Menggunakan Linux sebagai desktop utama sudah makin jamak dan biasa. Tapi menjadikan Linux desktop andalan di komputasi ringan seperti netbook, rasanya masih akan perlu waktu lama. Indikasi ini hampir tidak keliru jika dilihat dari ketika booming netbook 2008 dimulai, Linpus meski inovatif tapi tak terlalu berkilau, Ubuntu yang sudah berinovasi dengan Ubuntu Netbook Remix (UNR) yang antarmukanya juga lumayan intuitif, tak terlalu juga menarik minat vendor-vendor netbook untuk menggandengnya sebagai sistem operasi utama. Sebagian besar produsen netbook, malah mengandalkan lagi hardisk besar dengan Windows XP sebagai sistem operasi pilihan utama. Padahal sudah jauh-jauh hari Intel berinisiatif mendesain sistem operasi yang ringan tapi sangat responsif untuk prosesor atom-nya. Proyek itu kemudian diserahkan kepada Linux Foundation dan diberi nama Moblin. Moblin dimulai dari Intel (si pembuat atom sendiri), dikomandani oleh orang-orang Intel dan mengambil distro Fedora sebagai dasarnya.
Sunday, December 6. 2009
Ubuntu Moblin Remix 9.10: Moblin Layak Jajal
Moblin 2.1
Setelah beberapa waktu, keluar rilis-rilis moblin, dimana pada era sebelum moblin 2, sangat GNOME dan tak intuitif. Selayaknya hanya bisa disebut, sebuah distro Linux baru yang lain. Tetapi Moblin 2.1 mulai menampakkan hasilnya. Moblin 2.1 sebenarnya juga sebuah distro baru dengan window manager di luar mainstream Gnome atau KDE. Antarmukanya berbeda sama sekali dengan konsep desktop standar dari semua window manager yang sudah pernah ada: Gnome, KDE, LXDE dll. Antarmuka ini dengan konfigurasi desktop tanpa service berat, bisa diharapkan mempercepat waktu boot (tanpa login). Testimoni booting Moblin asli (berbasis Fedora), pada ASUS eeePC bisa 5 detik sampai seluruh desktop siap digunakan. Moblin memang dioptimasi terutama untuk netbook, menonjolkan kesederhanaan, pengurangan banyak hal yang tidak perlu, antarmuka intuitif, ramping, ringan tapi cukup untuk dipakai berinternet dan bekerja dengan dokumen-dokumen standar sambil mendengarkan musik atau memutar video.

Menjajal sendiri Moblin, saya penasaran dengan waktu boot-nya terutama. Dan karena Ubuntu juga sudah mengumumkan akan mendukung proyek Moblin, maka saya juga mencari dan mengunduh image/iso Moblin dan Moblin dari Ubuntu, Canonical menyebutnya Ubuntu Moblin Remix (sekedar tak menjauhkannya dari distro Netbook Ubuntu yang lain, Ubuntu Netbook Remix). Tetapi pada versi asal Moblin 2.1, sedikit berbeda dengan versi Ubuntu. Versi asli Moblin 2.1, hanya saya coba sekali saja. Tak ada alasan khusus, hanya saya kurang pas dengan lingkungan Fedora, karena sehari-hari saya sudah lama berada di lingkungan Debian/Ubuntu dengan kekayaan paket dan apt-get favorit saya. Maka akibatnya ketika menggunakan Moblin 2.1 pada koneksi internet/jaringan saya kurang leluasa banyak hal, terutama mengambil aplikasi yang saya butuhkan. Moblin meskipun diarahkan untuk penggunaan ringan dan harus enteng, tapi tak berarti kita tak bisa menambahkan beberapa kebutuhan kita. Office Suite misalnya tak langsung ada pada Moblin 2.1 asli, dan kalaupun bisa diinstalasikan dari Moblin Garage juga hanya tersedia Abiword, bukan OpenOffice. Media Player juga belum menyertakan codec tertentu yang kita butuhkan untuk memainkan file-file multimedia seperti mp3 atau 3gp. Modem / modul 3G tak bisa langsung digunakan begitu juga dengan koneksi jarigan WIFI atau Wired (kabel) yang tak menggunakan DHCP.
Ubuntu Moblin Remix
Sebenarnya komitmen mendukung proyek Moblin dari Canonical Ubuntu hanyalah keniscayaan. Sebab Ubuntu sudah memulai proyek distro khusus untuk Netbook dengan Netbook Remix. Sekali saya mencoba Ubuntu Moblin Remix, saya langsung menemukan lingkungan yang sangat familiar tetapi dengan antarmuka yang berbeda konsepnya. Saya pengguna Debian yang beralih ke Ubuntu, jadi sudah tak terlalu asing dengan konfigurasi dan struktur direktori Debian/Ubuntu. Pada dasarnya perangkat koneksi Wired, WiFi dan 3G dengan modem Huawei e220 saya langsung dikenali. Tapi konfigurasi dari GUI bahkan Conman (paket Configuration Manager untuk Moblin) juga tak banyak membantu. Tapi banyak cara lain di Ubuntu, sekali perangkat dikenali, tak ada kesulitan berarti lagi di Ubuntu.
Ubuntu Moblin Remix berbasis Ubuntu 9.10 Karmic Koala, sudah langsung menyertakan OpenOffice suite pada instalasi standar. Tapi Ubuntu sudah mengumumkan tak akan menyertakan lagi Openoffice suite pada versi Ubuntu berikutnya, Lucyd Lynx 10.4 yang dijawalkan akan dirilis April 2010. Jadi kemungkinan pada versi Ubuntu Moblin Remix berikutnya, juga tak akan menyertakan lagi OpenOffice suite.
Instalasi
Sebelum instalasi yang sebenarnya, saya mencoba Moblin pada lingkungan virtualisasi: VirtualBox. Moblin didistribusikan sebagai .img yang harus ditulis lebih dulu ke SD Card atau USB Flash drive. Tapi Ubuntu Moblin Remix berbentuk iso, yang bahkan tak perlu diinstalasikan lebih dulu, jika hanya ingin mencobanya di VirtualBox. Saya hanya perlu menjadikannya mounted CD dan boot dari CD di VirtualBox. Percobaan ini, malah tak berlangsung lama karena saya makin mau segera menginstalasikannya ke media fisik benar-benar.
Instalasi relatif cepat. Pada notebook saya, Acer 1810T, Core 2 Solo 1,4 GHz, 4 GB RAM, kurang dari 30 menit sudah saya dapatkan Moblin lengkap. Mula-mula saya menginstalasikannya pada SDHC 4 GB, karena bios Acer 1810T sudah mendukung boot langsung dari Multi Card Reader. Jadi saya tak langsung mempartisi hardisk dual boot (Ubuntu/Windows) saya untuk menambahkan Ubuntu Moblin Remix yang baru.
Hari kedua saya gunakan, segera saya satukan pada GRUB boot manager, saya tempatkan pada urutan kedua pilihan boot setelah Karmic Koala. Jadi pada boot manager Grub sudah ada tambahan Moblin, yang dijalankan dari Multi Card Reader. Pilihan lain pada Acer 1810T, adalah aktifasi F12, yaitu boot menu untuk memilih dari perangkat mana dulu kita inggin boot: CD/DVD USB eksternal, USB Flash, Harddisk atau Card Reader.
Seminggu saya gunakan, saya semakin tertarik, untuk meresmikannya menjadi satu bagian partisi yang berbeda, buka pada Multi Card Reader lagi. Maka saya iris partisi Vista 10 GB untuk moblin. Tapi karena satu dan lain hal, saya tetapkan untuk menggunakan format ext3 saja, bukan ext4. Saya iris, format dan pindahkan seluruh isi SDHC yang telah terinstal Moblin pada partisi baru tersebut. Modifikasi sedikit menu.lst dari Grub (1) untuk bisa booting ke partisi baru tersebut sebagai Moblin. Maka hadirlah Moblin jadi bagian tetap dari komputasi harian resmi saya.
Multimedia
Moblin memang sudah menyertakan Media Player. Tetapi belum dapat memainkan format-format yang (memang) tidak free, seperti mp3 dan 3gp. Ubuntu Moblin Remix sedikit berbeda, dimana kita bisa menambahkan codec-codec yang kita perlukan dari repository piranti lunak non-free. Untuk 3gp, setelah menambahkan codec-nya saya tetap tak bisa memainkannya pada media player (bisa tapi tanpa suara). Tapi dari repository Ubuntu saya tambahkan sendiri Totem Media Player. Instalasi Totem Media Player menarik sekaligus beberapa codec yang tidak ada pada instalasi standar Ubuntu Moblin Remix.
Penampilan Media Player juga berbeda dari media player mainstream yang telah ada. Codec yang didukung standarnya adalah dari Ogg Vorbis dan Ogg Theora. Hanya saja, saya kehilangan playlist. Klik file dan mainkan, sederhana sekali memang. Kita bisa tambahkan audacious atau rhythmbox pada Ubuntu Moblin Remix. Saya sendiri pilih Totem Media Player. Setidaknya Totem bisa memainkan cukup banyak codec, audio dan video, dan menyediakan tambahan kecil: playlist.
Media Player pada Moblin juga sekaligus berfungsi sebagai image viewer. Maka pada Media Player ada tiga kategori pada panel kirinya: Audio, Video dan Image. Satu aplikasi untuk semua multimedia file.
Koneksi Jaringan
Di ujung kanan atas panel desktop Moblin, terdapat applet koneksi jaringan, ada WiFi, Wired, 3G, bluetooth dan WiMAX. Tidak satupun bisa langsung berfungsi dan mudah dikonfigurasikan. Pada Ubuntu Moblin Remix, tanpa DHCP tak semudah dan sefleksibel Ubuntu dekstop biasa. Dan saya tebak pada Moblin aslinya juga tidak semudah seperti distro basisnya, Fedora. Jadi saya menggunakan terminal untuk membuat konfigurasi yang diperlukan untuk koneksi jaringan: WiFi atau Wired. Pada Ubuntu sebagaimana Debian, tanpa NetworkManager, konfigurasi jaringan pada /etc/network/interfaces. Edit dan sambungkan.

Koneksi 3G
Pada koneksi 3G, saya menebak saja. Karena menggunakan dasar Karmic, maka saya yakin, modem 3G tua saya Huawei e220, bisa langsung digunakan. Saya cuma perlu wvdial. Maka ketika WiFi atau Wired saya sedang terhubung ke jaringan dan saya punya akses ke internet, saya gunakan untuk mengambil paket wvdial, jalankan wvdialconf untuk membuat file konfigurasi, edit sesuai dengan operator 3G yang ada, lalu jalankan wvdial dengan file konfigurasi yang telah diedit lengkap dengan username, apn, nomor dial dan passwordnya. Koneksi 3G berhasil dijalankan!
Browsing dan Instant Messaging
Salah satu piranti utama berselancar internet adalah browser. Moblin Web Browser berpenampilan beda dengan Firefox, Opera atau Chromium tapi juga sudah mendukung tab browsing. Meski adblock menyatakan sudah mendukung Moblin Web Browser, tapi bagi end-user, masih belum tahu bagaimana caranya memasangkan ekstensi adblock. Adblock adalah salah satu ekstension favorit saya jika sedang berselancar di web. Adblock adalah salah satu alasan mengapa saya tak bisa meninggalkan Firefox. Jika kemudian di Opera juga sudah tersedia urlfilter dan pada Chrome OS (yang konon lebih cepat daripada Firefox) juga sudah tersedia ekstensi adsweep, ternyata masih juga saya belum dapat meninggalkan Firefox karena sudah terlanjur menemukan ekstensi-ektensi berguna lainnya. Karena belum tahu bagaimana memasangkan adblock pada Moblin Web Browser, saya pilih instalasi Firefox. Tapi apa mau dikata, ternyata Firefox crash tiap kali dijalankan, segmentation fault. Belum tahu sebabnya, tapi saya jadi menunda untuk mencoba browser lain yang tersedia untuk Ubuntu seperti Opera atau Chromium.
Kekurangan lain selain extension dan add-on adalah pengelolaan bookmark dan speed dial. Meski sudah ada speed dial seperti pada Opera dan Chromium, tapi ketiadaan bookmark manager termasuk kekurangan besar yang merepotkan, karena harus membuat catatan sendiri situs menarik yang kita kunjungi dan akan kita kunjungi lagi. Heran, karena bahkan pada Opera Mini di ponsel pun kita bisa mengelola bookmark dan mendapatkan speed dial situs-situs yang baru atau sering kita kunjungi.

Instant Messaging pada Ubuntu berganti default-nya menjadi Empathy. Empathy dapat digunakan untuk gtalk, yahoo messenger dan msn sekaligus, tak beda dengan instant messenger favorit saya, Pidgin. Jika tak puas, kita bisa memasangkan Pidgin, sebagai alternatif dari Empathy. Empathy sebenarnya memiliki fitur dan kemampuan lebih banyak daripada Pidgin. Tapi jika kebutuhannya sebatas instant messaging berbasis teks, maka Pidgin yang sudah menemani saya bertahun-tahun sejak masih bernama Gaim, masih menjadi favorit saya.
Zones
Konsep Zona berbeda dari workspace pada Linux Desktop umumnya. Pada dasarnya setiap aplikasi akan ditempatkan pada zona yang berbeda. Untuk berpindah-pindah aplikasi window, masih dapat menggunakan ALT+TAB sebagaimana pada Linux desktop lainnya, tetapi kita sekaligus berpindah zona. Jadi pada dasarnya tiap zone ada satu saja aplikasi aktif. Mengaktifkan zone sama dengan mengaktifkan aplikasi. Maka dari itu melompat dari satu aplikasi ke aplikasi lain sama dengan melompat dari zona satu ke zona lainnya.

Jika diarahkan untuk menghemat sumberdaya dan kecepatan render pada layar, konsep ini menarik sekali. Bagi saya, itu juga membantu kita untuk fokus saja pada satu task/job yang ada di zona tersebut. Klik pada applet zone pada top panel, akan menampilkan semua zona dan aplikasi yang aktif pada tiap zona. Pilih salah satu dan kita akan segera pindah ke zona yang kita pilih tersebut.
Web Service
Yang tersedia baru Last.fm dan Twitter, tak bisa ditambahkan lagi. Seharusnya juga menyertakan layanan jejaring sosial seperti Youtube, MySpace dan Facebook. Atau setidaknya ada applet atau konfigurasi dimana kita bisa menambahkan sendiri Web Service layanan semacam itu. Meski Moblin tak diposisikan sebagai sistem operasi Cloud seperti Android, Jolicloud atau ChromeOS, tapi tak ada salahnya hanya menambahkan layanan jejaring sosial selain dua diatas. Sebaliknya jika Moblin diarahkan untuk penggunaan layanan Internet intensif, maka hal ini adalah termasuk fitur utama yang terlewatkan. Ini termasuk yang paling disayangkan: tak ada dan tak bisa menambahkan (dengan mudah).

Repository Piranti Lunak
Moblin menggunakan Moblin Garage sebagai gudang piranti lunaknya. Sementara Ubuntu Moblin Remix menggunakan standar Ubuntu dengan Software Center atau Synaptic Package Installer. Seperti kita ketahui, Ubuntu tenar sebagai desktop karena kekayaan paket-paket piranti lunaknya warisan model distribusi Debian.
Saya tak terlalu tertarik kepada Application Installer Moblin asli. Saya lebih tenang dengan Ubuntu Moblin Remix dengan synaptic atau apt-get, piranti instalasi berbasis teks yang mudah dan sederhana cara pemakaiannya. Sebab seperti dilaporkan komunitas Moblin, meski berbasis Fedora, tak berarti Moblin bisa begitu saja menggunakan repository Fedora. Beda dengan Ubuntu Moblin Remix, kaitan eratnya dengan Ubuntu, membuat Ubuntu Netbook Remix seolah adalah Ubuntu berbaju lain, bukan yang semestinya: Ubuntu bercita rasa Ubuntu. Buat end-user, tak jadi masalah besar. Yang penting mudah instalasinya, cepat booting-nya dan menarik tampilannya.

Bagaimana dengan Ubuntu Netbook Remix?
Dibandingkan dengan Ubuntu Netbook Remix, konsep antarmuka, menu, layout desktop Ubuntu Moblin Remix lebih intuitif. Cita rasanya berbeda, lebih tak bersifat desktop dari pada deretan menu Netbook Remix. Deretan menu memang sajian sederhana yang lain, tapi masih memusingkan pengguna pemula Linux atau Ubuntu sendiri. Nama aplikasi pada menu tapi selalu berasosiasi dengan fungsi. Tapi pada Moblin segalanya dibuat lebih transparan. Kebutuhan dasarnya adalah berinternet, memainkan file multimedia, menggunakan tweeter dan atau sambil mengetik tugas dengan pengolah kata dan semua pergi ke zona yang berbeda di balik layar desktop, sementara yang dihadapi di desktop adalah apa yang digunakan saja, misal: pengolah kata (Word Processor).
Sebagai desktop, Moblin sudah mulai siap digunakan. Tapi saya tetap memilih Ubuntu Moblin Remix daripada Moblin. Application Installer dan Moblin Garage (installer dan gudang aplikasi Moblin), sepertinya belum terlalu kaya dibanding Ubuntu Moblin Remix. Jadi ketika saya menetapkan untuk menggunakan Ubuntu Moblin Remix, pada dasarnya Moblin menjadi sebuah Ubuntu dengan cita rasa yang sedikit berbeda saja. Jadi selain soal penampilan, kemampuan, kemudahan dan kekayaan paket piranti lunak, driver, modul dan codec tak lain adalah kekayaan gudang Ubuntu juga.
Kesimpulan
Moblin cukup layak dijadikan sistem operasi standar Netbook. Dibandikan dengan gaya lama Windows XP atau Windows 7 starter edition (yang tak dapat menjalankan lebih dari 3 aplikasi), performa Moblin jelas melampauinya. Jika Netbook dengan Windows XP dibandrol dengan harga mulai 3,5 juta rupiah, maka dengan Moblin bisa dikurangi sejuta tanpa lisensi yang harus dibayar untuk Windows XP Home Edition tersebut. Secara fungsi, semua yang dibutuhkan untuk komputasi pada Netbook: Internet, Media Player dan Word Processor sudah bisa dipenuhi dengan Ubuntu Moblin Remix.
Berita terakhir Manddriva dan Opensuse juga sudah mengumumkan dukungan mereka pada proyek Moblin. Berarti akan segera ada Mandriva dan Opensuse dengan cita rasa Moblin. Moblin sangat enteng sumberdaya, tak boros seperti Windows 7 dan jika menggunakan Ubuntu Moblin Remix, gudang piranti lunaknya terdapat dimana-mana, Yang dibutuhkan hanya koneksi internet.
Moblin bisa diinstalasikan pada SDHC (4-8 GB SD Card), USB Flash (setidaknya 2 GB) atau langsung pada Netbook (di dual-boot-kan dengan Windows XP atau seperti saya bersanding dengan Windows Vista dan Karmic Koala). Secara keseluruhan Moblin layak menggantikan Windows 7 starter edition pada Netbook dibandingkan dengan Ubuntu Netbook Remix atau Linux Propietary dari Linpus.
Setelah beberapa waktu, keluar rilis-rilis moblin, dimana pada era sebelum moblin 2, sangat GNOME dan tak intuitif. Selayaknya hanya bisa disebut, sebuah distro Linux baru yang lain. Tetapi Moblin 2.1 mulai menampakkan hasilnya. Moblin 2.1 sebenarnya juga sebuah distro baru dengan window manager di luar mainstream Gnome atau KDE. Antarmukanya berbeda sama sekali dengan konsep desktop standar dari semua window manager yang sudah pernah ada: Gnome, KDE, LXDE dll. Antarmuka ini dengan konfigurasi desktop tanpa service berat, bisa diharapkan mempercepat waktu boot (tanpa login). Testimoni booting Moblin asli (berbasis Fedora), pada ASUS eeePC bisa 5 detik sampai seluruh desktop siap digunakan. Moblin memang dioptimasi terutama untuk netbook, menonjolkan kesederhanaan, pengurangan banyak hal yang tidak perlu, antarmuka intuitif, ramping, ringan tapi cukup untuk dipakai berinternet dan bekerja dengan dokumen-dokumen standar sambil mendengarkan musik atau memutar video.

Menjajal sendiri Moblin, saya penasaran dengan waktu boot-nya terutama. Dan karena Ubuntu juga sudah mengumumkan akan mendukung proyek Moblin, maka saya juga mencari dan mengunduh image/iso Moblin dan Moblin dari Ubuntu, Canonical menyebutnya Ubuntu Moblin Remix (sekedar tak menjauhkannya dari distro Netbook Ubuntu yang lain, Ubuntu Netbook Remix). Tetapi pada versi asal Moblin 2.1, sedikit berbeda dengan versi Ubuntu. Versi asli Moblin 2.1, hanya saya coba sekali saja. Tak ada alasan khusus, hanya saya kurang pas dengan lingkungan Fedora, karena sehari-hari saya sudah lama berada di lingkungan Debian/Ubuntu dengan kekayaan paket dan apt-get favorit saya. Maka akibatnya ketika menggunakan Moblin 2.1 pada koneksi internet/jaringan saya kurang leluasa banyak hal, terutama mengambil aplikasi yang saya butuhkan. Moblin meskipun diarahkan untuk penggunaan ringan dan harus enteng, tapi tak berarti kita tak bisa menambahkan beberapa kebutuhan kita. Office Suite misalnya tak langsung ada pada Moblin 2.1 asli, dan kalaupun bisa diinstalasikan dari Moblin Garage juga hanya tersedia Abiword, bukan OpenOffice. Media Player juga belum menyertakan codec tertentu yang kita butuhkan untuk memainkan file-file multimedia seperti mp3 atau 3gp. Modem / modul 3G tak bisa langsung digunakan begitu juga dengan koneksi jarigan WIFI atau Wired (kabel) yang tak menggunakan DHCP.
Ubuntu Moblin Remix
Sebenarnya komitmen mendukung proyek Moblin dari Canonical Ubuntu hanyalah keniscayaan. Sebab Ubuntu sudah memulai proyek distro khusus untuk Netbook dengan Netbook Remix. Sekali saya mencoba Ubuntu Moblin Remix, saya langsung menemukan lingkungan yang sangat familiar tetapi dengan antarmuka yang berbeda konsepnya. Saya pengguna Debian yang beralih ke Ubuntu, jadi sudah tak terlalu asing dengan konfigurasi dan struktur direktori Debian/Ubuntu. Pada dasarnya perangkat koneksi Wired, WiFi dan 3G dengan modem Huawei e220 saya langsung dikenali. Tapi konfigurasi dari GUI bahkan Conman (paket Configuration Manager untuk Moblin) juga tak banyak membantu. Tapi banyak cara lain di Ubuntu, sekali perangkat dikenali, tak ada kesulitan berarti lagi di Ubuntu.
Ubuntu Moblin Remix berbasis Ubuntu 9.10 Karmic Koala, sudah langsung menyertakan OpenOffice suite pada instalasi standar. Tapi Ubuntu sudah mengumumkan tak akan menyertakan lagi Openoffice suite pada versi Ubuntu berikutnya, Lucyd Lynx 10.4 yang dijawalkan akan dirilis April 2010. Jadi kemungkinan pada versi Ubuntu Moblin Remix berikutnya, juga tak akan menyertakan lagi OpenOffice suite.
Instalasi
Sebelum instalasi yang sebenarnya, saya mencoba Moblin pada lingkungan virtualisasi: VirtualBox. Moblin didistribusikan sebagai .img yang harus ditulis lebih dulu ke SD Card atau USB Flash drive. Tapi Ubuntu Moblin Remix berbentuk iso, yang bahkan tak perlu diinstalasikan lebih dulu, jika hanya ingin mencobanya di VirtualBox. Saya hanya perlu menjadikannya mounted CD dan boot dari CD di VirtualBox. Percobaan ini, malah tak berlangsung lama karena saya makin mau segera menginstalasikannya ke media fisik benar-benar.
Instalasi relatif cepat. Pada notebook saya, Acer 1810T, Core 2 Solo 1,4 GHz, 4 GB RAM, kurang dari 30 menit sudah saya dapatkan Moblin lengkap. Mula-mula saya menginstalasikannya pada SDHC 4 GB, karena bios Acer 1810T sudah mendukung boot langsung dari Multi Card Reader. Jadi saya tak langsung mempartisi hardisk dual boot (Ubuntu/Windows) saya untuk menambahkan Ubuntu Moblin Remix yang baru.
Hari kedua saya gunakan, segera saya satukan pada GRUB boot manager, saya tempatkan pada urutan kedua pilihan boot setelah Karmic Koala. Jadi pada boot manager Grub sudah ada tambahan Moblin, yang dijalankan dari Multi Card Reader. Pilihan lain pada Acer 1810T, adalah aktifasi F12, yaitu boot menu untuk memilih dari perangkat mana dulu kita inggin boot: CD/DVD USB eksternal, USB Flash, Harddisk atau Card Reader.
Seminggu saya gunakan, saya semakin tertarik, untuk meresmikannya menjadi satu bagian partisi yang berbeda, buka pada Multi Card Reader lagi. Maka saya iris partisi Vista 10 GB untuk moblin. Tapi karena satu dan lain hal, saya tetapkan untuk menggunakan format ext3 saja, bukan ext4. Saya iris, format dan pindahkan seluruh isi SDHC yang telah terinstal Moblin pada partisi baru tersebut. Modifikasi sedikit menu.lst dari Grub (1) untuk bisa booting ke partisi baru tersebut sebagai Moblin. Maka hadirlah Moblin jadi bagian tetap dari komputasi harian resmi saya.
Multimedia
Moblin memang sudah menyertakan Media Player. Tetapi belum dapat memainkan format-format yang (memang) tidak free, seperti mp3 dan 3gp. Ubuntu Moblin Remix sedikit berbeda, dimana kita bisa menambahkan codec-codec yang kita perlukan dari repository piranti lunak non-free. Untuk 3gp, setelah menambahkan codec-nya saya tetap tak bisa memainkannya pada media player (bisa tapi tanpa suara). Tapi dari repository Ubuntu saya tambahkan sendiri Totem Media Player. Instalasi Totem Media Player menarik sekaligus beberapa codec yang tidak ada pada instalasi standar Ubuntu Moblin Remix.
Penampilan Media Player juga berbeda dari media player mainstream yang telah ada. Codec yang didukung standarnya adalah dari Ogg Vorbis dan Ogg Theora. Hanya saja, saya kehilangan playlist. Klik file dan mainkan, sederhana sekali memang. Kita bisa tambahkan audacious atau rhythmbox pada Ubuntu Moblin Remix. Saya sendiri pilih Totem Media Player. Setidaknya Totem bisa memainkan cukup banyak codec, audio dan video, dan menyediakan tambahan kecil: playlist.
Media Player pada Moblin juga sekaligus berfungsi sebagai image viewer. Maka pada Media Player ada tiga kategori pada panel kirinya: Audio, Video dan Image. Satu aplikasi untuk semua multimedia file.
Koneksi Jaringan
Di ujung kanan atas panel desktop Moblin, terdapat applet koneksi jaringan, ada WiFi, Wired, 3G, bluetooth dan WiMAX. Tidak satupun bisa langsung berfungsi dan mudah dikonfigurasikan. Pada Ubuntu Moblin Remix, tanpa DHCP tak semudah dan sefleksibel Ubuntu dekstop biasa. Dan saya tebak pada Moblin aslinya juga tidak semudah seperti distro basisnya, Fedora. Jadi saya menggunakan terminal untuk membuat konfigurasi yang diperlukan untuk koneksi jaringan: WiFi atau Wired. Pada Ubuntu sebagaimana Debian, tanpa NetworkManager, konfigurasi jaringan pada /etc/network/interfaces. Edit dan sambungkan.

Koneksi 3G
Pada koneksi 3G, saya menebak saja. Karena menggunakan dasar Karmic, maka saya yakin, modem 3G tua saya Huawei e220, bisa langsung digunakan. Saya cuma perlu wvdial. Maka ketika WiFi atau Wired saya sedang terhubung ke jaringan dan saya punya akses ke internet, saya gunakan untuk mengambil paket wvdial, jalankan wvdialconf untuk membuat file konfigurasi, edit sesuai dengan operator 3G yang ada, lalu jalankan wvdial dengan file konfigurasi yang telah diedit lengkap dengan username, apn, nomor dial dan passwordnya. Koneksi 3G berhasil dijalankan!
Browsing dan Instant Messaging
Salah satu piranti utama berselancar internet adalah browser. Moblin Web Browser berpenampilan beda dengan Firefox, Opera atau Chromium tapi juga sudah mendukung tab browsing. Meski adblock menyatakan sudah mendukung Moblin Web Browser, tapi bagi end-user, masih belum tahu bagaimana caranya memasangkan ekstensi adblock. Adblock adalah salah satu ekstension favorit saya jika sedang berselancar di web. Adblock adalah salah satu alasan mengapa saya tak bisa meninggalkan Firefox. Jika kemudian di Opera juga sudah tersedia urlfilter dan pada Chrome OS (yang konon lebih cepat daripada Firefox) juga sudah tersedia ekstensi adsweep, ternyata masih juga saya belum dapat meninggalkan Firefox karena sudah terlanjur menemukan ekstensi-ektensi berguna lainnya. Karena belum tahu bagaimana memasangkan adblock pada Moblin Web Browser, saya pilih instalasi Firefox. Tapi apa mau dikata, ternyata Firefox crash tiap kali dijalankan, segmentation fault. Belum tahu sebabnya, tapi saya jadi menunda untuk mencoba browser lain yang tersedia untuk Ubuntu seperti Opera atau Chromium.
Kekurangan lain selain extension dan add-on adalah pengelolaan bookmark dan speed dial. Meski sudah ada speed dial seperti pada Opera dan Chromium, tapi ketiadaan bookmark manager termasuk kekurangan besar yang merepotkan, karena harus membuat catatan sendiri situs menarik yang kita kunjungi dan akan kita kunjungi lagi. Heran, karena bahkan pada Opera Mini di ponsel pun kita bisa mengelola bookmark dan mendapatkan speed dial situs-situs yang baru atau sering kita kunjungi.

Instant Messaging pada Ubuntu berganti default-nya menjadi Empathy. Empathy dapat digunakan untuk gtalk, yahoo messenger dan msn sekaligus, tak beda dengan instant messenger favorit saya, Pidgin. Jika tak puas, kita bisa memasangkan Pidgin, sebagai alternatif dari Empathy. Empathy sebenarnya memiliki fitur dan kemampuan lebih banyak daripada Pidgin. Tapi jika kebutuhannya sebatas instant messaging berbasis teks, maka Pidgin yang sudah menemani saya bertahun-tahun sejak masih bernama Gaim, masih menjadi favorit saya.
Zones
Konsep Zona berbeda dari workspace pada Linux Desktop umumnya. Pada dasarnya setiap aplikasi akan ditempatkan pada zona yang berbeda. Untuk berpindah-pindah aplikasi window, masih dapat menggunakan ALT+TAB sebagaimana pada Linux desktop lainnya, tetapi kita sekaligus berpindah zona. Jadi pada dasarnya tiap zone ada satu saja aplikasi aktif. Mengaktifkan zone sama dengan mengaktifkan aplikasi. Maka dari itu melompat dari satu aplikasi ke aplikasi lain sama dengan melompat dari zona satu ke zona lainnya.

Jika diarahkan untuk menghemat sumberdaya dan kecepatan render pada layar, konsep ini menarik sekali. Bagi saya, itu juga membantu kita untuk fokus saja pada satu task/job yang ada di zona tersebut. Klik pada applet zone pada top panel, akan menampilkan semua zona dan aplikasi yang aktif pada tiap zona. Pilih salah satu dan kita akan segera pindah ke zona yang kita pilih tersebut.
Web Service
Yang tersedia baru Last.fm dan Twitter, tak bisa ditambahkan lagi. Seharusnya juga menyertakan layanan jejaring sosial seperti Youtube, MySpace dan Facebook. Atau setidaknya ada applet atau konfigurasi dimana kita bisa menambahkan sendiri Web Service layanan semacam itu. Meski Moblin tak diposisikan sebagai sistem operasi Cloud seperti Android, Jolicloud atau ChromeOS, tapi tak ada salahnya hanya menambahkan layanan jejaring sosial selain dua diatas. Sebaliknya jika Moblin diarahkan untuk penggunaan layanan Internet intensif, maka hal ini adalah termasuk fitur utama yang terlewatkan. Ini termasuk yang paling disayangkan: tak ada dan tak bisa menambahkan (dengan mudah).

Repository Piranti Lunak
Moblin menggunakan Moblin Garage sebagai gudang piranti lunaknya. Sementara Ubuntu Moblin Remix menggunakan standar Ubuntu dengan Software Center atau Synaptic Package Installer. Seperti kita ketahui, Ubuntu tenar sebagai desktop karena kekayaan paket-paket piranti lunaknya warisan model distribusi Debian.
Saya tak terlalu tertarik kepada Application Installer Moblin asli. Saya lebih tenang dengan Ubuntu Moblin Remix dengan synaptic atau apt-get, piranti instalasi berbasis teks yang mudah dan sederhana cara pemakaiannya. Sebab seperti dilaporkan komunitas Moblin, meski berbasis Fedora, tak berarti Moblin bisa begitu saja menggunakan repository Fedora. Beda dengan Ubuntu Moblin Remix, kaitan eratnya dengan Ubuntu, membuat Ubuntu Netbook Remix seolah adalah Ubuntu berbaju lain, bukan yang semestinya: Ubuntu bercita rasa Ubuntu. Buat end-user, tak jadi masalah besar. Yang penting mudah instalasinya, cepat booting-nya dan menarik tampilannya.

Bagaimana dengan Ubuntu Netbook Remix?
Dibandingkan dengan Ubuntu Netbook Remix, konsep antarmuka, menu, layout desktop Ubuntu Moblin Remix lebih intuitif. Cita rasanya berbeda, lebih tak bersifat desktop dari pada deretan menu Netbook Remix. Deretan menu memang sajian sederhana yang lain, tapi masih memusingkan pengguna pemula Linux atau Ubuntu sendiri. Nama aplikasi pada menu tapi selalu berasosiasi dengan fungsi. Tapi pada Moblin segalanya dibuat lebih transparan. Kebutuhan dasarnya adalah berinternet, memainkan file multimedia, menggunakan tweeter dan atau sambil mengetik tugas dengan pengolah kata dan semua pergi ke zona yang berbeda di balik layar desktop, sementara yang dihadapi di desktop adalah apa yang digunakan saja, misal: pengolah kata (Word Processor).
Sebagai desktop, Moblin sudah mulai siap digunakan. Tapi saya tetap memilih Ubuntu Moblin Remix daripada Moblin. Application Installer dan Moblin Garage (installer dan gudang aplikasi Moblin), sepertinya belum terlalu kaya dibanding Ubuntu Moblin Remix. Jadi ketika saya menetapkan untuk menggunakan Ubuntu Moblin Remix, pada dasarnya Moblin menjadi sebuah Ubuntu dengan cita rasa yang sedikit berbeda saja. Jadi selain soal penampilan, kemampuan, kemudahan dan kekayaan paket piranti lunak, driver, modul dan codec tak lain adalah kekayaan gudang Ubuntu juga.
Kesimpulan
Moblin cukup layak dijadikan sistem operasi standar Netbook. Dibandikan dengan gaya lama Windows XP atau Windows 7 starter edition (yang tak dapat menjalankan lebih dari 3 aplikasi), performa Moblin jelas melampauinya. Jika Netbook dengan Windows XP dibandrol dengan harga mulai 3,5 juta rupiah, maka dengan Moblin bisa dikurangi sejuta tanpa lisensi yang harus dibayar untuk Windows XP Home Edition tersebut. Secara fungsi, semua yang dibutuhkan untuk komputasi pada Netbook: Internet, Media Player dan Word Processor sudah bisa dipenuhi dengan Ubuntu Moblin Remix.
Berita terakhir Manddriva dan Opensuse juga sudah mengumumkan dukungan mereka pada proyek Moblin. Berarti akan segera ada Mandriva dan Opensuse dengan cita rasa Moblin. Moblin sangat enteng sumberdaya, tak boros seperti Windows 7 dan jika menggunakan Ubuntu Moblin Remix, gudang piranti lunaknya terdapat dimana-mana, Yang dibutuhkan hanya koneksi internet.
Moblin bisa diinstalasikan pada SDHC (4-8 GB SD Card), USB Flash (setidaknya 2 GB) atau langsung pada Netbook (di dual-boot-kan dengan Windows XP atau seperti saya bersanding dengan Windows Vista dan Karmic Koala). Secara keseluruhan Moblin layak menggantikan Windows 7 starter edition pada Netbook dibandingkan dengan Ubuntu Netbook Remix atau Linux Propietary dari Linpus.
Posted by Meta Nurwidyanto
in Linux
at
16:20
| Comments (2)
| Trackbacks (0)
View as PDF: This entry | This month | Full blog
View as PDF: This entry | This month | Full blog
Trackbacks
Trackback specific URI for this entry
No Trackbacks
Comments
Display comments as
(Linear | Threaded)
bang ane dah instal ubuntu ini.. tapi aneh nih ada suara aneh dari speakernya.. aku pake byon n611 ga
#1
kadek
(Homepage)
on
2010-02-23 06:55
(Reply)
Hey. Patriotism is your conviction that this country is superior to all other countries because you were born in it. Help me! There is an urgent need for sites: Payoff calculator for debt reduction. I found only this - edrp and education debt reduction progmw. Editor's picks with ursula majorthe big dipper is very the most complete century in the regular student world, debt reduction. Internet is desperately a somewhat foreign area of hoping third economy connecting liabilities, debt reduction. Thanks for the help ;-), Helene from Burkina.
#1.1
Helene
(Homepage)
on
2010-03-01 07:12
(Reply)

