Meski rasanya belum terlalu lama menggunakan Jaunty, saya meyakinkan diri untuk mengganti sistem operasi saya dengan Ubuntu 9.10 Karmic Koala, nama yang bagus untuk sebuah kode rilis sebuah distro. Saya tunggu sampai 2 hari dari tanggal rilis 29 Oktober 2009, setidaknya berharap lalu lintas upgrade sudah agak lebih reda daripada hari saat diumumkannya. Selalu ada pilihan untuk ke rilis baru: fresh install atau upgrade? Saat saya menggunakan Debian, saya hampir tidak pernah melakukan fresh install dari sejak sistem operasi tersebut dipasang pertama kalinya. Pada Mandrake (nama lama Mandriva) atau PCLinuxOS, meski saya selalu update desktop/laptop saya dengan aplikasi terbaru yang saya butuhkan, saya selalu memilih fresh install saat ada rilis baru, karena beberapa kali saya gagal melakukan upgrade. Fresh install biasanya saya lakukan karena juga ingin sekaligus membersihkan apa-apa yang tidak saya perlukan lagi. Beda dengan Windows, meski tak keluar rilis baru, saya ingat dulu secara periodik saya install ulang Windows, karena semakin lama biasanya kinerjanya semakin turun, semakin banyak sampah di registry yang tidak bisa saya bersihkan (meskipun dengan utility pembersih sampah registry, yang kadang malah kebablasan menghapus registry penting lainnya). Ubuntu adalah turunan Debian, bahkan saya sendiri masih merasa Ubuntu adalah Debian plus. Plus-nya adalah layanan & dukungan Canonical, rilis seri lebih cepat dan kompak desktopnya. Sepertinya saya cenderung menggunakan cara Debian pula memeliharanya.
Tuesday, November 3. 2009
Karmic Koala: Upgrade atau Fresh Install?
Upgrade
Ini adalah pilihan utama saya. Alasan utamanya karena saya masih bisa menjaga konfigurasi seluruh sistem dan desktop saya. Ini juga saya lakukan karena memang baru saja notebook saya, saya cekoki dengan Jaunty dua bulan lalu. Meski begitu, untuk menjaga dari semua hal yang tidak diinginkan, maka saya lakukan backup lebih dahulu pada semua konfigurasi dan data-data penting ke tempat lain: external Harddisk.
Upgrade berlangsung cepat. Prosedur yang saya lakukan adalah yang saya pahami sejak dulu dari jaman Debian. Sebab cara upgrade yang saya simak dari beberapa situs, memang sedikit beda dengan yang biasa saya lakukan.
Backup dulu sources.list yang ada
Edit /etc/apt/sources.list
Update database paket dan upgrade distribusi
Asumsi -y adalah kita menyetujui eksekusi upgrade tanpa menunggu interaksi kita lagi. Dengan begitu 3 langkah diatas dapat kita lakukan secara background dan kita jadwalkan eksekusinya di crontab. Jika kita gunakan GSM modem unlimited atau leased-line maka kita bisa tinggalkan mengerjakan hal lain dulu, atau tidur
(jika kita lakukan pada malam hari, pagi bangun sudah beres).
Karmic sudah mengarahkan kita pada ext4. Karena yang saya temukan dari google, upgrade ext3 ke ext4 tidak akan membahayakan data, maka saya pilih upgrade partisi ext3 saya ke ext4 untuk partisi yang saya gunakan sebagai tempat program-program, sementara pada data (/home) masih saya biarkan sebagai ext3. Menurut laporan, ada beberapa fitur hasil upgrade partisi ini tidak memanfaatkan keunggulan ext4. So be it, lagipula saya masih perlu mengevaluasi kinerja ext4 dibandingkan ext3, sebagaimana dulu saya lakukan pada ext3 atau reiserfs dari ext2, sebelum akhirnya saya putuskan pilih ext3.
Fresh Install
Hal ini saya lakukan karena saya memang punya keperluan lain. Yaitu mengubah Ubuntu 32Bit Jaunty ke Ubuntu 64Bit. Karmic adalah saat yang tepat sekaligus upgrade distro ke rilis baru dengan arsitektur 64Bit. Kebetulan pula PC desktop itu ditambahkan RAM-nya menjadi 4GB
Bukan hal istimewa, memang, karena toh desktop itu juga jarang saya gunakan untuk pekerjaan berat, seperti game 3D atau kompilasi program-program berat.
Fresh install berlangsung cepat, setelah saya download ubuntu-9.04-desktop-amd64.iso dari mirror-mirror terdekat di Indonesia. Deploy iso tersebut ke USB Flash (thumb drive) dari Jaunty dengan USB Startup Disk Creator. Jika itu belum tersedia, maka kita instalasikan dulu di Jaunty:
Bisa pula menggunakan UNetbootin, setelah:
maka UNetbootin dapat ktia temukan di Applications > System Tools.

Setelah deploy iso pada USB Flash selesai, maka kita reboot PC, pindahkan boot priority pada USB Flash tersebut dan booting. Pada fresh install, proses berlangsung cepat. Hanya dibutuhkan waktu kurang dari 30 menit untuk seluruh setup dasar Karmic 64 dari nol. Padahal di dalamnya sudah mengangkut segerobak aplikasi seperti GIMP (komplemen Photoshop di Linux), OpenOffice 3.1 (komplemen Office Suite MS Office di Linux), pemutar audio, movie, editor text, pdf viewer, pembakar CD/DVD, browser Firefox, email client Evolution dsb. Bandingkan dengan Vista atau bahkan Windows 7, dengan waktu instalasi sama, apa yang akan kita peroleh? Rasanya sistem operasi-nya pun belum akan siap dalam waktu kurang dari 30 menit tersebut.
Hasilnya
Fresh Install/Upgrade, Karmic cukup mengesankan. Semuanya berlangsung cepat. Jika ada koneksi internet yang baik, rasanya upgrade lebih baik daripada fresh install. Konfigurasi hampir tak ada yang berubah, jika upgrade. Jika ada yang berlangsung lama ketika upgrade adalah hal-hal minor saja. Saya melakukan dua-duanya karena punya kepentingan yang berbeda. Tapi hasil yang saya peroleh kira-kira sama. Ketika upgrade hampir semua aplikasi non standar distribusi CD yang saya instalasikan di Jaunty, juga ikut diupgrade pada Karmic. Jadi ketika pada PC Desktop saya lakukan fresh install, apa yang saya telah download dari upgrade yang tidak langsung saya temukan di fresh install, dapat saya pindahkan ke PC fresh install, lalu instalasikan sebagaimana biasa.
Secara keseluruhan, hampir tak banyak yang dilakukan pada desktop Karmic dalam waktu 6 bulan. GDM login lebih cepat, karena GDM yang berat dan bisa dikustomisasi theme-nya hilang pada Karmic. Shutdown juga terasa lebih cepat. Penggunaan xsplash menggantikan usplash juga memberikan pengaruh pemuatan/pelepasan desktop. Tapi saya cukup kehilangan GDM themes. Saya putuskan mencari cara agar saya bisa menggunakan lagi GDM themes favorit atau desain sendiri, daripada standar seperti itu.
Pada Karmic, instant messenger standarnya adalah Empathy. Empathy punya banyak kelebihan dibandingkan Pidgin, favorit saya dari jaman namanya masih Gaim dulu. Empathy sudah mendukung Webcam dan SIP. Tapi jika keperluannya hanya instant messaging, saya masih merasa Pidgin lebih baik. Entah kenapa Google Talk tak dapat koneksi pada Empathy, tetapi pada Pidgin, lancar-lancar saja. Empathy tak jelek, hanya saja saya masih terlalu berat berlepas dari Pidgin, yang sederhana dan masih memenuhi kebutuhan saya: tanpa SIP dan Webcam.
Selebihnya, hampir tak saya temukan perubahan signifikan. Karena komputasi desktop saya juga standar-standar saja, mungkin. Tapi saya cukup puas dengan peningkatan kecepatan loading desktop dan beberapa aplikasi. Tak terlalu signifikan, tapi sudah berati ada peningkatan.
Catatan
Jika dihitung, 6 bulan sebenarnya adalah waktu yang cukup singkat untuk menyiapkan rilis sebuah distro. Tapi Canonical tetap disiplin dengan janjinya untuk mengeluarkan rilis baru setiap 6 bulan. Dan LTS (Long Term Support) setiap 2 rilis besar, jadi tiap 1,5 tahun. Maka rilis terbaru Karmic Koala 9.10 ada pembuka untuk rilis besar LTS, Ubuntu 10.04 Lucyd Lynx. Bagi saya ini adalah sebuah konsistensi yang bisa diandalkan. Jika Redhat adalah bukti bahwa bisnis berbasis Linux bisa diandalkan pada kelas Enterprise, terbukti dari nilai saham Redhat yang saat ini tidak dibawah Microsoft. Maka Ubuntu memberikan lebih dari sekedar itu, dengan gerak dari lingkaran desktop (Redhat/Novell lebih memberikan layanan untuk kelas Server), Ubuntu terus mengarahkan pada distribusi yang lebih baik untuk server. Yang paling saya sukai dari semua distro turunan Debian, adalah kekayaan paket-paket aplikasinya, sehingga jika kita butuh paket aplikasi atau utilitas server untuk kebutuhan tertentu sudah tersedia. Modul-modul untuk storage: iSCSI, AoE (ATA over Ethernet) atau GlusterFS sudah tersedia, sebagaimana paket-paket untuk desktop seperti driver printer, bluetooth, GSM modem juga sudah tersedia. yang jauh lebih penting dari kekayaan distro adalah stabilitas dan keluasan ketersediaan mirror, untuk memudahkan pemeliharaan server/desktop kita. Great job Ubuntu!
Ini adalah pilihan utama saya. Alasan utamanya karena saya masih bisa menjaga konfigurasi seluruh sistem dan desktop saya. Ini juga saya lakukan karena memang baru saja notebook saya, saya cekoki dengan Jaunty dua bulan lalu. Meski begitu, untuk menjaga dari semua hal yang tidak diinginkan, maka saya lakukan backup lebih dahulu pada semua konfigurasi dan data-data penting ke tempat lain: external Harddisk.
Upgrade berlangsung cepat. Prosedur yang saya lakukan adalah yang saya pahami sejak dulu dari jaman Debian. Sebab cara upgrade yang saya simak dari beberapa situs, memang sedikit beda dengan yang biasa saya lakukan.
Backup dulu sources.list yang ada
#cp /etc/apt/sources.list /etc/apt/sources.list.backup
Edit /etc/apt/sources.list
#vim /etc/apt/sources.list
dalam vim lakukan hal berikut:
:%s/jaunty/karmic
:wq!
Update database paket dan upgrade distribusi
#apt-get update && apt-get dist-upgrade -y
Asumsi -y adalah kita menyetujui eksekusi upgrade tanpa menunggu interaksi kita lagi. Dengan begitu 3 langkah diatas dapat kita lakukan secara background dan kita jadwalkan eksekusinya di crontab. Jika kita gunakan GSM modem unlimited atau leased-line maka kita bisa tinggalkan mengerjakan hal lain dulu, atau tidur
Karmic sudah mengarahkan kita pada ext4. Karena yang saya temukan dari google, upgrade ext3 ke ext4 tidak akan membahayakan data, maka saya pilih upgrade partisi ext3 saya ke ext4 untuk partisi yang saya gunakan sebagai tempat program-program, sementara pada data (/home) masih saya biarkan sebagai ext3. Menurut laporan, ada beberapa fitur hasil upgrade partisi ini tidak memanfaatkan keunggulan ext4. So be it, lagipula saya masih perlu mengevaluasi kinerja ext4 dibandingkan ext3, sebagaimana dulu saya lakukan pada ext3 atau reiserfs dari ext2, sebelum akhirnya saya putuskan pilih ext3.
Fresh Install
Hal ini saya lakukan karena saya memang punya keperluan lain. Yaitu mengubah Ubuntu 32Bit Jaunty ke Ubuntu 64Bit. Karmic adalah saat yang tepat sekaligus upgrade distro ke rilis baru dengan arsitektur 64Bit. Kebetulan pula PC desktop itu ditambahkan RAM-nya menjadi 4GB
Fresh install berlangsung cepat, setelah saya download ubuntu-9.04-desktop-amd64.iso dari mirror-mirror terdekat di Indonesia. Deploy iso tersebut ke USB Flash (thumb drive) dari Jaunty dengan USB Startup Disk Creator. Jika itu belum tersedia, maka kita instalasikan dulu di Jaunty:
#apt-get update && apt-get install usb-creator
Bisa pula menggunakan UNetbootin, setelah:
#apt-get install unetbootin
maka UNetbootin dapat ktia temukan di Applications > System Tools.

Setelah deploy iso pada USB Flash selesai, maka kita reboot PC, pindahkan boot priority pada USB Flash tersebut dan booting. Pada fresh install, proses berlangsung cepat. Hanya dibutuhkan waktu kurang dari 30 menit untuk seluruh setup dasar Karmic 64 dari nol. Padahal di dalamnya sudah mengangkut segerobak aplikasi seperti GIMP (komplemen Photoshop di Linux), OpenOffice 3.1 (komplemen Office Suite MS Office di Linux), pemutar audio, movie, editor text, pdf viewer, pembakar CD/DVD, browser Firefox, email client Evolution dsb. Bandingkan dengan Vista atau bahkan Windows 7, dengan waktu instalasi sama, apa yang akan kita peroleh? Rasanya sistem operasi-nya pun belum akan siap dalam waktu kurang dari 30 menit tersebut.
Hasilnya
Fresh Install/Upgrade, Karmic cukup mengesankan. Semuanya berlangsung cepat. Jika ada koneksi internet yang baik, rasanya upgrade lebih baik daripada fresh install. Konfigurasi hampir tak ada yang berubah, jika upgrade. Jika ada yang berlangsung lama ketika upgrade adalah hal-hal minor saja. Saya melakukan dua-duanya karena punya kepentingan yang berbeda. Tapi hasil yang saya peroleh kira-kira sama. Ketika upgrade hampir semua aplikasi non standar distribusi CD yang saya instalasikan di Jaunty, juga ikut diupgrade pada Karmic. Jadi ketika pada PC Desktop saya lakukan fresh install, apa yang saya telah download dari upgrade yang tidak langsung saya temukan di fresh install, dapat saya pindahkan ke PC fresh install, lalu instalasikan sebagaimana biasa.
Secara keseluruhan, hampir tak banyak yang dilakukan pada desktop Karmic dalam waktu 6 bulan. GDM login lebih cepat, karena GDM yang berat dan bisa dikustomisasi theme-nya hilang pada Karmic. Shutdown juga terasa lebih cepat. Penggunaan xsplash menggantikan usplash juga memberikan pengaruh pemuatan/pelepasan desktop. Tapi saya cukup kehilangan GDM themes. Saya putuskan mencari cara agar saya bisa menggunakan lagi GDM themes favorit atau desain sendiri, daripada standar seperti itu.
Pada Karmic, instant messenger standarnya adalah Empathy. Empathy punya banyak kelebihan dibandingkan Pidgin, favorit saya dari jaman namanya masih Gaim dulu. Empathy sudah mendukung Webcam dan SIP. Tapi jika keperluannya hanya instant messaging, saya masih merasa Pidgin lebih baik. Entah kenapa Google Talk tak dapat koneksi pada Empathy, tetapi pada Pidgin, lancar-lancar saja. Empathy tak jelek, hanya saja saya masih terlalu berat berlepas dari Pidgin, yang sederhana dan masih memenuhi kebutuhan saya: tanpa SIP dan Webcam.
Selebihnya, hampir tak saya temukan perubahan signifikan. Karena komputasi desktop saya juga standar-standar saja, mungkin. Tapi saya cukup puas dengan peningkatan kecepatan loading desktop dan beberapa aplikasi. Tak terlalu signifikan, tapi sudah berati ada peningkatan.
Catatan
Jika dihitung, 6 bulan sebenarnya adalah waktu yang cukup singkat untuk menyiapkan rilis sebuah distro. Tapi Canonical tetap disiplin dengan janjinya untuk mengeluarkan rilis baru setiap 6 bulan. Dan LTS (Long Term Support) setiap 2 rilis besar, jadi tiap 1,5 tahun. Maka rilis terbaru Karmic Koala 9.10 ada pembuka untuk rilis besar LTS, Ubuntu 10.04 Lucyd Lynx. Bagi saya ini adalah sebuah konsistensi yang bisa diandalkan. Jika Redhat adalah bukti bahwa bisnis berbasis Linux bisa diandalkan pada kelas Enterprise, terbukti dari nilai saham Redhat yang saat ini tidak dibawah Microsoft. Maka Ubuntu memberikan lebih dari sekedar itu, dengan gerak dari lingkaran desktop (Redhat/Novell lebih memberikan layanan untuk kelas Server), Ubuntu terus mengarahkan pada distribusi yang lebih baik untuk server. Yang paling saya sukai dari semua distro turunan Debian, adalah kekayaan paket-paket aplikasinya, sehingga jika kita butuh paket aplikasi atau utilitas server untuk kebutuhan tertentu sudah tersedia. Modul-modul untuk storage: iSCSI, AoE (ATA over Ethernet) atau GlusterFS sudah tersedia, sebagaimana paket-paket untuk desktop seperti driver printer, bluetooth, GSM modem juga sudah tersedia. yang jauh lebih penting dari kekayaan distro adalah stabilitas dan keluasan ketersediaan mirror, untuk memudahkan pemeliharaan server/desktop kita. Great job Ubuntu!
Posted by Meta Nurwidyanto
in Linux
at
14:33
| Comments (0)
| Trackbacks (0)
View as PDF: This entry | This month | Full blog
View as PDF: This entry | This month | Full blog
Trackbacks
Trackback specific URI for this entry
No Trackbacks

