Akhirnya Moblin saya lepaskan dari dengan berat hati dari komputasi harian saya, setelah menjadi tidak jelas statusnya ketika Intel mengumumkan penggabungan proyek
Moblin dan
Maemo dengan Nokia menjadi
Meego. Padahal dengan beberapa kekurangannya, Moblin 2.1 telah mempesona saya untuk menggunakannya sebagai komputasi desktop harian, jika saya hanya sedang membutuhkan beberapa kemampuan dasarnya untuk berselancar di internet dan mengetik sambil mendengarkan musik ringan. Sebenarnya saya tidak terlalu terganggu dengan kekurangan Moblin versi original yang berbasis Fedora dan repository yang sedang-sedang saja, karena yang saya gunakan adalah Moblin versi Ubuntu yang punya repository lebih kaya dan mudah dikonfigurasi. Jadi tak tersedianya 3G di Connman (Connection manager applet) Moblin, bisa diakali dengan ppp dan wvdial. Bahkan saya bisa mudah mengganti kernel standar Ubuntu Moblin Remix menjadi kernel
pae agar dapat mengalamati 4GB RAM yang saya gunakan. Meski kecewa karena Moblin jadi tidak jelas arahnya setelah ada Meego, susah untuk tak melirik ketika akhirnya rilis juga Meego versi 1.0 untuk Netbook.
Menjajal Meego 1.0 Netbook

Meeego memang diarahkan nantinya untuk mendukung beberapa macam perangkat, dari handheld sampai netbook. Meego Netbook ini cukup membuat saya penasaran untuk segera menjajalnya, terutama karena sudah merasakan Moblin. Download
live image Meego untuk Netbook
disini. Di situs Meego sudah ada
petunjuk bagaimana men-
deploy live image Meego ke USB Flash.
Tapi jika kita sudah memiliki Ubuntu Karmic Koala 9.10 atau Lucid Lynx 10.04, sudah ada aplikasi USB ImageWriter. Barangkali instalasi standar belum mengikutkan USB ImageWriter tapi kita bisa menginstalasikannya sendiri dari Synaptic atau Aptitude
$sudo apt-get install usb-imagewriter

Setelah itu jalankan dari menu
Applications > Accecories > ImageWriter, tulis live image tersebut ke USB Flash anda. Kebetulan Notebook saya dapat di-boot dari Multi Card Reader-nya dan USB Flash, jadi saya coba
deploy live image tersebut ke dua macam Flash Storage tersebut. Setelah mencoba keduanya, USB Flash terasa lebih smooth dan cepat dibandingkan SDHC Flash Card.
Saya menggunaka Notebook Core 2 Solo dengan RAM 4GB. Sebagaimana di Moblin, RAM 4GB tersebut tak terbaca penuh. Tapi di Ubuntu Moblin Remix, saya bisa meng-update kernel-nya menjadi kernal pae yang membuatnya mampu membaca penuh kapasitas RAM 4GB keatas. Saya masih belum tahu apa yang bisa dilakukan pada Meego untuk ini, sepertinya alternatif kernel pae tak tersedia.
Melongok Lebih Dalam

Meski berbasis Linux, Moblin menggunakan antarmuka dengan pendekatan Window manager Linux populer: Gnome, KDE, LXDE, FLuxbox, E17 dst. Antarmuka membuat waktu pemuatan antarmuka menjadi lebih cepat. Antarmuka Meego masih meneruskan model Moblin. Jika Moblin sudah manis dengan antarmukanya, maka Meego terasa lebh manis dan ceria antarmukanya.
Antarmuka menjauhkan kesan komputasi menjadi sesuatu yang komplex. Tak harus ada menu-menu seperti di Windows, Gnome, atau OSX. Cukup icon-icon apa saja yang paling banyak digunakan oleh pengguna Netbook. Tak ada
double-click, tak ada
shutdown link, dengan browser andalan
Chromium, integrasi dengan situs-situs jejaring sosial,
instant messaging dan
media player serbaguna dan serbabisa. Saya sendiri sudah menggunakan Chromium ketika menggunakan Moblin. Saya bahkan matikan Web Browser bawaan Moblin dan pinggirkan Firefox, karena Chromium memang lebih ringan dan cepat merender halaman-halaman web. Ditambah lagi pada Chromium versi 5 (yang baru saja rilis resminya lepas dari Beta) sudah mengintegrasikan plugin flash di dalamnya, sehingga kita tak perlu instalasi lagi plugin flash secara terpisah.
Meego masih meninggalkan type-type format lain, sehingga File Manager-nya tak berkutik untuk membuka partisi harddisk lokal di Notebook. Ketika saya coba melakukan mounting dari Terminal, maka partisi NTFS saya tak dikenali, dan sampai ketika tulisan ini dibuat saya belum tahu cara menambahkan NTFS atau NTFS-3G agar saya bisa baca/tulis ke harddisk berformat NTFS.
Jika kita ada di jaringan LAN atau WIFI, maka Meego menjadi alternatif yang menarik. Jika kita hanya butuh ingin segera browsing sesuatu atau mengirim email dengan attachment. Netbook harus bisa cukup cepat melakukan booting agar kita bisa segera bekerja. Maka di lingkungan jaringan LAN/WIFI, Meego sudah dapat diandalkan. Tapi jika untuk koneksi internet Netbook kita membutuhkan modem 3G (daam kasus saya misal USB Modem Huawei e220), rasanya Meego belum siap. Modem tua saya itu tak terdeteksi dengan sempurna.
Buetooth berjalan baik, setidaknya saya bisa mengirim dan menerima file dari ponsel ke Notebook dan sebaliknya. Dan karena modem 3G saya tak terdeteksi dengan baik, maka saya coba gunakan ponsel 3G untuk membuat koneksi internet melalui bluetoooth. Connman (Connection Manager) tak mendukungnya, dan belum ada yang bisa saya lakukan. Jadi saya perlu menggunakan komputer lain untuk terhubung ke internet dengan modem 3G saya itu, lalu membuat komputer lain itu sebagai AdHoc WIFI atau menggunakan Access Point untuk berbagi koneksi internet di jaringan. Sayangnya untuk koneksi langsung dengan modem 3G belum ada yang bisa dilakukan.
Barangkali karena saya asing di lingkungan yum (Fedora) bukan apt (Debian), jadi saya bahkan belum menemukan apapun yang bisa saya gunakan untuk mengkonfigurasikan modem 3G untuk koneksi internet. Tak banyak yang bisa ditambahkan di Meego jika kita menghitung aplikasi dan ketersediaan aplikasi di repository-nya. Nokia adalah pemilik Symbian dan QT yang sudah terbuka. Maka kali ini Meego tak berbasis gtk/Clutter lagi, tapi lebih ke QT. Pilihan ini tentu wajar dan bisa dimengerti, hanya lebih dari yang ada sekarang selain bisa browwsing dan mendengarkan musik dengan format tertentu, Meego belum bisa dikatakan siap untuk komputasi harian. Jika di deploy ke N900, barangkali lebih bagus. Tapi di ranah Netbook, dengan beberapa kekurangannya ini rasanya Meego belum layak dipasang atau diinstalasikan untuk keperluan harian.
Meego tak menyertakan pengolah kata seperti Abiword atau Office Suite segemuk OpenOffice, meski itu diperlukan. Tapi herannya, itupun sudah membuat
live image-nya berukuran 700 MB lebih. Moblin dari Ubuntu Moblin Remix berbentuk iso dan sudah menyertakan Office Suite. Ubuntu lebih mengerti soal desktop dan apa yang umumnya dibutuhkan untuk komputasi desktop, meskipun di Netbook.
Catatan
Meego tampaknya baru untuk dicicipi saja, belum sampai tahap siap diposisikan sebagai sistem operasi multifungsi di banyak macam perangkat dari perangkat genggam sampai Netbook. Memang pasti sedikit berbeda jika terlalu umum. Tetapi sebenarnya jika memilih Linux setidaknya pilih yang gudang aplikasinya paling kaya (keluarga Debian), kekayaan perangkat lunak Meego akan langsung melonjak dahsyat. Pengguna akan punya lebih banyak alternatif untuk memilih apa saja yang ingin dimasukkannya ke Netbook-nya.
Untuk mebedakan perangkat genggam, TV atau Netbook, bisa digunakan pemisahan dengan kode tertentu. Dengan begitu Meego akan langsung punya App Store sedahsyat App Store Blackberry atau Ipad/Iphone. Maka N900 bisa secara langsung sekaya Android gudang aplikasinya, dan pengguna Netbook bisa mendaatkan lingkungan yang tak banyak berbeda jika mereka juga kebetulan memiliki N900 atau ponsel-ponsel seri berikutnya dari Nokia.
Sayang sekali, Meego masih belum beranjak dari keterbatasan Moblin terakhir versi 2.1. Bahkan Meego justru nampak lebih miskin aplikasi dibandingkan Ubuntu Moblin Remix: sebuah Moblin dengan kekayaan aplikasi Ubuntu dan keleluasaan ala Ubuntu/Debian. Meski kecewa tapi saya masih akan menunggu rilis Meego berikutnya untuk komputasi harian saya: penasaran dan masih berharap
