Barangkali sebelumnya kita sudah pernah mengenal integrasi halaman web dengan desktop. Bertahun lalu di jaman Netscape, kita bahkan sudah mengenal Active Desktop. Active Desktop pada dasarnya adalah membuat desktop kita menjadi halaman web sepenuhnya. Rapid Application Development seperti Visual Basic, Delphi atau Visual C dapat membangun sendiri aplikasi desktop dengan menggunakan engine Internet Explorer. Hal ini masih memerlukan programming skill pada lingkungan bahasa tersebut. Tapi 2007 Mozilla muncul dengan Prism, yang membawa halaman web menjadi aplikasi desktop secara instan. Tahun 2008 Google muncul dengan browser Google Chrome dengan kemampuan yang sama.
Saturday, February 7. 2009
Mozilla Prism vs. Google Chrome Application vs Opera Widget
Mozilla Prism
Prism sebelumnya disebut Mozilla Webrunner dimana Mozilla Firefox dengan url tertentu ditangkap dan dijadikan aplikasi desktop secara instan, tanpa proses dan prosedur yang rumit. Perkembangan halaman web di situs-situs kontemporer semakin lanjut dan pesat. Secara teknis, hampir tidak diperlukan lagi menu, toolbar, dan tombol-tombol navigasi standar sebuah browser.
Sebuah situs modern seperti sudah memilki navigasinya sendiri. Bahkan situs-situs tersebut juga menyediakan tombol/taut untuk kembali ke halaman sebelumnya, ke halaman induknya, atau ke halaman lain di dalam situs. Era Web 2.0 membawa halaman web menjadi lebih kaya dengan Flash, DHTML, CSS tingkat lanjut dan AJAX. Hal inilah yang membuat proyek Prism dari Mozilla Labs terus berkembang. Prism tersedia di Windows, Linux dan OSX. Normalnya ada banyak perbedaan karakter lingkungan desktop Windows, Linux ataupun OSX, tapi Mozilla Prism membuat lingkungan yang berbeda tersebut tidak beda dengan bagaimana Firefox tersedia di desktop Windows, Gnome/KDE di Linux atau OSX.
Zimbra bahkan telah mengemas aplikasi desktop mail-nya berbasis Mozilla Prism. Zimbra Desktop pada dasarnya adalah tukang ambil email-email kita di POP3, IMAP, Yahoo, Gmail, Hotmail dll, dan menyajikannya ke desktop sebagai aplikasi Prism dengan antarmuka AJAX.
Google Chrome
Meski sudah diramalkan jauh hari sebelumnya, Google Chrome tetap menggebrak dominasi IE dan Firefox di dunia browser. Posisinya bahkan langsung menyodok pemain lama seperti Opera. Google Chrome yang hanya hadir di Windows bahkan langsung menyediakan kemampuan konversi situs web ke aplikasi desktop. Dari Menu Control > Create Application Shortcut.
Chrome mengesankan karena kecepatannya. Tapi untuk bersaing di perang IE vs Firefox rasanya Chrome masih jauh dari siap. Bahkan Opera tak tinggal diam karena sudah memainkan inovasi di medan lain seperti PDA dan Ponsel berkemampuan Java. Firefox sudah jauh lebih matang, plugin lebih kaya dan punya fitur-fitur menarik dari plugin-plugin populernya seperti adblock, firebug, prism dll. Di Chrome saya masih harus menggunakan TOR atau Privoxy untuk sekedar memblokade banner atau konten-konten yang tidak saya inginkan dari url tertentu. TOR atau Privoxy adalah personal proxy yang diberdayakan menjadi tukang blokir konten, ketika saya berselancar di internet menggunakan Chrome.
Opera Widget
Opera menggunakan terminologi yang berbeda, yaitu widget. Opera di sudah menyediakan banyak widget siap pakai. Tetapi kita bisa membuat sendiri widget dengan cara yang sudah disediakan oleh Opera. Hal ini sangat menarik, terutama jika ingin mengimpor aplikasi internet. Opera menggunakan istilah widgetize untuk proses impor aplikasi web ke desktop. Selanjutnya aplikasi-aplikasi tersebut dapat dieksekusi di desktop, mobile device atau ditempel di blog.
Pendekatan yang digunakan Opera sedikit berbeda daripada Chrome dan Prism. Widget-widget Opera tidak dapat dipisahkan dari Opera dalam keadaan tereksekusi. Tetapi tersedia Opera Widget SDK yang membuat widget dapat dikembangkan lebih jauh lagi dengan kustomisasi yang berbeda dari aplikasi internetnya. Misal widget untuk Facebook, Game Online dll. Opera menyediakan perangkat pengembangan dalam kontainer Opera Browser, widget-widget ini dapat dikembangkan oleh komunitas, tetapi cara instan juga tersedia dengan widgetize di situs widget opera.
Kesimpulan
Active Desktop adalah masa lalu. Saya pun heran, mengapa Microsoft seolah berhenti mengembangkan browser-nya setelah menghabisi Netscape akhir Millenium lalu. Yang patut dibicarakan tentang web ke desktop secara instan adalah Mozilla Prism dan Chrome sendiri. Ada perbedaan besar dari hasil konversinya. Pada Google Chrome, konversi itu hanya mengubah penampilan standar Google Chrome menjadi tanpa atribut-atribut menubar, toolbar, status bar dan url address. Klik kanan pun masih berfungsi sebagaimana layaknya sebuah browser biasa di halaman web. Tetapi pada Mozilla Prism, situs web benar-benar menjadi aplikasi desktop dengan engine Mozilla Firefox. Pada dasarnya bukan hanya mengubah browser menjadi tanpa toolbar, menubar atau address bar. Pada saat situs dikonversi menjadi halaman, masih ada pilihan untuk menampilkan progress status dan navigation bar. Dan meski menggunakan engine Firefox, pada dasarnya perilaku browser juga sudah tidak ada, klik kanan pada halaman web Prism tidak akan menyajikan menu seperti pada Firefox standar. Ini adalah sesuatu yang 5 tahun lalu saja, kita masih harus menggunakan komponen COM IE, dan sedikit programming skill. Opera menggunakan pendekatan yang berbeda, tetapi pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan browser Opera, dan harus dalam keadaan tereksekusi untuk menjalan widgetnya. Prism membawa aplikasi web ke desktop menjadi instan dengan cara yang benar-benar mandiri dari Firefox sendiri. Jadi menurut saya sampai saat ini, terdepan adalah Prism.
Prism sebelumnya disebut Mozilla Webrunner dimana Mozilla Firefox dengan url tertentu ditangkap dan dijadikan aplikasi desktop secara instan, tanpa proses dan prosedur yang rumit. Perkembangan halaman web di situs-situs kontemporer semakin lanjut dan pesat. Secara teknis, hampir tidak diperlukan lagi menu, toolbar, dan tombol-tombol navigasi standar sebuah browser. Sebuah situs modern seperti sudah memilki navigasinya sendiri. Bahkan situs-situs tersebut juga menyediakan tombol/taut untuk kembali ke halaman sebelumnya, ke halaman induknya, atau ke halaman lain di dalam situs. Era Web 2.0 membawa halaman web menjadi lebih kaya dengan Flash, DHTML, CSS tingkat lanjut dan AJAX. Hal inilah yang membuat proyek Prism dari Mozilla Labs terus berkembang. Prism tersedia di Windows, Linux dan OSX. Normalnya ada banyak perbedaan karakter lingkungan desktop Windows, Linux ataupun OSX, tapi Mozilla Prism membuat lingkungan yang berbeda tersebut tidak beda dengan bagaimana Firefox tersedia di desktop Windows, Gnome/KDE di Linux atau OSX.
Zimbra bahkan telah mengemas aplikasi desktop mail-nya berbasis Mozilla Prism. Zimbra Desktop pada dasarnya adalah tukang ambil email-email kita di POP3, IMAP, Yahoo, Gmail, Hotmail dll, dan menyajikannya ke desktop sebagai aplikasi Prism dengan antarmuka AJAX.Google Chrome
Meski sudah diramalkan jauh hari sebelumnya, Google Chrome tetap menggebrak dominasi IE dan Firefox di dunia browser. Posisinya bahkan langsung menyodok pemain lama seperti Opera. Google Chrome yang hanya hadir di Windows bahkan langsung menyediakan kemampuan konversi situs web ke aplikasi desktop. Dari Menu Control > Create Application Shortcut.
Chrome mengesankan karena kecepatannya. Tapi untuk bersaing di perang IE vs Firefox rasanya Chrome masih jauh dari siap. Bahkan Opera tak tinggal diam karena sudah memainkan inovasi di medan lain seperti PDA dan Ponsel berkemampuan Java. Firefox sudah jauh lebih matang, plugin lebih kaya dan punya fitur-fitur menarik dari plugin-plugin populernya seperti adblock, firebug, prism dll. Di Chrome saya masih harus menggunakan TOR atau Privoxy untuk sekedar memblokade banner atau konten-konten yang tidak saya inginkan dari url tertentu. TOR atau Privoxy adalah personal proxy yang diberdayakan menjadi tukang blokir konten, ketika saya berselancar di internet menggunakan Chrome.Opera Widget
Opera menggunakan terminologi yang berbeda, yaitu widget. Opera di sudah menyediakan banyak widget siap pakai. Tetapi kita bisa membuat sendiri widget dengan cara yang sudah disediakan oleh Opera. Hal ini sangat menarik, terutama jika ingin mengimpor aplikasi internet. Opera menggunakan istilah widgetize untuk proses impor aplikasi web ke desktop. Selanjutnya aplikasi-aplikasi tersebut dapat dieksekusi di desktop, mobile device atau ditempel di blog.
Pendekatan yang digunakan Opera sedikit berbeda daripada Chrome dan Prism. Widget-widget Opera tidak dapat dipisahkan dari Opera dalam keadaan tereksekusi. Tetapi tersedia Opera Widget SDK yang membuat widget dapat dikembangkan lebih jauh lagi dengan kustomisasi yang berbeda dari aplikasi internetnya. Misal widget untuk Facebook, Game Online dll. Opera menyediakan perangkat pengembangan dalam kontainer Opera Browser, widget-widget ini dapat dikembangkan oleh komunitas, tetapi cara instan juga tersedia dengan widgetize di situs widget opera.
Kesimpulan
Active Desktop adalah masa lalu. Saya pun heran, mengapa Microsoft seolah berhenti mengembangkan browser-nya setelah menghabisi Netscape akhir Millenium lalu. Yang patut dibicarakan tentang web ke desktop secara instan adalah Mozilla Prism dan Chrome sendiri. Ada perbedaan besar dari hasil konversinya. Pada Google Chrome, konversi itu hanya mengubah penampilan standar Google Chrome menjadi tanpa atribut-atribut menubar, toolbar, status bar dan url address. Klik kanan pun masih berfungsi sebagaimana layaknya sebuah browser biasa di halaman web. Tetapi pada Mozilla Prism, situs web benar-benar menjadi aplikasi desktop dengan engine Mozilla Firefox. Pada dasarnya bukan hanya mengubah browser menjadi tanpa toolbar, menubar atau address bar. Pada saat situs dikonversi menjadi halaman, masih ada pilihan untuk menampilkan progress status dan navigation bar. Dan meski menggunakan engine Firefox, pada dasarnya perilaku browser juga sudah tidak ada, klik kanan pada halaman web Prism tidak akan menyajikan menu seperti pada Firefox standar. Ini adalah sesuatu yang 5 tahun lalu saja, kita masih harus menggunakan komponen COM IE, dan sedikit programming skill. Opera menggunakan pendekatan yang berbeda, tetapi pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan browser Opera, dan harus dalam keadaan tereksekusi untuk menjalan widgetnya. Prism membawa aplikasi web ke desktop menjadi instan dengan cara yang benar-benar mandiri dari Firefox sendiri. Jadi menurut saya sampai saat ini, terdepan adalah Prism.
Posted by Meta Nurwidyanto
in ICT
at
08:02
| Comments (0)
| Trackbacks (0)
View as PDF: This entry | This month | Full blog
View as PDF: This entry | This month | Full blog
Trackbacks
Trackback specific URI for this entry
No Trackbacks

