Kisah tentang bajaj di Jakarta, tak pernah ada habisnya. Di Indonesia hanya di Jakarta saja ditemui kendaraan yang disebut Bajaj. Meski pemerintah daerah Jakarta sudah beberapa kali ingin menggusur keberadaanya, tapi Bajaj tetap bertahan sampai hari ini.
Kita sudah dapat menemukan keterangan tentang
Bajaj di Wikipedia.Ketika pertama kali datang ke Jakarta, lebih dari 20 tahun yang lalu, saya takjub sekali dengan Bajaj. Tapi baru 15 tahun kemudian, saya tahu, bahwa Bajaj bisa mundur.

Keberadaan Bajaj memang bikin sumpek Jakarta rasanya. Supir Bajaj ini sering tak punya etika di jalan. Yah, kata seorang teman, kalau punya etika dan cukup cerdas, dia tak akan pilih jadi supir Bajaj, menukasi pendapat saya.
Dulu sebal sekali saya dengan Bajaj. Sebab di jalan Bajaj boleh dikatakan hampir selalu menang. Sampai ada ungkapan bahwa hanya Tuhan dan sopir Bajaj yang tahu kapan dia belok kiri atau kanan. Terkadang si sopir Bajaj akan melambaikan tangan, karena jarang sekali Bajaj punya tanda lampu sinyal belok yang berfungsi baik. Belum lagi suaranya, dan asap knalpotnya. Jika kita bawa motor, kita juga sulit meliuk-liuk di antara mobil-mobil jika bagian sempit itu sudah ditempati Bajaj. Terpaksalah kita antri di belakangnya sambil menikmati semprotan asap knalpotnya. Hm...

Maka sudah sering pemerintah kota Jakarta ingin menghapus Bajaj, menggantinya dengan kendaraan lain. Dulu ada usulan Anglingdarma kemudian ada Kancil. Tapi semua belum pernah bisa berhasil. Ada banyak kendala teknis pengadaan, kredit dan kebiasaan orang. Sebab pada hakekatnya, warga Jakarta masih membutuhkan tukang Bajaj. Memasuki lorong-lorong kecil Jakarta, yang mobil tak pernah bisa masuk ke dalamnya, mungkin ojek bisa kita pergunakan. Tapi naik motor kita hanya akan bisa membawa beban terbatas. Bajaj cukup leluasa membawa banyak beban, dengan muatan 2-3 orang, tapi dengan harga damai. Lebih hemat daripada Taksi atau bahkan ojek.
Tapi kesebalan saya akhirnya tak bertahan lama. Suatu kali, di sebuah jembatan layang yang macet, mobil saya tiba-tiba mogok. Rupanya tali kipas saya bermasalah, sehingga radiator jadi cepat panas, dan air pendingin cepat kering. Pada saat itu, sudah hampir 3 liter air saya tuang ke dalam tangki pendingin dan masih saja kurang. Eh, tiba-tiba, ada tukang Bajaj, dengan senyum lebarnya, menyodorkan botol Aqua besarnya berisi air kepada saya. Sudah begitu, ia langsung ngeloyor pergi dan memacu bajaj-nya. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala, berteriak terimakasih sambil mendoakan semoga ia lancar rizki-nya. Sejak saat itu, saya tak pernah memaki Bajaj, bagaimanapun tingkahnya di jalan. Paling cuma bisa mendoakan, semoga ia tak mencelakakan orang atau dirinya sendiri dengan gayanya membawa Bajaj.
Bajaj-bajaj di Jakarta umumnya sudah tua, dan suku cadangnya sudah campur aduk. Jadi jangan tanya apa hasil pembakaran mesinnya sempurna atau masih dibawah standar emisi gas buang. Tapi supir Bajaj, umumnya tak seperti supir angkot yang satu mobil bisa dipakai atau diomprengkan ke sopir lain. Supir Bajaj membawa Bajaj-nya masing-masing.
Popularitas Bajaj ini naik daun, sejak sebuah serial televisi menayangkan drama komedi tentang tukang Bajaj dan kehidupannya, Bajaj Bajuri. Ah, apapun yang terjadi, ternyata kita masih butuh Bajaj. Berdua, bertiga ditambah belanjaan, sampai mana saja di pelosok-pelosok Jakarta, Bajaj siap mengantarkan kita.