
Jika penyair mati, sudah lama kami sadari. Ketika sajak-sajaknya menjadi dewasa, seorang penyair akan segera mati, sementara sajak-sajaknya menemukan hidupnya sendiri. Sajak-sajak itu akan menemukan maknanya sendiri. Sang penyair tak akan lagi bisa memiliki makna dan tafsirnya secara mutlak dan otoriter. Makna-makna lahir dari dekonstruksi pembacanya atas teks-teks sajak tersebut.
Seorang Rendra menjadi begitu istimewa, meski saya baru mengenalnya secara intens di bangku kuliah. Sajak-sajak Rendra era sebelum dilabeli sebagai sajak pamflet oleh publik sastra, adalah sajak-sajak yang subtil, penuh suasana batin yang menggairahkan, bebas dan banal. Mengutip Emha Ainun Najib, membaca Rendra adalah membaca sajak-sajak dengan aksentuasi publik. Sajak-sajak Rendra, tak membuat dahi berkerut, tapi tak berarti dangkal. Sajak-sajak Rendra dapat dinikmati secara personal di dalam kamar sepi kita, tapi lebih indah dinikmati jika dibacakan. Rendra telah melakukannya, jauh sebelum sajak-sajak Sapardi Djoko Damono lahir dalam bentuk musikalisasi puisi, Rendra telah pernah merekam sajak-sajaknya. Saya ingat sekali kasetnya diproduksi oleh Soekarno M. Noor dengan judul Balada Orang-orang Tercinta, seperti judul kumpulan sajak-sajak balada Rendra yang paling fenomenal, menurut saya.
Balada Orang-orang Tercinta berkisah tentang semua orang-orang yang kita anggap dekat atau menerbitkan rasa dekat dan cinta kita pada mereka, oleh hidup mereka. Di kaset itu juga termasuk sajak terkenalnya: Khotbah, berkisah tentang khotbah seorang pendeta yang berakhir dengan tragis. Mendengarkannya, mengingat suasana batin ketika mendengarkannya membuat selalu membangkitkan ketegangan tersendiri pada diri saya. Sajak itu dibawakan dengan mencekam oleh Rendra.
Rendra juga selalu menjaga sikap budayanya. Sikap itu tak membuatnya jauh dari bumi orang-orang yang dicintainya dalam sajak-sajaknya, tapi juga tak membuat penyair mati lebih cepat karena tak mampu lagi melahirkan karya sastra tinggi. Rendra juga bereksperimen tak hanya dengan sajak, tapi juga dalam dunia teater. Drama mini kata, adalah salah satu contohnya. Rendra sering menggunakan gaya repetitif dalam banyak sajaknya, tapi Rendra terlalu jenius untuk tak sadar bahwa kata bisa menjadi destruktif ketika lahir dari mulut dan pikiran sang penyair. Kata-kata bisa lahir bak mitraliur yang sedang memuntahkan peluru, tapi kosong tanpa makna. Kata menjadi tanda kehancuran maknanya sendiri. Seperti iklan atau kampanye politik yang bodoh, degil dan kosong.
Karya-karya Rendra tak pernah jauh, mereka dekat. Saya selalu merasa adrenalin menderas ketika membaca sajak-sajak vitalis Chairil Anwar. Sementara membaca sajak-sajak Rendra, mendengar dan melihatnya membaca sajak, serasa membuat gairah akan hidup saya berkobar-kobar dalam romantisme bercampur dengan rasa dekat dengan kejelataan, pemihakan pada yang tertindas, kesadaran bahwa kita ada sebagai bagian dari semua menjadi nyata. Sikap budaya Rendra juga tercermin dari keberadaan Bengkel Teater-nya.
Rendra berangkat kemarin malam. Ya bung Rendra, orang-orang tetap harus dibangunkan, sajak-sajakmu masih akan terus bernyanyi menjadi saksi.
Kami akan sangat berterima kasih jika teman blogger memberikan sedikit review/tulisan tentang Kombes.Com Bookmarking pada blog ini.
Salam hormat
http://kombes.Com