Saya ada fans berat KDE. Bertahun KDE saya gunakan menjadi Window Manager Linux pilihan saya tanpa pernah mengecewakan. Gnome bukannya tidak pernah menarik buat saya, tapi dulu sebelum era Gnome 2.0, saya kecewa dengan integrasi Gnome. Bagaimana mungkin sebuah teks yang saya salin dari Gedit tidak bisa saya tempelkan ke Bluefish (dua-duanya adalah editor teks di Gnome). Yang sesederhana itu tidak bisa dilakukan dengan sempurna di Gnome, waktu itu. Maka saya tidak pernah beranjak dari KDE sejak menggunakan Debian Potato, Woody, Sarge, Etch, PCLinuxOS, dan terakhir Kubuntu. Anehnya sejak Kubuntu Intrepid Ibex pelahan tapi pasti saya mulai mempertimbangkan Gnome.
Sunday, May 31. 2009
Kembali ke Gnome dengan Jaunty Jackalope
Ada apa dengan KDE?
KDE stabil terakhir yang saya gunakan adalah KDE 3.5. Saya menggunakannya di PCLinuxOS dan Kubuntu. Tapi rasanya KDE menjadi sedikit tertinggal daripada Gnome terutama dalam hal kestabilan dan aplikasi-aplikasinya. KDE memang memiliki aplikasi-aplikasi andalan yang saya banyak gunakan, tapi dari Gnome pun banyak yang saya gunakan. Meski awalnya tidak saya anggap terlalu berarti, ternyata setelah saya recall lagi ingatan saya, GDM sudah jauh lebih dulu ada daripada KDM, saya membuat banyak themes untuk GDM, KDE tak punya pembuat diagram setangguh Dia, Graphic Editor sekuat Gimp atau Wordprocessor selengkap Abiword.
Ketika Compiz berjalan cantik di Gnome, tidak demikian ternyata di KDE 4.1, banyak shortcut bertabrakan, dan saya mengalami crash beberapa kali di Kubuntu Intrepid ketika menyandingkan Compiz dengan KDE 4.1. KDE sekarang sudah versi 4.2, tapi beberapa distro ternyata masih mempertahankan KDE 3.5. Saya pikir pasti ada alasan tertentu, terutama soal kestabilan. Saya sampai malu dengan para Windowser, masak Linux crash, meski saya katakan, ini hanya Desktop Manager, tapi kesan mereka adalah Linux, bukan KDE. Saat itu saya putuskan buang Compiz dari Kubuntu, pakai KDE 4.2. Tapi Dolphin masih kadang crash. Dolphin File Manager KDE memang tidak terlalu saya perdulikan karena saya lebih suka Dual Paned File manager seperti Krusader, sebagaimana saya menggunakan Midnight Commander di Konsole.
Sampai juga kejaran Gnome
Akhirnya saya benar-benar mempertimbangkan Gnome setelah terbitnya Ubuntu Jaunty Jackalope. Karena pada dasarnya saya hanya pengguna KDE yang kecewa, maka saya hanya memeriksa apakah aplikasi-aplikasi KDE yang biasa saya gunakan dan bisa saya temukan di Gnome. Karena saya tidak berencana menggunakan aplikasi-aplikasi yang membuat saya harus menginstalasikan kdelibs, ketika saya sudah ada di Gnome, sebagaimana dulu saya menggunakan Firefox dan Pidgin di KDE daripada menggunakan Konqueror dan Kopete yang asli dibawa KDE.
Krusader vs Gnome-Commander
Dulu di DOS, saya selalu nyaman menggunakan Norton Commander, di Windows saya gunakan Windows Commander (dan sekarang pilihan saya adalah Free Commander), maka ketika di Linux secara alamiah saya pilih Midnight Commander. Yang sejenis itu di KDE adalah Krusader. Krusader jelas lebih lengkap dari Midnight Commander, karena sudah menyediakan banyak tipe koneksi: ftp, samba, FiSH (file over ssh). FiSH membuat copy antar mesin serasa copy antar folder saja, meskipun melalui protokol ssh2. Krusader adalah File manager andalan saya di KDE. Salah satu yang membuat saya bertahan lama di KDE adalah Krusader, dengan antar muka sederhana, tapi mampu menangani file terkompresi (zip, tar, gz, arj, 7z dll) serasa folder saja. Semua pengelolaan folder dan file bisa dilakukan dari Krusader. Meski sudah lama di Gnome (sejak 2.4) saya tahu semakin stabil dan aplikasinya semakin banyak, tapi Gnome Commander tak punya koneksi SSH. Saat itu sshfs belum begitu stabil, dan lebih kompleks caranya daripada Krusader yang semua dapat ditangani dari sisi user (tanpa sudo) dengan mudah dan cepat. Tapi saat ini Gnome Commander lebih mudah menjadi LinNeighborhood (samba browser) sekaligus Filezilla untuk menangani FTP maupun SSH. Jadi, satu langkah lebih dekat lagi ke Gnome.
Pidgin vs Kopete
Meski saya pemakai lama KDE, tapi soal instant mesengger saya masih pilih Pidgin (dulu bernama Gaim), karena Pidgin juga tersedia di platform lain (Windows misalnya). Jadi ketika pindah desktop/laptop dengan platform lain, antarmuka-nya selalu sama. Kopete bukan tidak pernah saya coba, tapi yang menyedihkan pada KDE 4.1 justru lebih sering disconnect. Saya tidak tahu pastinya, tapi saya menduga soal kestabilan koneksi. Jadi jika koneksi internet sedang jelek atau tidak stabil, maka Kopete tidak bisa bertahan terkoneksi seperti Pidgin. Meski secara otomatis terkoneksi sendiri, perilaku ini justru menganggu rekan-rekan saya yang lain karena saya keluar masuk, akibatnya jika ada yang mengaktifkan sound untuk teman yang login/logout, jadi amat mengganggu.
Quanta vs. Bluefish
Dari segi fitur, Quanta bisa dikatakan seimbang dengan Bluefish. Pada file explorer, Quanta sedikit lebih unggul karena saya bisa membuat shortcut ke folder manapun sementara Bluefish hanya bisa memilih sebuah folder sebagai basedir (working directory). Tapi ketika saya membuka banyak file sekaligus, Quanta menjadi sangat lambat. Sering pula sedikit hang. Maka meski suka, lama-kelamaan saya tinggalkan Quanta ke Kate (teks editor KDE lain yang lebih sederhana). Meski Kate tidak punya fitur sekaya Quanta tapi Kate jauh lebih stabil, cepat dan tidak pernah melambat ketika membuka banyak file. Jadi di Gnome saya merasa Bluefish selain soal minor tadi bisa menggantikan Quanta.
Umbrello vs. Gaphor
Yang unik tapi sering saya gunakan adalah UML Modeller. KDE punya umbrello, sementara sampai saya gunakan Gnome, saya baru menemukan UML modeller lain yang setara Umbrello yaitu Gaphor. Umbrello meski sederhana (dibandingkan Rational Rose) tidak berat dibanding Visual Paradigm atau ArgoUML yang berbasis Java. Umbrello sudah cukup bagi saya untuk membuat UML Model. Saya tidak coding detail ke Java, jadi saya tidak membutuhkan code generator seperti di Rational Rose. Saya memang belum coba banyak, tapi agak surprise ketika menemukan Gaphor di Gnome. Sepintas, Gaphor sudah punya fitur-fitur yang saya butuhkan di Umbrello. Saya tidak membutuhkan yang lebih kompleks dari UML Modeller yang berbasis diagram saja.
Thunderbird vs. Kmail vs. Zimbra
Soal email, bisa dikatakan Thunderbird lebih unggul karena portabilitas. Jadi jika kita sering pindah-pindah platform, butuh antarmuka yang sama soal email, bisa ekspor/impor data, Thunderbird pilihannya. Thunderbird malah juga menyediakan rss feeder dan koneksi ke gmail daripada Kmail yang memang hanya email client biasa. Kmail memberika integrasi yang baik dengan Kontact (dibundel dengan Kscheduller, Knotes, aKregator - RSS agregator, KPim dst). Tapi saya juga tidak butuh Kontact. Dulu lama saya pakai Kmail, agak repot ketika harus ekspor atau impor dari email client lain (MS Outlook misalnya), backup email pun saya tangani kasar dengan copy folder, karena data email, konfigurasi dan filter-filter ditempatkan di folder-folder yang berbeda pada Kmail. Sementara Thunderbird lebih sederhana. Saya hanya butuh Email Client yang bagus. Bahkan sekarang saya bergerak untuk membaca juga email-email saya di hotmail, yahoo dan gmail sekaligus. Tanpa harus membuka browser satu persatu ke alamat-alamat gmail, yahoomail dan hotmail, saya menggunakan Zimbra Desktop Mail. Setelah lama di Thunderbird dan menggunakannya bersamaan dengan Zimbra bebeberapa bulan. Akhirnya saya tinggalkan Thunderbird dengan yakin. Dan Zimbra juga tersedia di platform Windows dan Linux.
Application Docking
Karena ingin punya tampilan seperti OSX dengan application docker-nya, saya ngebet install macam-macam. Sayanganya KDE tidak punya hal demikian, sementara di Gnome ada Avant-Window-navigator, Cairo-Dock dst. Memang bisa juga memasang Avant-Window-Navigator (application docking pilihan saya) di KDE tapi buggy. Jadi tak semulus ketika menjalankannya di Gnome.
Compiz vs. KDE 4.2
Kenapa saya bandingkan begitu? Karena KDE 4.2 sudah memberikan langsung efek-efek ekstra seperti Compiz di KDE. Saya sempat mencicipi KDE 4.2 di Kubuntu Intrepid Ibex. Tapi rasanya saya tidak mendapatkan apa yang sudah saya rasakan di Compiz. Compiz menyegarkan pandangan dengan efek-efeknya. KDE 4.2 sudah jauh lebih stabil daripada KDE 4.1 + Compiz yang banyak shortcut dan function key jadi bertabrakan. KDE 4.2 hendak memuat semuanya ke dalam KDE, sementara Gnome sudah saja menyerahkan pada Compiz dan itu juga dapat bekerja baik di dalamnya.
Nautilus vs. Dolphin
Sebenarnya Konqueror lebih intuitif daripada Nautilus. Tapi entah kenapa KDE justru mengajukan Dolphi sebagai File Explorer. Dolphi sama sekali tidak menarik, lebih mirip Nautilus dan tidak seperti Konqueror. Konqueror jelas masih jauh dibanding Firefox, tapi Konqi masih lebih bagus karena mampu berfungsi sebagai FileExplorer dan Browser sekaligus (seperti Windows Explorer/Internet Explorer). Tapi sekali lagi ini tidak penting bagi saya, karena saya lebih sering pakai Krusader dan di Gnome tentu saya akan cari yang sejenis Krusader atau Midnight Commander: Gnome Commander.
Evince vs. Akular
Dulu di KDE saya biasa pakai Kpdf untuk pdf viewer. Sejak KDE 4.1 ganti jadi Okular. Menyedihkan, karena buggy ketika digunakan untuk mencetak. Semua model document yang lansdscape dicetak sebagai portrait. Ketika para Windowser yang pindah ke Linux protes ke saya, saya akhirnya menemukan Evince dan Gnome bekerja lebih baik. Jadi alternatifnya adalah Adobe Reader langsung dari Adobe atau cukup Evince. Sampai KDE 4.2 Okular masih tidak bisa melakukan cetak landscape, aneh sekali. Semua dokumen pdf landscape dicetak portrait, tentu saja pemilik dokumennya mencak-mencak, karena sudah terlanjur mencetak banyak dokumen ke Print Server.
KChmviewer vs. GnoChmviewer
Setelah lama saya tunggu, akhirnya GnoeChmviewer sudah jauh lebih stabil. Saya punya banyak ebook chm. Sebagian besar adalah manual. Kchmviewer sudah menemani saya bertahun-tahun tanpa menngecewakan. Ketika pindah ke Gnome, saya periksa dulu apakah GnoChamviewer sudah bagus. Ternyta sudah oke daripada dulu ketika saya temukan pertamakali di Gnome.
Amarok vs. Rhythmbox
Pada dasarnya saya adalah pemakai XMMS di waktu lampau. Tapi Amarok membuat saya lebih mudah mengatur playlist saya. Amarok belum saya temukan padanannya di Gnome sampai Ubuntu Intrepid baru saya tahu kalau sudah ada yang sejenis itu di Gnome: Rythmbox. Ini asli Gnome dan memberikan padanan lingkungan manajemen playlist seperti Amarok. Jadi saya tak perlu menengok lagi ke Amarok di KDE.
Kesimpulan
Sepertinya semua hal yang ketinggalan dari KDE semakin mendorong saya untuk ke Gnome. Maka ketika Jaunty keluar, saya putuskan istirahatkan Kubuntu dengan KDE-nya untuk pindah ke Ubuntu dengan full Gnome. Sudah sebulan lebih, dan tanpa kompleksitas yang berarti, semua program lebih stabil, tidak sering muncul KDE Crash handler. Compiz berjalan sempurna, USB Flash langsung mounted, docking yang tak kalah dari OSX dst. Gnome adalah pilihan wajar untuk user yang banyak maunya seperti saya misalnya. Tapi sepertinya mau saya tidak sekompleks user-user lainya ya,
Bagaimana dengan anda?
KDE stabil terakhir yang saya gunakan adalah KDE 3.5. Saya menggunakannya di PCLinuxOS dan Kubuntu. Tapi rasanya KDE menjadi sedikit tertinggal daripada Gnome terutama dalam hal kestabilan dan aplikasi-aplikasinya. KDE memang memiliki aplikasi-aplikasi andalan yang saya banyak gunakan, tapi dari Gnome pun banyak yang saya gunakan. Meski awalnya tidak saya anggap terlalu berarti, ternyata setelah saya recall lagi ingatan saya, GDM sudah jauh lebih dulu ada daripada KDM, saya membuat banyak themes untuk GDM, KDE tak punya pembuat diagram setangguh Dia, Graphic Editor sekuat Gimp atau Wordprocessor selengkap Abiword.
Ketika Compiz berjalan cantik di Gnome, tidak demikian ternyata di KDE 4.1, banyak shortcut bertabrakan, dan saya mengalami crash beberapa kali di Kubuntu Intrepid ketika menyandingkan Compiz dengan KDE 4.1. KDE sekarang sudah versi 4.2, tapi beberapa distro ternyata masih mempertahankan KDE 3.5. Saya pikir pasti ada alasan tertentu, terutama soal kestabilan. Saya sampai malu dengan para Windowser, masak Linux crash, meski saya katakan, ini hanya Desktop Manager, tapi kesan mereka adalah Linux, bukan KDE. Saat itu saya putuskan buang Compiz dari Kubuntu, pakai KDE 4.2. Tapi Dolphin masih kadang crash. Dolphin File Manager KDE memang tidak terlalu saya perdulikan karena saya lebih suka Dual Paned File manager seperti Krusader, sebagaimana saya menggunakan Midnight Commander di Konsole.
Sampai juga kejaran Gnome
Akhirnya saya benar-benar mempertimbangkan Gnome setelah terbitnya Ubuntu Jaunty Jackalope. Karena pada dasarnya saya hanya pengguna KDE yang kecewa, maka saya hanya memeriksa apakah aplikasi-aplikasi KDE yang biasa saya gunakan dan bisa saya temukan di Gnome. Karena saya tidak berencana menggunakan aplikasi-aplikasi yang membuat saya harus menginstalasikan kdelibs, ketika saya sudah ada di Gnome, sebagaimana dulu saya menggunakan Firefox dan Pidgin di KDE daripada menggunakan Konqueror dan Kopete yang asli dibawa KDE.
Krusader vs Gnome-Commander
Dulu di DOS, saya selalu nyaman menggunakan Norton Commander, di Windows saya gunakan Windows Commander (dan sekarang pilihan saya adalah Free Commander), maka ketika di Linux secara alamiah saya pilih Midnight Commander. Yang sejenis itu di KDE adalah Krusader. Krusader jelas lebih lengkap dari Midnight Commander, karena sudah menyediakan banyak tipe koneksi: ftp, samba, FiSH (file over ssh). FiSH membuat copy antar mesin serasa copy antar folder saja, meskipun melalui protokol ssh2. Krusader adalah File manager andalan saya di KDE. Salah satu yang membuat saya bertahan lama di KDE adalah Krusader, dengan antar muka sederhana, tapi mampu menangani file terkompresi (zip, tar, gz, arj, 7z dll) serasa folder saja. Semua pengelolaan folder dan file bisa dilakukan dari Krusader. Meski sudah lama di Gnome (sejak 2.4) saya tahu semakin stabil dan aplikasinya semakin banyak, tapi Gnome Commander tak punya koneksi SSH. Saat itu sshfs belum begitu stabil, dan lebih kompleks caranya daripada Krusader yang semua dapat ditangani dari sisi user (tanpa sudo) dengan mudah dan cepat. Tapi saat ini Gnome Commander lebih mudah menjadi LinNeighborhood (samba browser) sekaligus Filezilla untuk menangani FTP maupun SSH. Jadi, satu langkah lebih dekat lagi ke Gnome.
Pidgin vs Kopete
Meski saya pemakai lama KDE, tapi soal instant mesengger saya masih pilih Pidgin (dulu bernama Gaim), karena Pidgin juga tersedia di platform lain (Windows misalnya). Jadi ketika pindah desktop/laptop dengan platform lain, antarmuka-nya selalu sama. Kopete bukan tidak pernah saya coba, tapi yang menyedihkan pada KDE 4.1 justru lebih sering disconnect. Saya tidak tahu pastinya, tapi saya menduga soal kestabilan koneksi. Jadi jika koneksi internet sedang jelek atau tidak stabil, maka Kopete tidak bisa bertahan terkoneksi seperti Pidgin. Meski secara otomatis terkoneksi sendiri, perilaku ini justru menganggu rekan-rekan saya yang lain karena saya keluar masuk, akibatnya jika ada yang mengaktifkan sound untuk teman yang login/logout, jadi amat mengganggu.
Quanta vs. Bluefish
Dari segi fitur, Quanta bisa dikatakan seimbang dengan Bluefish. Pada file explorer, Quanta sedikit lebih unggul karena saya bisa membuat shortcut ke folder manapun sementara Bluefish hanya bisa memilih sebuah folder sebagai basedir (working directory). Tapi ketika saya membuka banyak file sekaligus, Quanta menjadi sangat lambat. Sering pula sedikit hang. Maka meski suka, lama-kelamaan saya tinggalkan Quanta ke Kate (teks editor KDE lain yang lebih sederhana). Meski Kate tidak punya fitur sekaya Quanta tapi Kate jauh lebih stabil, cepat dan tidak pernah melambat ketika membuka banyak file. Jadi di Gnome saya merasa Bluefish selain soal minor tadi bisa menggantikan Quanta.
Umbrello vs. Gaphor
Yang unik tapi sering saya gunakan adalah UML Modeller. KDE punya umbrello, sementara sampai saya gunakan Gnome, saya baru menemukan UML modeller lain yang setara Umbrello yaitu Gaphor. Umbrello meski sederhana (dibandingkan Rational Rose) tidak berat dibanding Visual Paradigm atau ArgoUML yang berbasis Java. Umbrello sudah cukup bagi saya untuk membuat UML Model. Saya tidak coding detail ke Java, jadi saya tidak membutuhkan code generator seperti di Rational Rose. Saya memang belum coba banyak, tapi agak surprise ketika menemukan Gaphor di Gnome. Sepintas, Gaphor sudah punya fitur-fitur yang saya butuhkan di Umbrello. Saya tidak membutuhkan yang lebih kompleks dari UML Modeller yang berbasis diagram saja.
Thunderbird vs. Kmail vs. Zimbra
Soal email, bisa dikatakan Thunderbird lebih unggul karena portabilitas. Jadi jika kita sering pindah-pindah platform, butuh antarmuka yang sama soal email, bisa ekspor/impor data, Thunderbird pilihannya. Thunderbird malah juga menyediakan rss feeder dan koneksi ke gmail daripada Kmail yang memang hanya email client biasa. Kmail memberika integrasi yang baik dengan Kontact (dibundel dengan Kscheduller, Knotes, aKregator - RSS agregator, KPim dst). Tapi saya juga tidak butuh Kontact. Dulu lama saya pakai Kmail, agak repot ketika harus ekspor atau impor dari email client lain (MS Outlook misalnya), backup email pun saya tangani kasar dengan copy folder, karena data email, konfigurasi dan filter-filter ditempatkan di folder-folder yang berbeda pada Kmail. Sementara Thunderbird lebih sederhana. Saya hanya butuh Email Client yang bagus. Bahkan sekarang saya bergerak untuk membaca juga email-email saya di hotmail, yahoo dan gmail sekaligus. Tanpa harus membuka browser satu persatu ke alamat-alamat gmail, yahoomail dan hotmail, saya menggunakan Zimbra Desktop Mail. Setelah lama di Thunderbird dan menggunakannya bersamaan dengan Zimbra bebeberapa bulan. Akhirnya saya tinggalkan Thunderbird dengan yakin. Dan Zimbra juga tersedia di platform Windows dan Linux.
Application Docking
Karena ingin punya tampilan seperti OSX dengan application docker-nya, saya ngebet install macam-macam. Sayanganya KDE tidak punya hal demikian, sementara di Gnome ada Avant-Window-navigator, Cairo-Dock dst. Memang bisa juga memasang Avant-Window-Navigator (application docking pilihan saya) di KDE tapi buggy. Jadi tak semulus ketika menjalankannya di Gnome.
Compiz vs. KDE 4.2
Kenapa saya bandingkan begitu? Karena KDE 4.2 sudah memberikan langsung efek-efek ekstra seperti Compiz di KDE. Saya sempat mencicipi KDE 4.2 di Kubuntu Intrepid Ibex. Tapi rasanya saya tidak mendapatkan apa yang sudah saya rasakan di Compiz. Compiz menyegarkan pandangan dengan efek-efeknya. KDE 4.2 sudah jauh lebih stabil daripada KDE 4.1 + Compiz yang banyak shortcut dan function key jadi bertabrakan. KDE 4.2 hendak memuat semuanya ke dalam KDE, sementara Gnome sudah saja menyerahkan pada Compiz dan itu juga dapat bekerja baik di dalamnya.
Nautilus vs. Dolphin
Sebenarnya Konqueror lebih intuitif daripada Nautilus. Tapi entah kenapa KDE justru mengajukan Dolphi sebagai File Explorer. Dolphi sama sekali tidak menarik, lebih mirip Nautilus dan tidak seperti Konqueror. Konqueror jelas masih jauh dibanding Firefox, tapi Konqi masih lebih bagus karena mampu berfungsi sebagai FileExplorer dan Browser sekaligus (seperti Windows Explorer/Internet Explorer). Tapi sekali lagi ini tidak penting bagi saya, karena saya lebih sering pakai Krusader dan di Gnome tentu saya akan cari yang sejenis Krusader atau Midnight Commander: Gnome Commander.
Evince vs. Akular
Dulu di KDE saya biasa pakai Kpdf untuk pdf viewer. Sejak KDE 4.1 ganti jadi Okular. Menyedihkan, karena buggy ketika digunakan untuk mencetak. Semua model document yang lansdscape dicetak sebagai portrait. Ketika para Windowser yang pindah ke Linux protes ke saya, saya akhirnya menemukan Evince dan Gnome bekerja lebih baik. Jadi alternatifnya adalah Adobe Reader langsung dari Adobe atau cukup Evince. Sampai KDE 4.2 Okular masih tidak bisa melakukan cetak landscape, aneh sekali. Semua dokumen pdf landscape dicetak portrait, tentu saja pemilik dokumennya mencak-mencak, karena sudah terlanjur mencetak banyak dokumen ke Print Server.
KChmviewer vs. GnoChmviewer
Setelah lama saya tunggu, akhirnya GnoeChmviewer sudah jauh lebih stabil. Saya punya banyak ebook chm. Sebagian besar adalah manual. Kchmviewer sudah menemani saya bertahun-tahun tanpa menngecewakan. Ketika pindah ke Gnome, saya periksa dulu apakah GnoChamviewer sudah bagus. Ternyta sudah oke daripada dulu ketika saya temukan pertamakali di Gnome.
Amarok vs. Rhythmbox
Pada dasarnya saya adalah pemakai XMMS di waktu lampau. Tapi Amarok membuat saya lebih mudah mengatur playlist saya. Amarok belum saya temukan padanannya di Gnome sampai Ubuntu Intrepid baru saya tahu kalau sudah ada yang sejenis itu di Gnome: Rythmbox. Ini asli Gnome dan memberikan padanan lingkungan manajemen playlist seperti Amarok. Jadi saya tak perlu menengok lagi ke Amarok di KDE.
Kesimpulan
Sepertinya semua hal yang ketinggalan dari KDE semakin mendorong saya untuk ke Gnome. Maka ketika Jaunty keluar, saya putuskan istirahatkan Kubuntu dengan KDE-nya untuk pindah ke Ubuntu dengan full Gnome. Sudah sebulan lebih, dan tanpa kompleksitas yang berarti, semua program lebih stabil, tidak sering muncul KDE Crash handler. Compiz berjalan sempurna, USB Flash langsung mounted, docking yang tak kalah dari OSX dst. Gnome adalah pilihan wajar untuk user yang banyak maunya seperti saya misalnya. Tapi sepertinya mau saya tidak sekompleks user-user lainya ya,
Posted by Meta Nurwidyanto
in Linux
at
08:38
| Comments (2)
| Trackbacks (0)
View as PDF: This entry | This month | Full blog
View as PDF: This entry | This month | Full blog


Sy sdh coba gyachi, tapi ribet dan conference tdk berhasil menggunakan video chat.
Kemudian sy install kopete , di Menu - Setting - Configure - Video sudah bisa menampilkan webcam.
tapi sy tidak bisa invite orang lain utk lihat webcam saya, kemudian kalo orang lain view webcam saya juga tdk bisa.
APa yg harus disetting ya?
Thx