Menyebut kata Ibu, selalu membangkitkan rasa haru bagi saya. Tiap orang punya deskripsinya sendiri tentang kehadiran ibu. Meskipun sama, perayaan hari ibu di Indonesia sebenarnya punya semangat yang berbeda dengan mother's day di negara lain. Hari ibu di Indonesia lebih kepada hari perempuan. Ibu tidak didudukkan dalam belenggu peran mulia ibu rumah tangga, tapi peran yang lebih aktual lagi dalam lahirnya sebuah bangsa.
Ada negeri yang menyebutnya
Vaterland, kita menyebutnya Tanah Air atau Tanah Tumpah Darah tapi lebih mesra dan dalam ketika kita menyebutnya Ibu Pertiwi. Kata Ibu menimbulkan asosiasi kedekatan dan kasih sayang.
Ibu dalam ranah Islam begitu istimewa, karena Muhammad SAW meletakkan posisi ibu demikian tingginya. Padahal sebagaimana kita tahu Muhammad sudah ditinggalkan ibunya semasa kecil. Jadi kenangannya tentang Ibu adalah kenangan kanak-kanak yang naif. Jadi pasti Allah juga yang menuntun pemuliaan Muhammad terhadap Ibu. Dalam ranah Kristen, kita tahu pasti kedudukan Bunda Maria atas Isa Almasih, sebagaimana juga diajarkan dalam Islam tentang kemuliaan Maria, Ibunda Isa As.
Ibu,menjadi terlalu istimewa ketika dihubungkan dalam urusan kasih sayang. Setelah pertempuran berdarah dengan taruhan nyawa ketika melahirkan kita, kemudian yang tak kalah serunya adalah membesarkan kita. Ada sesuatu yang barangkali kita kurang menyadarinya, tentang wujud dan perjalanan cinta ibu kepada kita.
Pada hakekatnya semua cinta akan mengarah ke penyatuan. Cinta kita kepada Allah menuntut penyerahan total, kelak kita pun akan kembali pada-Nya, entah sebagai apa: sebagai eksistensi yang lain, sebagai citra-Nya lagi atau entah apa lagi. Kita tak bertanya, kita tak berhak tahu, hanya kepasrahan yang diperlukan, zonder tanya.
Cinta kita kepada pasangan kita akan membuat keinginan alamiah untuk bersatu. Menyatukan diri kita dengan pasangan kita secara fisik dan batin, sesegera mungkin untuk selamanya: demikian cita-cita normalnya

Cinta kita pada seseorang selain menuntut penyatuan juga ganas, sering melenakan dan liar. Agama dengan bijak telah membuat batas agar cinta yang demikian tak meluap-luap menenggelamkan dunia di sekitarnya.
Tapi cinta ibu lain, dimulai dari rasa aneh pada fisik, rasa gembira membayangkan kehadiran makhluk baru, kesengsaraan fisik dan batin selama 9 bulan, seorang Ibu melimpahkan kasih sayangnya, untuk tahu bahwa yang semula bersatu dengannya akan lahir, berpisah dari tubuhnya. Ibu juga tahu jika beliau membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang dan perhatian senantiasa, pada suatu hari nanti si anak tetap akan pergi juga, untuk menjemput takdirnya sendiri. Itu sudah ketentuan Tuhan, sunatullah. Yang aneh tapi alami adalah seorang ibu justru bahagia ketika melihat anak-anaknya beranjak memisahkan diri darinya, dan menjadi manusia mandiri. Meski ada tapi jarang ibu yang kemudian menggantungkan diri pada anak-anaknya. Kalau pun ada, anak yang berbakti selalu akan bersedia menanggung ibunya justru karena dia akan lebih berkelimpahan lagi dengan kasih sayang ibunda. Dan itu sudah cukup.
Ibu adalah sebentuk kemuliaan Tuhan yang menjelma. Kita tak tahu dengan soal Ibu yang kejam dan aneh terhadap anak-anaknya. Tapi Ibu dalam wujud alaminya adalah bumi yang damai. Yang selalu siap menerima apapun yang kita lakukan dan bahkan sering bersedia ikut menanggung beban kita tanpa kita minta.
Menyebut ibu selalu membangkitkan rasa haru.