Friday, July 1. 2005
Linux LiveCD
Barangkali beberapa orang justru tak suka dengan serbuan pilihan. Itu terjadi pada Linux, distribusi Linux tersedia banyak sekali. Ada banyak cara memperoleh Linux, dari beli (untuk yang komersial), download atau sekedar mengganti ongkos salin CD.
Pada perkembangan selanjutnya, orang mestinya sudah tak lagi bicara fanatik tentang distro (sebutan seksi untuk distribusi Linux). Pilihan tetap penting, karena pada dasarnya orang harus tetap memilih dan punya pertimbangan dengan pilihannya. Linux juga datang dengan pilihan, segudang pilihan.
Setelah datang pilihan cara mendapatkanya, lalu pilihan distribusinya dalam hubungan dengan bagaimana cara pemaketan aplikasi atau perangkat lunak lain di dalamnya. Kali ini mestinya Linux jauh lebih unggul daripada sistem operasi lain, seperti windows/os2/macosx.
Jika 5 tahun lalu orang masih banyak terbentur dengan instalasi Linux yang sulit, dukungan perangkat keras yang kurang, maka itu tak lagi terjadi sekarang. Dukungan semakin banyak, dan yang paling patut dicatat adalah kehadiran Linux LiveCD. Model distribusi Linux LiveCD ini adalah inovasi penting yang memperluas kehadiran dan penetrasi Linux di pengguna komputer Intel.
Saya pikir pertimbangan pilihan sekarang sudah tak lagi distro, mestinya. LiveCD memungkinan pemaketan Linux dengan cara yang paling seksi. Linux LiveCD memungkinkan kita mencoba lebih dahulu Linux tertentu pada komposisi perangkat keras yang kita punya. Ada seorang yang pernah menulis untuk tidak menginstalasikan Linux LiveCD pada harddisk. Karena pada dasarnya LiveCD tidak didesain untuk itu. Ayolah..., coba misal PCLinuxOS, distro ini menggabungkan kemudahan Debian dalam pemaketan, penampilan Mandriva dan gaya LiveCD. Bukankah selalu ada yang bisa dimanfaatkan dari kemudahan seperti itu? Jadi instalasi pada hardisk juga sebuah pilihan yang lain. Kemudian PCLinuxOS bisa jadi tak lagi seperti standar awalnya, tapi sudah ditambah, dikurangi, diubah komposisi dalamnya atau bahkan dipaket ulang dengan nama baru. Sekali lagi, distro menjadi tak penting lagi.
Tapi cobalah kita berpikir dari seorang pemula seperti saya, misalnya. Komputasi yang saya butuhkan mungkin awalnya hanyalah komputasi dekstop. Memilih distro biasa, berarti ada prosedur instalasi yang harus saya lakukan. Menurut hemat saya, tidak pas jika menerapkan RTFM dengan keterbatasan sumber daya seperti kita. Tak semua orang di Indonesia punya kemewahan koneksi internet pita lebar. Jadi menyarankan orang untuk mencari semua petunjuk atau dokumentasi tentang Linux di internet amat tak bijak.
Pemerintah Brazil dalam rangka mensponsori Linux dan perangkat lunak 'sumber-terbuka', mendistribusikan Linux terinstalasi pada komputer-komputer di sekolah-sekolah dan mencetak jutaan cd linux gratis bersamanya. Saya jadi geli sendiri mengingat pemerintah Indonesia yang sudah mencanangkan IGOS (Indonesia Goes Open Source), justru menggandeng produsen Sistem Operasi komersial sebagai konsultan HAKI. Bukankah ini sangat menggelikan? Nuansa-nya bukan politis atau ekonomis, tapi selalu hal-hal yang itu: kemalasan, kebodohan dan kerakusan.
Distribusi Linux dengan LiveCD seharusnya cukup layak untuk dipertimbangkan. Linux LiveCD bisa dipaket sebagai apapun yang paling mungkin dibutuhkan, dengan banyak penyesuaian dan pilihan aplikasi yang paling umum sampai yang khusus. Saya pikir komunitas pengguna Linux dapat membantu jika pemerintah punya kemauan untuk mensponsorinya seperti yang dilakukan pemerintah Brazil. Dalam beberapa hal kelihatannya Brazil yang sama melaratnya seperti Indonesia, pemerintahnya sudah beberapa langkah ke depan untuk soal ini.
Ketersediaan sumberdaya menjadi tak soal lagi, jika ada distro yang sudah hadir dengan segudang aplikasi penting, tapi ada pula distro yang hanya berisi aplikasi-aplikasi untuk kebutuhan standar komputasi dekstop. Seandainya Linux LiveCD bisa didapatkan mudah, penyalinan dan pemaketan ulang (remastering)-nya bisa dipelajari segera, maka berapa biaya banyak yang bisa ditekan dari pengadaan komputasi untuk sekolah-sekolah.
Perang terhadap pembajakan, tidak cukup jika hanya dari pendekatan hukum, tapi mencari alternatif penyediaan pilihan juga perlu dipikirkan. Tapi sebagaimana biasa, rakyat Indonesia memang tak perlu terlalu tergantung dari pemerintah. Jika dulu para pemuda yang ngotot menyatakan kemerdekaan tanpa BPUPKI atau PPKI, maka kali ini tidak perlu ngotot memaksa Departemen Kominfo untuk memikirkan hal ini. Para pejabat sudah cukup berat bebannya, memikirkan korupsi dan bagaimana berkolusi atau mencuci uang haramnya
Gerakan distribusi ini perlu pengetahuan teknis yang cukup tentang Linux, dan tentu saja kemauan dan semangat tinggi. 
Setelah datang pilihan cara mendapatkanya, lalu pilihan distribusinya dalam hubungan dengan bagaimana cara pemaketan aplikasi atau perangkat lunak lain di dalamnya. Kali ini mestinya Linux jauh lebih unggul daripada sistem operasi lain, seperti windows/os2/macosx.
Jika 5 tahun lalu orang masih banyak terbentur dengan instalasi Linux yang sulit, dukungan perangkat keras yang kurang, maka itu tak lagi terjadi sekarang. Dukungan semakin banyak, dan yang paling patut dicatat adalah kehadiran Linux LiveCD. Model distribusi Linux LiveCD ini adalah inovasi penting yang memperluas kehadiran dan penetrasi Linux di pengguna komputer Intel.
Saya pikir pertimbangan pilihan sekarang sudah tak lagi distro, mestinya. LiveCD memungkinan pemaketan Linux dengan cara yang paling seksi. Linux LiveCD memungkinkan kita mencoba lebih dahulu Linux tertentu pada komposisi perangkat keras yang kita punya. Ada seorang yang pernah menulis untuk tidak menginstalasikan Linux LiveCD pada harddisk. Karena pada dasarnya LiveCD tidak didesain untuk itu. Ayolah..., coba misal PCLinuxOS, distro ini menggabungkan kemudahan Debian dalam pemaketan, penampilan Mandriva dan gaya LiveCD. Bukankah selalu ada yang bisa dimanfaatkan dari kemudahan seperti itu? Jadi instalasi pada hardisk juga sebuah pilihan yang lain. Kemudian PCLinuxOS bisa jadi tak lagi seperti standar awalnya, tapi sudah ditambah, dikurangi, diubah komposisi dalamnya atau bahkan dipaket ulang dengan nama baru. Sekali lagi, distro menjadi tak penting lagi.
Tapi cobalah kita berpikir dari seorang pemula seperti saya, misalnya. Komputasi yang saya butuhkan mungkin awalnya hanyalah komputasi dekstop. Memilih distro biasa, berarti ada prosedur instalasi yang harus saya lakukan. Menurut hemat saya, tidak pas jika menerapkan RTFM dengan keterbatasan sumber daya seperti kita. Tak semua orang di Indonesia punya kemewahan koneksi internet pita lebar. Jadi menyarankan orang untuk mencari semua petunjuk atau dokumentasi tentang Linux di internet amat tak bijak.
Pemerintah Brazil dalam rangka mensponsori Linux dan perangkat lunak 'sumber-terbuka', mendistribusikan Linux terinstalasi pada komputer-komputer di sekolah-sekolah dan mencetak jutaan cd linux gratis bersamanya. Saya jadi geli sendiri mengingat pemerintah Indonesia yang sudah mencanangkan IGOS (Indonesia Goes Open Source), justru menggandeng produsen Sistem Operasi komersial sebagai konsultan HAKI. Bukankah ini sangat menggelikan? Nuansa-nya bukan politis atau ekonomis, tapi selalu hal-hal yang itu: kemalasan, kebodohan dan kerakusan.
Distribusi Linux dengan LiveCD seharusnya cukup layak untuk dipertimbangkan. Linux LiveCD bisa dipaket sebagai apapun yang paling mungkin dibutuhkan, dengan banyak penyesuaian dan pilihan aplikasi yang paling umum sampai yang khusus. Saya pikir komunitas pengguna Linux dapat membantu jika pemerintah punya kemauan untuk mensponsorinya seperti yang dilakukan pemerintah Brazil. Dalam beberapa hal kelihatannya Brazil yang sama melaratnya seperti Indonesia, pemerintahnya sudah beberapa langkah ke depan untuk soal ini.
Ketersediaan sumberdaya menjadi tak soal lagi, jika ada distro yang sudah hadir dengan segudang aplikasi penting, tapi ada pula distro yang hanya berisi aplikasi-aplikasi untuk kebutuhan standar komputasi dekstop. Seandainya Linux LiveCD bisa didapatkan mudah, penyalinan dan pemaketan ulang (remastering)-nya bisa dipelajari segera, maka berapa biaya banyak yang bisa ditekan dari pengadaan komputasi untuk sekolah-sekolah.
Perang terhadap pembajakan, tidak cukup jika hanya dari pendekatan hukum, tapi mencari alternatif penyediaan pilihan juga perlu dipikirkan. Tapi sebagaimana biasa, rakyat Indonesia memang tak perlu terlalu tergantung dari pemerintah. Jika dulu para pemuda yang ngotot menyatakan kemerdekaan tanpa BPUPKI atau PPKI, maka kali ini tidak perlu ngotot memaksa Departemen Kominfo untuk memikirkan hal ini. Para pejabat sudah cukup berat bebannya, memikirkan korupsi dan bagaimana berkolusi atau mencuci uang haramnya
Posted by Meta Nurwidyanto
in Linux
at
11:25
| Comments (0)
| Trackbacks (0)
View as PDF: This entry | This month | Full blog
View as PDF: This entry | This month | Full blog
Trackbacks
Trackback specific URI for this entry
No Trackbacks

