Sudah lama punya Ubuntu, sudah lama punya CD Kubuntu yang saya dapat dari Yayasan Ubuntu, dan setelah memastikan bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja, akhirnya saya mulai menggunakan Kubuntu 8.10. KDE-nya sudah berubah, dan desktopnya menjadi lebih cantik dengan Plasma. Sebenarnya Plasma sudah hadir sejak KDE 4, sedang saat ini KDE sudah hendak merilis versi KDE 4.2, tetapi saya baru saja mengenalnya karena Kubuntu 8.10 yang sekarang menjadi desktop utama saya. Sebelumnya PCLinuxOS, desktop utama sebelumnya, saya terus bertahan di KDE 3.5.x, ditambah banyak cerita tentang ketakstabilan KDE 4. Maka saya melihat tidak ada alasan kuat untuk mengganti KDE 3.5 dengan 4. Apalagi Ubuntu yang saya coba juga berbasis Gnome dan sudah memberikan kinerja desktop yang cukup bagus, ditambah dengan Compiz sebagai manisan-mata lainnya. Tapi akhirnya sampai juga saya pada Kubuntu 8.10 dan KDE 4.1 dengan kulit mengkilatnya: Plasma
Saturday, February 14. 2009
Plasma, KDE 4.1 di Kubuntu 8.10
Plasmoid
Saya melihat Plasma sebagai selimut baru di desktop KDE 4.1. Desktop tak lagi sekedar desktop, folder atau tampak depan layar workstation kita. Desktop menjadi layar hidup dan tempat interaksi langsung. Sekali lagi ini mirip dengan gaya ActiveDesktop Windows sekian tahun yang lalu, tapi lebih lanjut lagi. Semua yang berada di desktop adalah komponen Plasma: Plasmoid. Semua tampak depan desktop KDE, termasuk taskbar, menu, dan bahkan desktop folder sendiri adalah sekedar folder yang bisa ditampilkan sebagai Plasmoid widget. Di KDE 3.5.x saya biasa menggunakan Superkaramba/Karamba dan widget-widgetnya untuk beberapa hal, misal: monitor sumberdaya (CPU/RAM/Network/Battery), mengintip Slashdot RSS, Embedded mp3 player (perpanjangan Amarok), atau sekedar memajang gambar orang-orang tersayang di desktop (jika orang meletakkan pigura foto keluarga di meja, maka saya memajangnya di desktop saya: menumbuhkan kedekatan tapi tetap pribadi, beda dengan pigura yang terkesan pamer).
Leganya, saya tak perlu membuang semua widget superkaramba saya. Superkaramba bisa diimplementasikan dengan Plasma. Plasma dapat memanggil engine Superkaramba untuki widget-widget yang memerlukan Superkaramba. Semua widget Superkaramba berjalan sempurna di Plasma. Jadi saya tak perlu repot mencari padanan widget lama di Plasmoid.
Compiz Fusion
Di KDE 3.5 dan Ubuntu yang Gnome, saya selalu memasang Compiz. Compiz membuat interaksi dekstop menjadi variatif dan tidak membosankan. Compiz Fusion adalah kelanjutan penggabungan dari Beryl dan Compiz. Saya merasa arah orientasi tampilan dekstop KDE tak lagi ke Windows. Kehadiran Compiz, beryl dan sekarang Plasma adalah visi lain yang diilhami dari betapa intuitif-nya desktop OSX.
Yang paling menarik dari Compiz bagi saya adalah Desktop Cube, cara berpindah Desktop, dan cara berpindah Window aplikasi. Meskipun pada akhirnya saya tidak terlalu banyak menggunakan Desktop Cube yang terdiri dari 4 Desktop. Saya lebih sering hanya menggunakan 2 Desktop saja. Satu untuk pekerjaan utama, yang lain untuk email, media player dsb.
Di Kubuntu 8.10 meski saya mulanya tidak bermasalah sama sekali dengan Compiz, sehingga saya bahkan menggunakannya sebagai Window manager utama daripada default KDE: KWin. Tapi masalah terjadi ketika saya memutuskan menggunakan VirtualBox. VirtualBox adalah Virtualisasi yang dikebut pengembangannya oleh Sun setelah mengakuisisinya dari pengembang awal VirtualBox. Saya membutuhkan VirtualBox sebagai lab pengujian distribusi Linux dan aplikasi yang masih terpaksa berjalan di Windows dan saya perlukan. Dengan VirtualBox saya telah benar-benar meninggalkan sistem dual boot Windows-Linux. Key shortcut VirtualBox bertabrakan dengan Compiz. Tidak hanya pindah Host-Guest di VirtualBox yang terganggu, tapi juga beberapa yang lain. Tapi ketika saya hilangkan atau deaktivasi Compiz, semua berjalan normal kembali. Dan baru saya sadari kemudian, bahwa Alt+F2 Kwin tidak berjalan ketika Compiz ada. Alt+F2 adalah run box, application launcher.
Saya tak terlalu berat hati menghapus Compiz sepenuhnya, karena KDE 4.1 secara integral dengan Kwin juga sudah menyediakan beberapa mosi yang tak kalah membosankan. Ada Flip-Swticher yang saya suka, dan tampilkan semua aplikasi aktif berderet aktif di desktop.
Aplikasi-aplikasi KDE 4.1
Aplikasi-aplikasi datang dan pergi. Yang baru semakin menarik, yang lama masih susah dilupakan. Tapi ini adalah proses alamiah, yang banyak dipakai akan terus dikembangkan, yang jarang dipakai akan ditinggalkan pengembangnya. Integrator KDE sudah melakukan kerja besar integrasi KDE 4.1, menjaga konsistensi dan kestabilan desktop.
Dolphin adalah File Manager KDE default yang baru. Tak jauh beda dengan Konqueror dulu. Tapi Dolphin bukan pilihan yang jelek, meskipun saya jarang menggunakannya. Pilihan saya tetap model dual-panel File manager ala Midnight Commander/Norton Commander di KDE, yaitu Krusader. Krusader membuat semuanya tampak mudah, protokol network seperti: ftp, sftp, samba didukungnya.
Instant Messaging default KDE adalah Kopete. Tak jelek, tapi saya sering mengalami koneksi putus-sambung menggunakannya pada bandwidth rendah, jadi saya tetap menggunakan Pidgin yang berbasis GTK. Pidgin memudahkan saya untuk ber-YM, MSN, koneksi ke Jabber Server seperti GTalk atau internal perusahaan.
Dan meski Konqueror bagus, browser utama saya tetap Firefox karena plugin-pluginnya yang kaya dan menarik seperti Firebug (yang cocok untuk pengembang Javascript), AdBlock dan tambahan search-engine khusus yang menagarahkan saya langsung pada imdb (untuk film), merriam-webster(untuk kamus dan thesaurus), dll. Firefox dikembangkan lebih cepat, didukung banyak plugin dan ekstensi.
Tak ada masalah dengan Java. Eclipse tersedia berbasis Gnu Java, bisa diambil dari apt-get. Meski saya lebih pilih Ganymede Eclipse 3.4 download dari situs miror Eclipse, dengan Sun-Java-JDK yang tersedia di apt-get.
Email tampaknya masih saya serahkan pada Thunderbird daripada kepada Kmail. Thunderbird mudah dan juga tersedia di apt-get. Saya rasa pilihan ini adalah karena kemudahan backup-restore dengan sesama Thunderbird yang juga tersedia di OSX dan Windows. Jadi pindah-pindah sistem operasi tak membuat saya report dengan pemindahan arsip email saya.
Kesimpulan
KDE 4.1 di Kubuntu 8.10 dengan Plasma dan sekian aplikasi baru, masih sangat muda. Meski begitu, tim pengembang KDE 4.1 bahkan segera akan bergerak ke KDE 4.2, yang berarti ada perubahan fundamental menyangkut performa KDE. Saya tak merasa terganggu dengan cerita ketakstabilan KDE 4.1 orang lain, meski begitu, dibandingkan dengan yang saya rasakan di TinyMe 2008, PCLinuxOS berbasis Window Manager Openbox , memang ada perbedaan sedikit soal kecepatan. Kemudahan dan tampilan cantik memang meminta harga sumberdaya yang lumayan. Dan saya tetap memilih Kubuntu 8.10 daripada Ubuntu 8.10 yang dikonfigurasi ke KDE atau tetap bertahan di PCLinuxOS. Soal kebaruan paket menganggu saya. PCLinuxOS agak terlambat menerbitkan rilis paket-paket terbarunya, dan terlalu lama menunggu rilis resmi PCLinuxOS yang baru. Kubuntu adalah pilihan yang paling alamiah buat workstation saya. Saya penyuka model manajemen paket Debian/Ubuntu dan saya butuh desktop yang stabil tapi tak membosankan. Meski begitu saya masih menunggu PCLnuxOS yang baru, siapa tahu ada kejutan baru.
Desktop Ubuntu? saya rasa jawabannya bukan Edubuntu, Xubuntu atau Medibuntu, kali ini saya pilih Kubuntu 8.10
Saya melihat Plasma sebagai selimut baru di desktop KDE 4.1. Desktop tak lagi sekedar desktop, folder atau tampak depan layar workstation kita. Desktop menjadi layar hidup dan tempat interaksi langsung. Sekali lagi ini mirip dengan gaya ActiveDesktop Windows sekian tahun yang lalu, tapi lebih lanjut lagi. Semua yang berada di desktop adalah komponen Plasma: Plasmoid. Semua tampak depan desktop KDE, termasuk taskbar, menu, dan bahkan desktop folder sendiri adalah sekedar folder yang bisa ditampilkan sebagai Plasmoid widget. Di KDE 3.5.x saya biasa menggunakan Superkaramba/Karamba dan widget-widgetnya untuk beberapa hal, misal: monitor sumberdaya (CPU/RAM/Network/Battery), mengintip Slashdot RSS, Embedded mp3 player (perpanjangan Amarok), atau sekedar memajang gambar orang-orang tersayang di desktop (jika orang meletakkan pigura foto keluarga di meja, maka saya memajangnya di desktop saya: menumbuhkan kedekatan tapi tetap pribadi, beda dengan pigura yang terkesan pamer).
Leganya, saya tak perlu membuang semua widget superkaramba saya. Superkaramba bisa diimplementasikan dengan Plasma. Plasma dapat memanggil engine Superkaramba untuki widget-widget yang memerlukan Superkaramba. Semua widget Superkaramba berjalan sempurna di Plasma. Jadi saya tak perlu repot mencari padanan widget lama di Plasmoid.
Compiz Fusion
Di KDE 3.5 dan Ubuntu yang Gnome, saya selalu memasang Compiz. Compiz membuat interaksi dekstop menjadi variatif dan tidak membosankan. Compiz Fusion adalah kelanjutan penggabungan dari Beryl dan Compiz. Saya merasa arah orientasi tampilan dekstop KDE tak lagi ke Windows. Kehadiran Compiz, beryl dan sekarang Plasma adalah visi lain yang diilhami dari betapa intuitif-nya desktop OSX.
Yang paling menarik dari Compiz bagi saya adalah Desktop Cube, cara berpindah Desktop, dan cara berpindah Window aplikasi. Meskipun pada akhirnya saya tidak terlalu banyak menggunakan Desktop Cube yang terdiri dari 4 Desktop. Saya lebih sering hanya menggunakan 2 Desktop saja. Satu untuk pekerjaan utama, yang lain untuk email, media player dsb.
Di Kubuntu 8.10 meski saya mulanya tidak bermasalah sama sekali dengan Compiz, sehingga saya bahkan menggunakannya sebagai Window manager utama daripada default KDE: KWin. Tapi masalah terjadi ketika saya memutuskan menggunakan VirtualBox. VirtualBox adalah Virtualisasi yang dikebut pengembangannya oleh Sun setelah mengakuisisinya dari pengembang awal VirtualBox. Saya membutuhkan VirtualBox sebagai lab pengujian distribusi Linux dan aplikasi yang masih terpaksa berjalan di Windows dan saya perlukan. Dengan VirtualBox saya telah benar-benar meninggalkan sistem dual boot Windows-Linux. Key shortcut VirtualBox bertabrakan dengan Compiz. Tidak hanya pindah Host-Guest di VirtualBox yang terganggu, tapi juga beberapa yang lain. Tapi ketika saya hilangkan atau deaktivasi Compiz, semua berjalan normal kembali. Dan baru saya sadari kemudian, bahwa Alt+F2 Kwin tidak berjalan ketika Compiz ada. Alt+F2 adalah run box, application launcher.
Saya tak terlalu berat hati menghapus Compiz sepenuhnya, karena KDE 4.1 secara integral dengan Kwin juga sudah menyediakan beberapa mosi yang tak kalah membosankan. Ada Flip-Swticher yang saya suka, dan tampilkan semua aplikasi aktif berderet aktif di desktop.
Aplikasi-aplikasi KDE 4.1
Aplikasi-aplikasi datang dan pergi. Yang baru semakin menarik, yang lama masih susah dilupakan. Tapi ini adalah proses alamiah, yang banyak dipakai akan terus dikembangkan, yang jarang dipakai akan ditinggalkan pengembangnya. Integrator KDE sudah melakukan kerja besar integrasi KDE 4.1, menjaga konsistensi dan kestabilan desktop.
Dolphin adalah File Manager KDE default yang baru. Tak jauh beda dengan Konqueror dulu. Tapi Dolphin bukan pilihan yang jelek, meskipun saya jarang menggunakannya. Pilihan saya tetap model dual-panel File manager ala Midnight Commander/Norton Commander di KDE, yaitu Krusader. Krusader membuat semuanya tampak mudah, protokol network seperti: ftp, sftp, samba didukungnya.
Instant Messaging default KDE adalah Kopete. Tak jelek, tapi saya sering mengalami koneksi putus-sambung menggunakannya pada bandwidth rendah, jadi saya tetap menggunakan Pidgin yang berbasis GTK. Pidgin memudahkan saya untuk ber-YM, MSN, koneksi ke Jabber Server seperti GTalk atau internal perusahaan.
Dan meski Konqueror bagus, browser utama saya tetap Firefox karena plugin-pluginnya yang kaya dan menarik seperti Firebug (yang cocok untuk pengembang Javascript), AdBlock dan tambahan search-engine khusus yang menagarahkan saya langsung pada imdb (untuk film), merriam-webster(untuk kamus dan thesaurus), dll. Firefox dikembangkan lebih cepat, didukung banyak plugin dan ekstensi.
Tak ada masalah dengan Java. Eclipse tersedia berbasis Gnu Java, bisa diambil dari apt-get. Meski saya lebih pilih Ganymede Eclipse 3.4 download dari situs miror Eclipse, dengan Sun-Java-JDK yang tersedia di apt-get.
Email tampaknya masih saya serahkan pada Thunderbird daripada kepada Kmail. Thunderbird mudah dan juga tersedia di apt-get. Saya rasa pilihan ini adalah karena kemudahan backup-restore dengan sesama Thunderbird yang juga tersedia di OSX dan Windows. Jadi pindah-pindah sistem operasi tak membuat saya report dengan pemindahan arsip email saya.
Kesimpulan
KDE 4.1 di Kubuntu 8.10 dengan Plasma dan sekian aplikasi baru, masih sangat muda. Meski begitu, tim pengembang KDE 4.1 bahkan segera akan bergerak ke KDE 4.2, yang berarti ada perubahan fundamental menyangkut performa KDE. Saya tak merasa terganggu dengan cerita ketakstabilan KDE 4.1 orang lain, meski begitu, dibandingkan dengan yang saya rasakan di TinyMe 2008, PCLinuxOS berbasis Window Manager Openbox , memang ada perbedaan sedikit soal kecepatan. Kemudahan dan tampilan cantik memang meminta harga sumberdaya yang lumayan. Dan saya tetap memilih Kubuntu 8.10 daripada Ubuntu 8.10 yang dikonfigurasi ke KDE atau tetap bertahan di PCLinuxOS. Soal kebaruan paket menganggu saya. PCLinuxOS agak terlambat menerbitkan rilis paket-paket terbarunya, dan terlalu lama menunggu rilis resmi PCLinuxOS yang baru. Kubuntu adalah pilihan yang paling alamiah buat workstation saya. Saya penyuka model manajemen paket Debian/Ubuntu dan saya butuh desktop yang stabil tapi tak membosankan. Meski begitu saya masih menunggu PCLnuxOS yang baru, siapa tahu ada kejutan baru.
Desktop Ubuntu? saya rasa jawabannya bukan Edubuntu, Xubuntu atau Medibuntu, kali ini saya pilih Kubuntu 8.10
Posted by Meta Nurwidyanto
in Linux
at
18:09
| Comments (0)
| Trackbacks (0)
View as PDF: This entry | This month | Full blog
View as PDF: This entry | This month | Full blog
Trackbacks
Trackback specific URI for this entry
No Trackbacks

