TinyFlux, yaitu PClinuxOS yang ringan dan supercepat instalasinya karena menggunakan basis desktop FluxBox. Kemudian untuk para penggemar desktop GNOME, juga telah tersedia PClinuxOS Gnome 2008.
Saya sudah merasa nyaman dengan PCLinuxOS 2007 yang selalu saya update. Sampai pada awal 2008 ketika hardisk saya crash, datanglah kesempatan untuk mencoba TinyFlux, karena saya butuh instalasi cepat dan mudah, untuk bisa segera dekstop-nya saya gunakan bekerja kembali. Notebook saya sudah cukup tua, tapi TinyFlux terinstalasi dalam waktu kurang dari 15 menit. Saya sudah langsung bisa bekerja dengan webmail, sementara saya lanjutkan instalasi dengan OpenOffice.
Meski cukup puas dengan Fluxbox yang sederhana, minimalis, dan karenanya cepat. Saya merasa selalu ingin kembali ke KDE. Tidak ada yang salah dengan Fluxbox. Jika anda suka desktop yang bersih, tidak meriah, sederhana, tapi cepat loading-nya pakailah Fluxbox, Tapi jika anda suka desktop yang mudah dikonfigurasi, menu-menu yang akrab, tampilah yang indah dan cantik, apalagi jika ditambah dengan Compiz dan Karamba, maka KDE mungkin bisa anda pertimbangkan selain GNOME.
Akhirnya saya kembali ke KDE dengan PClinuxOS Minime. Instalasi hanya perlu waktu kurang dari 30 menit. Langsung jadi, langsung jalan dan langsung pakai. Saya hanya perlu menambahkan paket-paket yang saya perlukan, seperti bluetooth, Openoffice. Bahkan ternyata April ini, pada reporsitory mirror PCLinuxOS juga sudah tersedia Firefox 3 Beta 4.
Backup PCLinuxOS
Install ulang hampir tidak diperlukan di dunia Linux, kecuali anda ganti distro, atau bahkan instalasi Sistem Operasi lain (Windows atau Linux distro lain) dalam PC/Notebook kita, tidak diperlukan install ulang. Boot Manager bisa di reinstall tanpa harus install ulang seluruh OS-nya. PCLinuxOS pun begitu, ditambah lagi kemudahan remastering-nya bisa dimanfaatkan sebagai backup model desktop kita. Seperti apa?
PCLinuxOS menggunakan model distribusi LiveCD, tetapi dapat diinstalasikan pada hardisk. Setelah terinstalasi, desktop tersebut dapat dipergunakan layaknya desktop-desktop linux yang lain. Kemudian kita dapat menambahkan, mengurangi, mengubah konfigurasi desktop dan aplikasi terpasang, sesuai kebutuhan kita.
Setelah kongurasi dan desktop yang kita inginkan selesai, kita dapat membuat remaster-nya, yaitu membuat livecd dengan isi dan konfigurasi desktop seperti yang saat itu sudah terinstall pada hardisk PC kita. Berbeda dengan Knoppix yang sedikit lebih panjang prosedurnya, PCLinuxOS, benar-benar menyediakan prosedur instan untuk remaster-nya.
Pada dasarnya adalah script remaster "mklivecd" atau "remasterme". Kita hanya perlu menyiapkan ruang hardisk yang cukup untuk tempat file iso hasil remaster, dan kemudian melakukannya sebagai root. Hasilnya adalah PCLinuxOS LiveCd tetapi dengan password, konfigurasi dan isi aplikasi persis seperti pada desktop dimana remaster iso tersebut.
Cara inilah yang saya pakai sebagai cara backup kasar. Kita dapat mengulang-ulang prosedur remaster jika memang masih ada konfigurasi atau aplikasi yang perlu kita tambahkan. Biasanya setelah instalasi standar KDE yang memakan tempat sekitar 600 Mb, dan saya sesuaikan dengan kebutuhan saya pribadi, termasuk OpenOffice yang gemuk dan beberapa paket aplikasi untuk pengembangan perangkat lunak, total tempat di hardisk yang saya butuhkan mencapai lebih dari 1 Gb. Akibatnya dibutuhkan DVD untuk backup-nya. ISO hasil remaster sebelum kita bakar ke DVD/CD, dapat kita periksa dulu dengan menjalankannya diatas emulator Qemu. Qemu dapat dipakai untuk menguji apakah ISO yang dihasilkan kira-kira sudah seperti hasil yang kita inginkan.
Jadi jika ada distro baru yang menarik lainnya, yang kebetulan tidak dalam bentuk LiveCD, kita dapat mencoba menginstalasikannya ke PCLinuxOS desktop kita, setelah kita backup lebih dulu dengan remaster desktop sebagai LiveCD.
Kesimpulan
PCLinuxOS memenuhi ktiteria standar saya untuk menjadi desktop pilihan, yaitu:
Anda dapat menambahkan dua baris diatas pada /etc/apt/sources.list PCLinuxOS anda. Seluruh cara penggunaan Aptitude sama seperti pada Debian. Jika kita masih kagok di command-line, maka kita masih dapat menggunakan Synaptic GUI. Untuk desktop Linux, menurut pendapat saya PCLinuxOS mengalahkan OpenSuse dan Ubuntu/Kubuntu terutama dalam hal kemudahan.
Tetapi saya selalu terpesona dengan Mandrake yang kemudian menjelma menjadi Mandriva setelah merger Mandrake dan Connectiva. Mandrake membuat desktop dan konfigurasinya seolah kita tidak sedang di dunia yang lain dan asing sama sekali dari pengguna Linux pemula seperti saya. Lalu datanglah Knoppix, LiveCD hebat pertama yang saya kenal dan diturunkan dari Debian pula! Knoppix adalah pilihan yang wajar untuk LiveCD dan kemudahannya jika diinstalasikan pada hardisk. Lantas bagaimana dengan Mandrake, favorit desktop saya itu? Dimulailah pencarian saya tentang distro-distro yang barangkali diturunkan dari Mandriva.
Mulanya adalah MCNLive. MCNLive adalah distro LiveCD pertama yang saya temukan diturunkan dari Mandriva. MCNLive adalah LiveCD yang ringan dan mudah digunakan karena mirip dengan Mandriva tetapi jalan sebagai LiveCD. Tapi MCNLive memang didesain sebagai LiveCD saja. Tidak untuk bisa dioptimasi sebagai linux desktop terinstalasi. MCNLive juga tidak menyediakan cara penurunan atau remaster langsung dari MCNLive. Pada dasarnya saya adalah penyuka desktop yang cantik dari Mandriva. Jadi saya mencari lagi distro yang paket manajemen-nya semudah dan serapi Debian tapi desktop-nya secantik Mandriva. Sampai akhirnya saya bertemu dengan PCLinuxOS.
PCLinuxOS
PCLinuxOS benar-benar distro yang penuh harapan, sejak dari awal saya mengenalnya. PCLinuxOS menggabungkan kemudahan instalasi dan manajemen paket software Debian sekaligus kekayaan aplikasi desktop pada mirror-nya. Model distribusi yang digunakan adalah LiveCD. Tidak seperti Debian yang harus diinstalasikan ketika kita ingin tahu isinya atau Knoppix yang sekali diinstall ke hardisk agak repot jika ingin kita perlakukan seperti Debian dimana kita bisa update dan install paket-paket terbaru langsung dari server-server mirror-nya, PCLinuxOS menggunakan paket .rpm (khas Mandriva) untuk aplikasinya tetapi menggunakan cara distribusi paket Debian (apt). Meski sekarang Ubuntu dan OpenSuse sebagai desktop juga tidak kalah bagus, tetapi sekali lagi, PCLinuxOS tidak pernah mengecewakan saya. Ini adalah pilihan wajar dan paling tepat bagi saya. Kenapa? Suatu saat saya mencoba memperkenalkan notebook saya dengan Ubuntu. Sayang sekali Ubuntu tidak terinstalasi dengan baik, tidak mengenali banyak perangkat di notebook saya dan beberapa hal lagi yang mengecewakan. Mungkin notebook itu juga sudah tidak terbilang muda lagi, sayang sekali Ubuntu hanya mau dengan daun-daun muda saja
PCLinuxOS sudah cukup matang sejak PCLinuxOS 2007. Texstar sudah membuatnya demikian gemilang, cantik, kompak dan mudah distribusinya. Saya telah menggunakannya sebagai distro utama desktop saya. Kemudahan ini dibarengi dengan adanya mirror-mirror baru PCLinuxOS di Indonesia.
Instalasi
Proses intalasi PCLinuxOS relatif mudah dan cepat. Karena dimulai dari LiveCD, setidaknya kita jadi punya kesempatan dulu untuk review atau merencanakan seperti apa desktop yang akan kita inginkan. Lamanya waktu instalasi tergantung pada jenis PCLinuxOS yang akan kita gunakan. Saat ini, dari Texstar tersedia PClinuxOS 2007 dengan basis desktop KDE yang gemuk dan lengkap. Kemudian muncul juga TinyFlux, yaitu PClinuxOS yang ringan dan supercepat instalasinya karena menggunakan basis desktop FluxBox. Kemudian untuk para penggemar desktop GNOME, juga telah tersedia PClinuxOS Gnome 2008.
Saya sudah merasa nyaman dengan PCLinuxOS 2007 yang selalu saya update. Sampai pada awal 2008 ketika hardisk saya crash, datanglah kesempatan untuk mencoba TinyFlux, karena saya butuh instalasi cepat dan mudah, untuk bisa segera dekstop-nya saya gunakan bekerja kembali. Notebook saya sudah cukup tua, tapi TinyFlux terinstalasi dalam waktu kurang dari 15 menit. Saya sudah langsung bisa bekerja dengan webmail, sementara saya lanjutkan instalasi dengan OpenOffice.
Meski cukup puas dengan Fluxbox yang sederhana, minimalis, dan karenanya cepat. Saya merasa selalu ingin kembali ke KDE. Tidak ada yang salah dengan Fluxbox. Jika anda suka desktop yang bersih, tidak meriah, sederhana, tapi cepat loading-nya pakailah Fluxbox, Tapi jika anda suka desktop yang mudah dikonfigurasi, menu-menu yang akrab, tampilah yang indah dan cantik, apalagi jika ditambah dengan Compiz dan Karamba, maka KDE mungkin bisa anda pertimbangkan selain GNOME.
Akhirnya saya kembali ke KDE dengan PClinuxOS Minime. Instalasi hanya perlu waktu kurang dari 30 menit. Langsung jadi, langsung jalan dan langsung pakai. Saya hanya perlu menambahkan paket-paket yang saya perlukan, seperti bluetooth, Openoffice. Bahkan ternyata April ini, pada reporsitory mirror PCLinuxOS juga sudah tersedia Firefox 3 Beta 4.
Backup PCLinuxOS
Install ulang hampir tidak diperlukan di dunia Linux, kecuali anda ganti distro, atau bahkan instalasi Sistem Operasi lain (Windows atau Linux distro lain) dalam PC/Notebook kita, tidak diperlukan install ulang. Boot Manager bisa di reinstall tanpa harus install ulang seluruh OS-nya. PCLinuxOS pun begitu, ditambah lagi kemudahan remastering-nya bisa dimanfaatkan sebagai backup model desktop kita. Seperti apa?
PCLinuxOS menggunakan model distribusi LiveCD, tetapi dapat diinstalasikan pada hardisk. Setelah terinstalasi, desktop tersebut dapat dipergunakan layaknya desktop-desktop linux yang lain. Kemudian kita dapat menambahkan, mengurangi, mengubah konfigurasi desktop dan aplikasi terpasang, sesuai kebutuhan kita.
Setelah kongurasi dan desktop yang kita inginkan selesai, kita dapat membuat remaster-nya, yaitu membuat livecd dengan isi dan konfigurasi desktop seperti yang saat itu sudah terinstall pada hardisk PC kita. Berbeda dengan Knoppix yang sedikit lebih panjang prosedurnya, PCLinuxOS, benar-benar menyediakan prosedur instan untuk remaster-nya.
Pada dasarnya adalah script remaster "mklivecd" atau "remasterme". Kita hanya perlu menyiapkan ruang hardisk yang cukup untuk tempat file iso hasil remaster, dan kemudian melakukannya sebagai root. Hasilnya adalah PCLinuxOS LiveCd tetapi dengan password, konfigurasi dan isi aplikasi persis seperti pada desktop dimana remaster iso tersebut.
Cara inilah yang saya pakai sebagai cara backup kasar. Kita dapat mengulang-ulang prosedur remaster jika memang masih ada konfigurasi atau aplikasi yang perlu kita tambahkan. Biasanya setelah instalasi standar KDE yang memakan tempat sekitar 600 Mb, dan saya sesuaikan dengan kebutuhan saya pribadi, termasuk OpenOffice yang gemuk dan beberapa paket aplikasi untuk pengembangan perangkat lunak, total tempat di hardisk yang saya butuhkan mencapai lebih dari 1 Gb. Akibatnya dibutuhkan DVD untuk backup-nya. ISO hasil remaster sebelum kita bakar ke DVD/CD, dapat kita periksa dulu dengan menjalankannya diatas emulator Qemu. Qemu dapat dipakai untuk menguji apakah ISO yang dihasilkan kira-kira sudah seperti hasil yang kita inginkan.
Jadi jika ada distro baru yang menarik lainnya, yang kebetulan tidak dalam bentuk LiveCD, kita dapat mencoba menginstalasikannya ke PCLinuxOS desktop kita, setelah kita backup lebih dulu dengan remaster desktop sebagai LiveCD.
Kesimpulan
PCLinuxOS memenuhi ktiteria standar saya untuk menjadi desktop pilihan, yaitu:
- Instalasi mudah dan cepat, karena dimulai dari LiveCD
- Desktop KDE yang tidak rumit tapi tetap cantik
- Manajemen paket yang rapi dan kaya
- Dukungan perangkat (device) driver-nya bagus, sejauh pengalaman saya kecuali Winmodem, hampir tidak ada device driver yang tidak dikenali.
- Dapat dimanfaatkan sebagai desktop backup model.
- Sudah mendukung distribusi USBLive, jadi dapat dijalankan dari USB Flash!
- Ada mirror server-nya di Indonesia, setidaknya saya sudah menemukan 2 mirror yang bisa saya gunakan untuk update paket-paket aplikasi PCLinuxOS:
rpm http://kambing.vlsm.org/pclinuxos/apt/ pclinuxos/2007 main extra nonfree kde sam
rpm http://dl2.foss-id.web.id/pclinuxos/ pclinuxos/2007 main extra nonfree kde sam
Anda dapat menambahkan dua baris diatas pada /etc/apt/sources.list PCLinuxOS anda. Seluruh cara penggunaan Aptitude sama seperti pada Debian. Jika kita masih kagok di command-line, maka kita masih dapat menggunakan Synaptic GUI. Untuk desktop Linux, menurut pendapat saya PCLinuxOS mengalahkan OpenSuse dan Ubuntu/Kubuntu terutama dalam hal kemudahan.
Posted by Meta Nurwidyanto
in Linux
at
16:04
| Comments (5)
| Trackbacks (0)
View as PDF: This entry | This month | Full blog
View as PDF: This entry | This month | Full blog


Melihat booting interfacenya, saya sangat terpesona, keren abis! Dan saking penasarannya, saya terus mengikuti proses bootingnya, hingga sampailah saya pada desktopnya. Dari CD udah bisa dipake ke komputer kita tanpa harus diinstall. Hingga kini, tuh CD masih aku simpan, dan aku gunakan kalo ada hardisk atau FDisk teman yang kena virus boot master Windows, yg susah dihapus pakai anti virus. Kenapa? Rupanya, apabila kita menggunakan OS Linux untuk mengecek file Windows yang bervirus, secara manual, virus itu bisa kita singkirkan lewat Linux, tanpa takut sistem utama komputer kita tertular!
Thank's to Linux, karena selamatkan data WIndows saya.
ini awal yang baik bagi persahabatan, saya masih membutuhkan anda selanjutnya.
terima kasih