Setelah hampir dua bulan, akhirnya saya merasa cukup bisa mulai dituliskan hasil menggaulkan Acer 1810T dengan Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope. Acer 1810T adalah satu dari jajaran notebook model baru Acer Aspire Timeline series. Acer Timeline series meliputi model: 4810, 3810, 1810 dan terakhir 1410. Dengan beberapa perbedaan spesifikasi, tetapi semuanya punya ciri khas batere tahan lama (di brosur diklaim 8+ jam, yang saya coba sendiri lebih dari 6 jam saja dengan penggunaan standar). Semua seri Aspire Timeline datang dengan Windows Vista Home Premium. Tapi begitu mendapatkannya, saya sudah tak sabar langsung menjajalnya dengan Ubuntu 9.04.
Sunday, October 25. 2009
Ubuntu 9.04 di Acer 1810T
ACER 1810T
Acer 1810T juga hadir di pasaran saat ini sebagai 1410 sebagaimana di Eropa. Spesifikasi yang membuat saya tertarik, selain batere-nya adalah seri CPU baru Core 2 Solo, RAM sudah 4GB, layar 11,6 inch, WiFi ready, bluetooth EDR, 320 GB SATA dan masih ditambah DVD writer eksternal. Spesifikasi ini meletakkan seri ini sedikit di atas Netbook laris manis Aspire One. 11 Inch adalah pilihan yang menarik, karena memberikan layar yang lebih lebar dari netbook Aspire One tapi masih dapat ditenteng dengan ringan dan praktis.
Processor Core 2 Solo adalah jajaran processor 64Bit Intel yang paling ringan harganya. Meski begitu Windows Vista Home Premium yang disertakan dalam paket pembelian adalah Vista 32Bit. Dan seperti yang saya coba sebelumnya di tempat lain, kinerjanya menyebalkan. Vista memberikan terlalu banyak rayuan tampilan dengan penurunan kinerja. RAM 4 GB pun rasanya masih kurang leluasa dioptimasi presentasinya. Untuk semua pembelian Notebook dengan Vista setelah bulan Juni 2009, sebenarnya dibarengi dengan paket free upgrade ke Windows 7, setelah rilis resmi oktober 2009 ini. Tetapi berdasarkan aplikasi Windows Advisory Upgrade dari Microsoft, ternyata terdapat ketidak-kompatibel-an pada beberapa perangkat, drivernya entah langsung tersedia atau tidak. Paling tidak driver beberapa perangkat memang masih harus dicari pada situsnya atau tidak difungsikan selama menunggu Acer mengeluarkan driver resmi untuk mendukung Windows 7. Hal ini yang paling saya kuatirkan jika harus upgrade ke Windows 7. Berdasarkan versi Beta Windows 7 yang telah beredar, memang ada perbedaan kinerja Windows Vista dan Windows 7 tetapi rasanya perbedaan kinerja tersebut tidak terlalu signifikan, jadi paling tepat rasanya memang beralih ke Ubuntu sepenuhnya.
Pilih Ubuntu 9.04
Saya langsung pilih menggunakan Ubuntu 9.04. Ubuntu adalah salah satu distro yang seksi menurut saya saat ini. Karena dukungan komersial Canonical, komunitas yang luas, dan posisi yang tetap berada di Opensource. Ubuntu dapat dibedakan dari Redhat yang total komersial atau Debian yang total free. Meski begitu Ubuntu tetap punya dukungan luas karena diturunkan dari distro besar, tua dan kuat seperti Debian. Tambahan lain, mirror repository paket-paket perangkat lunaknya banyak tersedia di Indonesia, jadi tak harus susah payah mengunduh update, patch dan paket-paket yang diperlukan lainnya dari repository di luar Indonesia.
Instalasi standar dari Ubuntu, tak rumit. Setelah mengunduh iso Ubuntu dari repository lokal Indonesia, bakar CD atau deploy iso pada thumbdrive USB Flash dan jalankan Ubuntu Live CD/ Live USB. Saya sendiri mendeploy-nya pada USB Flash 2GB dan melakukan instalasi dari Live USB. Setelah sedikit googling, saya meyakinkan diri untuk memilih Ubuntu 9.04 versi 64Bit (AMD64 iso), karena seri Intel Core 2 sudah berarsitektur 64 Bit. Tak ada yang berbeda dengan versi 32 Bit, hanya saja semua paket-paket Ubuntu dikompilasi 64 Bit pula. Dan jika kita mengunduh paket dari luar repository resmi Ubuntu, kita harus memilih yang versi 64 Bit. Instalasi dasar hanya perlu waktu kurang dari 30 menit, dan saya sudah dapatkan Ubuntu dengan semua paket standar untuk keperluan berinternet (browsing, chatting, email), bekerja dengan berkas-berkas (OpenOffice: WordProcessor, Spreadsheet, Presentation) dan mengedit gambar: GIMP, bermultimedia: (Memutar musik, bakar CD, menonton film, mengelola foto-foto dari kamera digital) dst.
Semua perangkat bisa bekerja dengan baik dan langsung bisa digunakan: webcam, WiFI, kendali dengan tombol Fn dan sound system. Sedikit masalah tak terlalu berarti ditemukan pada driver LAN Card. LAN Card tak langsung dikenali, lakukan hal berikut:
maka kita akan dapatkan:
Masuk mesin pencari, copy-paste saja hasil tersebut diatas sebagai keyword maka kita akan temukan cara lengkap prosedur instalasi perangkat disini
Kesimpulan
Saya tak harus membuang Vista, jadi dual boot masih ok saja buat saya, meski hampir tak pernah saya bekerja di Vista. Bahkan modem Huawei e220 juga langsung dikenali. Network Manager langsung menuntun setup koneksi Internet mau dengan provider operator Telkomsel, Indosat atau XL, koneksi langsung ter-setup dan langsung jalan. Saya tak kuatir dengan kekuatan Core 2 Solo, karena masih ada RAM 4 GB. Untuk kebutuhan komputasi harian dan pekerjaan, ini sudah lebih dari cukup. Form Factor lagi-lagi jadi pertimbangan utama saya (sebagaimana ketika membeli Netbook), karena tak harus 14 inch, tetap tipis tapi tak sekecil layar Netbook. Akibatnya spesifikasi tersebut memang niscaya membuat batere jadi lebih hemat. Acer juga menyediakan eRecovery yang dapat mengembalikan kondisi Notebook kembali seperti baru dari pabrikan, jika terjadi sesuatu pada Hardisk dan Sistem Operasi. Tapi rasanya ini tak kita perlukan. Ubuntu Jaunty Jackalope telah menyediakan paket remastersys, untuk melakukan remastering apapun yang telah kita instalasikan. Hasil remastering dapat mengembalikan Ubuntu pada kondisi pada saat kita melakukan remastering. Ini adalah cara backup mudah isi komputer lengkap dengan konfigurasinya. Cepat dan mudah, kata-kata kunci yang saya paling sukai.
Acer 1810T juga hadir di pasaran saat ini sebagai 1410 sebagaimana di Eropa. Spesifikasi yang membuat saya tertarik, selain batere-nya adalah seri CPU baru Core 2 Solo, RAM sudah 4GB, layar 11,6 inch, WiFi ready, bluetooth EDR, 320 GB SATA dan masih ditambah DVD writer eksternal. Spesifikasi ini meletakkan seri ini sedikit di atas Netbook laris manis Aspire One. 11 Inch adalah pilihan yang menarik, karena memberikan layar yang lebih lebar dari netbook Aspire One tapi masih dapat ditenteng dengan ringan dan praktis.Processor Core 2 Solo adalah jajaran processor 64Bit Intel yang paling ringan harganya. Meski begitu Windows Vista Home Premium yang disertakan dalam paket pembelian adalah Vista 32Bit. Dan seperti yang saya coba sebelumnya di tempat lain, kinerjanya menyebalkan. Vista memberikan terlalu banyak rayuan tampilan dengan penurunan kinerja. RAM 4 GB pun rasanya masih kurang leluasa dioptimasi presentasinya. Untuk semua pembelian Notebook dengan Vista setelah bulan Juni 2009, sebenarnya dibarengi dengan paket free upgrade ke Windows 7, setelah rilis resmi oktober 2009 ini. Tetapi berdasarkan aplikasi Windows Advisory Upgrade dari Microsoft, ternyata terdapat ketidak-kompatibel-an pada beberapa perangkat, drivernya entah langsung tersedia atau tidak. Paling tidak driver beberapa perangkat memang masih harus dicari pada situsnya atau tidak difungsikan selama menunggu Acer mengeluarkan driver resmi untuk mendukung Windows 7. Hal ini yang paling saya kuatirkan jika harus upgrade ke Windows 7. Berdasarkan versi Beta Windows 7 yang telah beredar, memang ada perbedaan kinerja Windows Vista dan Windows 7 tetapi rasanya perbedaan kinerja tersebut tidak terlalu signifikan, jadi paling tepat rasanya memang beralih ke Ubuntu sepenuhnya.
Pilih Ubuntu 9.04
Saya langsung pilih menggunakan Ubuntu 9.04. Ubuntu adalah salah satu distro yang seksi menurut saya saat ini. Karena dukungan komersial Canonical, komunitas yang luas, dan posisi yang tetap berada di Opensource. Ubuntu dapat dibedakan dari Redhat yang total komersial atau Debian yang total free. Meski begitu Ubuntu tetap punya dukungan luas karena diturunkan dari distro besar, tua dan kuat seperti Debian. Tambahan lain, mirror repository paket-paket perangkat lunaknya banyak tersedia di Indonesia, jadi tak harus susah payah mengunduh update, patch dan paket-paket yang diperlukan lainnya dari repository di luar Indonesia.
Instalasi standar dari Ubuntu, tak rumit. Setelah mengunduh iso Ubuntu dari repository lokal Indonesia, bakar CD atau deploy iso pada thumbdrive USB Flash dan jalankan Ubuntu Live CD/ Live USB. Saya sendiri mendeploy-nya pada USB Flash 2GB dan melakukan instalasi dari Live USB. Setelah sedikit googling, saya meyakinkan diri untuk memilih Ubuntu 9.04 versi 64Bit (AMD64 iso), karena seri Intel Core 2 sudah berarsitektur 64 Bit. Tak ada yang berbeda dengan versi 32 Bit, hanya saja semua paket-paket Ubuntu dikompilasi 64 Bit pula. Dan jika kita mengunduh paket dari luar repository resmi Ubuntu, kita harus memilih yang versi 64 Bit. Instalasi dasar hanya perlu waktu kurang dari 30 menit, dan saya sudah dapatkan Ubuntu dengan semua paket standar untuk keperluan berinternet (browsing, chatting, email), bekerja dengan berkas-berkas (OpenOffice: WordProcessor, Spreadsheet, Presentation) dan mengedit gambar: GIMP, bermultimedia: (Memutar musik, bakar CD, menonton film, mengelola foto-foto dari kamera digital) dst.
Semua perangkat bisa bekerja dengan baik dan langsung bisa digunakan: webcam, WiFI, kendali dengan tombol Fn dan sound system. Sedikit masalah tak terlalu berarti ditemukan pada driver LAN Card. LAN Card tak langsung dikenali, lakukan hal berikut:#lspci | grep Ethernet
maka kita akan dapatkan:
01:00.0 Ethernet controller: Attansic Technology Corp. Device 1063 (rev c0)
Masuk mesin pencari, copy-paste saja hasil tersebut diatas sebagai keyword maka kita akan temukan cara lengkap prosedur instalasi perangkat disini
Kesimpulan
Saya tak harus membuang Vista, jadi dual boot masih ok saja buat saya, meski hampir tak pernah saya bekerja di Vista. Bahkan modem Huawei e220 juga langsung dikenali. Network Manager langsung menuntun setup koneksi Internet mau dengan provider operator Telkomsel, Indosat atau XL, koneksi langsung ter-setup dan langsung jalan. Saya tak kuatir dengan kekuatan Core 2 Solo, karena masih ada RAM 4 GB. Untuk kebutuhan komputasi harian dan pekerjaan, ini sudah lebih dari cukup. Form Factor lagi-lagi jadi pertimbangan utama saya (sebagaimana ketika membeli Netbook), karena tak harus 14 inch, tetap tipis tapi tak sekecil layar Netbook. Akibatnya spesifikasi tersebut memang niscaya membuat batere jadi lebih hemat. Acer juga menyediakan eRecovery yang dapat mengembalikan kondisi Notebook kembali seperti baru dari pabrikan, jika terjadi sesuatu pada Hardisk dan Sistem Operasi. Tapi rasanya ini tak kita perlukan. Ubuntu Jaunty Jackalope telah menyediakan paket remastersys, untuk melakukan remastering apapun yang telah kita instalasikan. Hasil remastering dapat mengembalikan Ubuntu pada kondisi pada saat kita melakukan remastering. Ini adalah cara backup mudah isi komputer lengkap dengan konfigurasinya. Cepat dan mudah, kata-kata kunci yang saya paling sukai.
Posted by Meta Nurwidyanto
in Linux
at
07:53
| Comment (1)
| Trackbacks (0)
View as PDF: This entry | This month | Full blog
View as PDF: This entry | This month | Full blog
Trackbacks
Trackback specific URI for this entry
No Trackbacks

