Filemanager adalah salah satu komponen penting di semua sistem operasi. Filemanager adalah alat penting untuk mengatur seluruh arsip-arsip kita di komputer. Tanpa Filemanager, rasanya akan sangat merepotkan jika harus mengingat dan mengetik semua hal untuk sekedar tahu nama sampai mengintip isi sebuah file tanpa harus membukanya. Begitu pentingnya, sehingga saya menyukai Filemanager yang hampir bisa melakukan apapun yang diperlukan: pergi ke folder manapun, mengeksekusi program apapun, mengatur/menyalin/memindahkan file termasuk mengintip isinya tanpa harus membuka aplikasi khusus dulu untuk melakukannya. Dan dalam banyak hal, yang kita perlukan selalu asal dan tujuan. Hampir semua pengaturan file selalu melibatkan asal dan tujuan. Salah satu pendekatannya adalah Twin Panel File Manager atau File Manager Berpanel Kembar.
Friday, May 28. 2010
File Manager Berpanel Kembar
Dari Norton Commander
Di lingkungan Windows 3.1, saya tak pernah tertarik dengan Windows Explorer yang terutama karena terlalu berorientasi pada penggunaan mouse. Barangkali inspirasinya dari MacOS era sebelum OSX, tapi proses menyeret dan menjatuhkan (drag n drop) bukan ide yang menarik ditinjau dari sisi kepraktisan dan kecepatan. Norton Commander (NC) ini adalah program luar biasa bagi saya saat itu, yang baru mengenal DOS dan Windows. Antarmuka yang intuitif, menggunakan pendekatan berbasis keyboard, praktis dan cepat untuk mengatur file-file kita. Menjelajahi seluruh isi harddisk terasa lebih mudah, meski masih menggunakan keyboard tapi tak perlu mengetik-ketik seluruh path folder dimana kita menyimpan file-file kita.
NC juga bisa diasosiasikan dengan program eksternal untuk melihat (view) file-file tipe tertentu, sudah dilengkapi dengan editor teks, bisa memeriksa atribut-atribut file dan masih banyak lagi. Pendek kata, sejak mengenal NC, saya selalu menggunakan Filemanager semacam itu di lingkungan-lingkungan lain. Di Windows 3.1 pada saat itu lalu hadir WinNC dan Windows Commander (yang kemudian menjelma menjadi Total Commander). Sebagaimana banyak program lain di Windows, ini pada dasarnya adalahh aplikasi berbayar dengan status shareware. Artinya untuk dapat kemampuan penuh-nya kita harus membayar.
Midnight Commander di Linux
Midnight Commander (MC) tentu mendapat inspirasinya dari NC, maka dari itu seorang kawan saya memplesetkannya menjadi Morton Commander
Bagi yang baru mengenal Linux dan berhadapan dengan dunia teks tanpa XWindow, padahal baru saja mengenal Win95/98, Midnight Commander sangat membantu sekali. Meski, sekali lagi tetap berorientasi ke keyboard, tapi MC menyederhanakan penelusuran file/folder bagi Linux newbie seperti saya. Editor VI sebelum hadirnya VIM sama sekali tak akrab dengan yang sudah terlanjur terbiasa dengan Edit/Notepad di DOS/Windows. Belum pula viewer untuk melihat file-file image dan teks. Menelusuri dan memeriksa isi file jadi makin terasa seolah di dunia lain, di luar Slackware/Debian yang gagal melulu dikonfigurasi XWindow-nya. Ini adalah dunia yang akrab, Linux jadi tak terasa beda dengan DOS/Windows. Tak ada yang susah, semua serba mudah jika hanya untuk mengelola file.
Yang dahsyat adalah ketika MC juga dilengkapi dengan kemampuan membuka FTP folder. Jadi upload/download file atau folder berisi folder-folder bertingkat dengan segudang file terasa mudah. Dual panel standarnya memudah kita mengatur file-file di folder asal sekaligus mengatur dan mempersiapkan folder-folder tujuan. Sebagaimana juga di NC, MC juga bisa menggunakan program eksternal untuk mengintip isi file, sekaligus memeriksa atribut-atribut sebuah file: bermodus 755/777/644 dst. Modus-modus tersebut bisa diatur dan diubah secara mudah secara rekursif, dibandingkan jika kita harus mengetik chmod +x berulan-ulang di foler-folder yang berbeda dan bertingkat.
Krusader di dunia KDE
Ketika saya mulai mantap dengan KDE di Linux, Konqueror yang serbaguna dan hebat itu, masih belum cukup menarik. Masih belum memenuhi kebutuhan saya akan Filemanager yang tepat. Memang masih selalu bisa menggunakan Midnight Commander, tapi MC berarti kita mesti jalankan Konsole (terminal) dulu di KDE. Hingga akhirnya hadir juga NC ala KDE, Krusader. Krusader di KDE menyediakan protokol FiSH. Jadi Krusader menjadi pilihan utama saya jika berhubungan dengan SSH/SFTP dan transfer data dari desktop KDE. FiSH sebenarnya didesain untuk Midnight Commander oleh Pavel Machek tahun 1998.
Krusader bahkan punya keleluasaan ke sejumlah protokol, yang jelas tersedia adalah FTP/FiSH/SMB/SFTP. Jadi di Linux-KDE, dengan krusader kita tak perlu aplikasi khusus untuk mengeksplorasi share folder berbasis Samba atau Windows Share Folder, tanpa harus repot mengetik perintah mount nama mesin dan nama share-nya. Jadi manajemen file/folder tidak hanya di lokal harddisk saja, tapi kita juga bisa mengelola semua file/folder di seluruh jaringan yang kita milki otorisasi pengelolaannya.
Maka ketika perpindahan dari KDE 3.5 (KDE terbaik yang pernah saya gunakan) ke KDE 4.x (yang lemot dan menyebalkan sampai sebelum 4.4.1 saat ini), banyak fans KDE yang meributkan kenapa Konqueror diganti posisinya oleh Dolphin sebagai Filemanager utama KDE. Dolphin memang lebih mengikuti gaya Windows Explorer, sebagaimana dulu Konqueror mengikuti Windows Explorer yang terintegrasi dengan Internet Explorer 6. Semuanya tak sangat penting bagi saya. Cukup MC dan Krusader bagi saya, dan lainnya tak terlalu penting mana yang jadi Filemanager utama KDE.
Gnome Commander di Ubuntu Gnome
Ketika saya meninggalkan PCLinuxOS yang berbasis KDE beberapa tahun lalu, saya ganti dengan Ubuntu yang berbasis Gnome, situasinya jadi lain. MC memang masih selalu ada, tapi di Gnome tak ada yang sesakti Krusader. Gnome-Commander ketika itu, masih lebih inferior dibanding Krusader di KDE. Belum ada deretan protokol ke remote mesin. Sebenarnya justru Nautilus, sebagai Filemanager utama Gnome sudah tersedia Connect to Server, jika akan terhubung ke remote mesin melalui FTP/Windows Share/Samba dan bahkan WebDAV. Tapi SSH belum ada. Sampai Ubuntu Jaunty Jackalope 9.04, Gnome Commander 1.2.7 baru mendukung SSH atau selurh protokol GnomeVFS. Meski Gnome Commander tertinggal beberapa tahun dari Krusader di KDE, akhirnya mulai nyaman juga saya di lingkungan Gnome. Terutama ketika KDE versi 4.x menyebalkan lambatt dan sering crash-nya. Ubuntu yang kebetulan Desktop Manager-nya adalah Gnome, menambah popularitas Gnome semakin jauh meninggalkan KDE.
Saat itu, bisanya Desktop Manager apapun yang saya gunakan, saya selalu membawa serta Krusader. Akibatnya jika Krusader saya tambahkan ke Ubuntu yang Gnome maka Krusader akan membawa sekian pustaka-pustaka KDE yang dibutuhkan. Jika di RAM sudah mengendon pustaka-pustaka Gnome, maka pustaka-pustaka KDE akan ikut nongkrong di RAM ketika Krusader saya jalankan. Dengan kata lain, ini tidak akan efisien. Jadi jika di lingkungan Gnome, kurang tepat jika membawa terlalu banyak aplikasi KDE yang umumnya berbasis pustaka-pustaka QT. Sedangkan Gnome umumnya menggunakan pustaka-pustaka GTK.
FreeCommander dan WinSCP di WindowsXP/Vista/7
Bagaimana di Windows? Ada sebuah shareware yang selalu saya gunakan, karena fiturnya lebih lengkap daripada Total Commander, yaitu Altap Salamander. Altap Salamander saya gunakan sampai ketika saya temukan FreeCommander yang bebas digunakan sepenuhnya dengan kemampuan penuh Filemanager yang saya butuhkan. FreeCommander bahkan tersedia versi portabel-nya. Semuanya dapa diunduh disini.
Sebagaimana di Filemanager Panel Kembar lainnya, asosiasi file terkompresi misal .zip, selalu bisa dibuka dan dintip isinya tanpa harus diekstrak dulu seluruhnya. Jadi file terkompresi bisa diperlakukan sebagai folder yang di dalamnya berisi file-file yang bisa dilihat isinya. Sayangnya FreeCommander belum termasuk kemampuan berinteraksi dengan protokol SSH/SFTP.
Jadi untuk kebutuhan SSH/SFTP, kita bisa gunakan WinSCP yang dapat diunduh disini, dan tersedia dalam bentuk siap diinstalasikan dan portabel. Aplikasi-aplikasi berbasis portabl ini, lebih mudah jika diletakkan pada USB Flash yang portabel dan bisa ditancapkan di mesin Windows manapun, bisa dijalankan tanpa perlu instalasi lagi.
Kesimpulan
Pada akhirnya selalu kembali pada pengguna, kebutuhan dan kebiasaannya. Di Linux ataupun Windows, berpindah-pindah posisi dari mouse ke keyborad juga perlu waktu. Jadi pada kondisi tertentu penting bagi saya untuk tidak terlalu sering berpindah tangan dari mouse ke keyboard bolak-balik hanya untuk hal-hal yang sederhana. Dan saya juga menghindari memindahkan atau menyalin file/folder dengan cara drag and drop. Yang penting satu Filemanager yang lengkap dengan fitur dan utilitas untuk banyak hal. Termasuk tombol-tombol F1-F10 yang berguna banyak dibanding Filemanager standar.
Di lingkungan Windows 3.1, saya tak pernah tertarik dengan Windows Explorer yang terutama karena terlalu berorientasi pada penggunaan mouse. Barangkali inspirasinya dari MacOS era sebelum OSX, tapi proses menyeret dan menjatuhkan (drag n drop) bukan ide yang menarik ditinjau dari sisi kepraktisan dan kecepatan. Norton Commander (NC) ini adalah program luar biasa bagi saya saat itu, yang baru mengenal DOS dan Windows. Antarmuka yang intuitif, menggunakan pendekatan berbasis keyboard, praktis dan cepat untuk mengatur file-file kita. Menjelajahi seluruh isi harddisk terasa lebih mudah, meski masih menggunakan keyboard tapi tak perlu mengetik-ketik seluruh path folder dimana kita menyimpan file-file kita.NC juga bisa diasosiasikan dengan program eksternal untuk melihat (view) file-file tipe tertentu, sudah dilengkapi dengan editor teks, bisa memeriksa atribut-atribut file dan masih banyak lagi. Pendek kata, sejak mengenal NC, saya selalu menggunakan Filemanager semacam itu di lingkungan-lingkungan lain. Di Windows 3.1 pada saat itu lalu hadir WinNC dan Windows Commander (yang kemudian menjelma menjadi Total Commander). Sebagaimana banyak program lain di Windows, ini pada dasarnya adalahh aplikasi berbayar dengan status shareware. Artinya untuk dapat kemampuan penuh-nya kita harus membayar.
Midnight Commander di Linux
Midnight Commander (MC) tentu mendapat inspirasinya dari NC, maka dari itu seorang kawan saya memplesetkannya menjadi Morton Commander Yang dahsyat adalah ketika MC juga dilengkapi dengan kemampuan membuka FTP folder. Jadi upload/download file atau folder berisi folder-folder bertingkat dengan segudang file terasa mudah. Dual panel standarnya memudah kita mengatur file-file di folder asal sekaligus mengatur dan mempersiapkan folder-folder tujuan. Sebagaimana juga di NC, MC juga bisa menggunakan program eksternal untuk mengintip isi file, sekaligus memeriksa atribut-atribut sebuah file: bermodus 755/777/644 dst. Modus-modus tersebut bisa diatur dan diubah secara mudah secara rekursif, dibandingkan jika kita harus mengetik chmod +x berulan-ulang di foler-folder yang berbeda dan bertingkat.
Krusader di dunia KDE
Ketika saya mulai mantap dengan KDE di Linux, Konqueror yang serbaguna dan hebat itu, masih belum cukup menarik. Masih belum memenuhi kebutuhan saya akan Filemanager yang tepat. Memang masih selalu bisa menggunakan Midnight Commander, tapi MC berarti kita mesti jalankan Konsole (terminal) dulu di KDE. Hingga akhirnya hadir juga NC ala KDE, Krusader. Krusader di KDE menyediakan protokol FiSH. Jadi Krusader menjadi pilihan utama saya jika berhubungan dengan SSH/SFTP dan transfer data dari desktop KDE. FiSH sebenarnya didesain untuk Midnight Commander oleh Pavel Machek tahun 1998.Krusader bahkan punya keleluasaan ke sejumlah protokol, yang jelas tersedia adalah FTP/FiSH/SMB/SFTP. Jadi di Linux-KDE, dengan krusader kita tak perlu aplikasi khusus untuk mengeksplorasi share folder berbasis Samba atau Windows Share Folder, tanpa harus repot mengetik perintah mount nama mesin dan nama share-nya. Jadi manajemen file/folder tidak hanya di lokal harddisk saja, tapi kita juga bisa mengelola semua file/folder di seluruh jaringan yang kita milki otorisasi pengelolaannya.
Maka ketika perpindahan dari KDE 3.5 (KDE terbaik yang pernah saya gunakan) ke KDE 4.x (yang lemot dan menyebalkan sampai sebelum 4.4.1 saat ini), banyak fans KDE yang meributkan kenapa Konqueror diganti posisinya oleh Dolphin sebagai Filemanager utama KDE. Dolphin memang lebih mengikuti gaya Windows Explorer, sebagaimana dulu Konqueror mengikuti Windows Explorer yang terintegrasi dengan Internet Explorer 6. Semuanya tak sangat penting bagi saya. Cukup MC dan Krusader bagi saya, dan lainnya tak terlalu penting mana yang jadi Filemanager utama KDE.
Gnome Commander di Ubuntu Gnome
Ketika saya meninggalkan PCLinuxOS yang berbasis KDE beberapa tahun lalu, saya ganti dengan Ubuntu yang berbasis Gnome, situasinya jadi lain. MC memang masih selalu ada, tapi di Gnome tak ada yang sesakti Krusader. Gnome-Commander ketika itu, masih lebih inferior dibanding Krusader di KDE. Belum ada deretan protokol ke remote mesin. Sebenarnya justru Nautilus, sebagai Filemanager utama Gnome sudah tersedia Connect to Server, jika akan terhubung ke remote mesin melalui FTP/Windows Share/Samba dan bahkan WebDAV. Tapi SSH belum ada. Sampai Ubuntu Jaunty Jackalope 9.04, Gnome Commander 1.2.7 baru mendukung SSH atau selurh protokol GnomeVFS. Meski Gnome Commander tertinggal beberapa tahun dari Krusader di KDE, akhirnya mulai nyaman juga saya di lingkungan Gnome. Terutama ketika KDE versi 4.x menyebalkan lambatt dan sering crash-nya. Ubuntu yang kebetulan Desktop Manager-nya adalah Gnome, menambah popularitas Gnome semakin jauh meninggalkan KDE.Saat itu, bisanya Desktop Manager apapun yang saya gunakan, saya selalu membawa serta Krusader. Akibatnya jika Krusader saya tambahkan ke Ubuntu yang Gnome maka Krusader akan membawa sekian pustaka-pustaka KDE yang dibutuhkan. Jika di RAM sudah mengendon pustaka-pustaka Gnome, maka pustaka-pustaka KDE akan ikut nongkrong di RAM ketika Krusader saya jalankan. Dengan kata lain, ini tidak akan efisien. Jadi jika di lingkungan Gnome, kurang tepat jika membawa terlalu banyak aplikasi KDE yang umumnya berbasis pustaka-pustaka QT. Sedangkan Gnome umumnya menggunakan pustaka-pustaka GTK.
FreeCommander dan WinSCP di WindowsXP/Vista/7
Bagaimana di Windows? Ada sebuah shareware yang selalu saya gunakan, karena fiturnya lebih lengkap daripada Total Commander, yaitu Altap Salamander. Altap Salamander saya gunakan sampai ketika saya temukan FreeCommander yang bebas digunakan sepenuhnya dengan kemampuan penuh Filemanager yang saya butuhkan. FreeCommander bahkan tersedia versi portabel-nya. Semuanya dapa diunduh disini.Sebagaimana di Filemanager Panel Kembar lainnya, asosiasi file terkompresi misal .zip, selalu bisa dibuka dan dintip isinya tanpa harus diekstrak dulu seluruhnya. Jadi file terkompresi bisa diperlakukan sebagai folder yang di dalamnya berisi file-file yang bisa dilihat isinya. Sayangnya FreeCommander belum termasuk kemampuan berinteraksi dengan protokol SSH/SFTP.
Jadi untuk kebutuhan SSH/SFTP, kita bisa gunakan WinSCP yang dapat diunduh disini, dan tersedia dalam bentuk siap diinstalasikan dan portabel. Aplikasi-aplikasi berbasis portabl ini, lebih mudah jika diletakkan pada USB Flash yang portabel dan bisa ditancapkan di mesin Windows manapun, bisa dijalankan tanpa perlu instalasi lagi.
Kesimpulan
Pada akhirnya selalu kembali pada pengguna, kebutuhan dan kebiasaannya. Di Linux ataupun Windows, berpindah-pindah posisi dari mouse ke keyborad juga perlu waktu. Jadi pada kondisi tertentu penting bagi saya untuk tidak terlalu sering berpindah tangan dari mouse ke keyboard bolak-balik hanya untuk hal-hal yang sederhana. Dan saya juga menghindari memindahkan atau menyalin file/folder dengan cara drag and drop. Yang penting satu Filemanager yang lengkap dengan fitur dan utilitas untuk banyak hal. Termasuk tombol-tombol F1-F10 yang berguna banyak dibanding Filemanager standar.
Posted by Meta Nurwidyanto
in Utility
at
21:23
| Comments (0)
| Trackbacks (0)
View as PDF: This entry | This month | Full blog
View as PDF: This entry | This month | Full blog
Trackbacks
Trackback specific URI for this entry
No Trackbacks

