Sekitar limabelas tahun yang lalu, sudah pernah terjadi perang browser, yaitu antara Netscape Navigator (Netscape) dan Microsoft Internet Explorer (IE). Dan beberapa saat kemudian kita tahu pemenangnya adalah IE, karena dibarengi pula dengan makin populernya Windows di komputasi desktop. Selama bertahun-tahun IE6 merajai browser, sementara Netscape makin tersingkir dan Opera tak pernah beranjak ke dua digit market share. Hingga muncul pemain-pemain baru yang dahsyat dimana perang browser terjadi lagi: Mozilla Firefox(Firefox), Opera, Apple Safari (Safari) dan Google Chrome (Chrome). Google, raksasa IT era Millenium baru yang muncul dari sukses mesin pencarinya, melahirkan Chrome. Chrome paling belakang, sehingga memang sudah melihat apa yang kurang dari browser-browser yang datang sebelumnya.
Saturday, May 29. 2010
Chrome, Chromium dan Iron
Chrome
Chrome datang tak langsung selengkap kemampuannya saat ini. Beda dengan Firefox yang justru punya kaitan dengan Netscape, adalah browser dari pemisahan Mozilla Internet Suite (Browser, Mail, HTML Composer dll). Chrome sangat enteng dengan antarmuka yang sederhana. Tak ada toolbar berderet, kemampuan render halaman yang sangat cepat, kemampuan javascript tingkat lanjut. Patut diingat, bahhwa Google termasuk pelopor penggunaan halaman web berbasis AJAX (Asynchronous Javascript and XML), yang kemudian disebut-sebut sebagai komponen teknis dari web 2.0. Dimana sebuah halaman web, tak lagi statis, dan dirender seluruh halaman ada satu bagian dari halaman yang breubah nilainya. Pemicu perubahannya adalah request yang dilakukan secara periodik dan asynchronous oleh javascript. Jadi patut dimengerti jika Google mengekstensifkan kemampuan javascript browser-nya sendiri agar setidaknya semua halaman Google dapat ditampilkan tanpa cela. Banyak orang memang dengan perkembangan dunia pemrograman web, yang kecewa dengan kemampuan IE6. IE adalah penguasa pasar karena kehadirannya de facto bersama Windows. Tapi Microsoft gagal mengenali browser sebagai komponen penting yang harus mendapat prioritas pertama dari perkembangan internet. Mozilla sempat mendapatkan momentum dari kelambatan Microsoft, hingga Firefox menggerogoti pasar IE dengan cepat. Posisi Firefox langsung melejit ke dua digit dalam beberapa tahun saja. IE7 gagal mendapatkan momentum, IE8 diewatkan orang karena cap ketakamanan IE dan hanya bertahan praktis karena posisi Windows di pasar.
Chrome berjaya karena mesin pencari Google, dan layanan-layanan super Google: Google Map, Google Talk, Google Gmail dll. Chrome lekas merebut hati peselancar web, karena ringannya. Saya pribadi saat itu masih selalu setia dengan Firefox karena alasan praktis saja. Chrome di awal kemunculannya tak punya extension. Jadi beberapa kemampuan Firefox dengan extension-nya: memblokir adbanner, flash bannner, javascript debugger (bagi pengembang web ini cukup penting), dll. Tapi saat itu justru karena itulah Chrome ringan dan cepat.
Tapi ketika tahu lalu Chrome mulai menghadirkan extension, dan kita bisa menemukan banyak extension di galeri-nya yang bisa membuat Chrome jadi substitusi Firefox. Chrome rasanya mulai dapat momentum cepat kenaikan market share-nya justru karena kelengahan Firefox. Saya sendiri tidak tahu hendak dibawa kemana Firefox. Firefox 3.5 dan 3.6 menyebalkan sekali karena sering crash. Belum pernah sebelumnya Firefox sesering itu crash saat kita membuka halaman-halaman web yang berat dengan javascript rendering, AJAX dan css yang kompleks. Saya pun beralih ke Opera karena Firefox benar-benar membuat kecewa saya. Hanya sayangnya Chrome tak hadir di Linux. Itulah salah satu alasan saya tetap bertahan di Opera ketika itu, hingga hadirnya Chromium.
Chromium
Chromium adalah nama sebuah project dari source code Chrome, hanya dibedakan dari logo saja. Logo Chromium project adalah Chrome tanpa warna-warni merah kuning hijau, tapi biru muda. Chromium adalah nama yang diberikan dari opensource project yang dijaga para pengembang Chromium. Chromium memungkinkan kita mendapatkan snapshot paling akhir dari pengembangan browser Chrome. Di Ubuntu instalasinya sedikit beda karena tidak tersedia di repository resmi yang umum dari Ubuntu. Tetapi ada di respository Ubuntu yang lain. Instalasinya adalah sebagai berikut. Tambahkan dulu repository Chromium dari Ubuntu (asumsinya, kita menggunakan Ubuntu 10.04 Lucid Lynx):
$sudo echo "deb http://ppa.launchpad.net/chromium-daily/ppa/ubuntu lucid main" >> /etc/apt/sources.list
$sudo apt-get update && apt-get install -y chromium-browser
Sementara Apple malah mengambil sikap bermusuhan dengan Adobe soal plugin flash yang tidak akan tersedia di Ipad, Google malah mengambil langkah sebaliknya dengan mengkompilasi Chrome sekaligus dengan flash didalamnya. Sebagai bukti saya coba uninstall plugin flash dari dari Ubuntu saya sampai terbukti Firefox tak mampu lagi menampilkan halaman yang mengandung flash. Tapi Chromium dapat merender dengan sempurna halaman-halaman web berbasis flash yang kompleks.
Meski Chromium adalah versi opensource dari Chrome, tetapi ketika hadir extension dan themes untuk Chrome, maka Chromium juga dapat memanfaatkannya. Konsep themes dari Chrome berbeda dari Firefox. Theme di Firefox, meski bagus sering malah menjadikan loading awal browser menjadi lambat. Akibatnya jika tidak sedang membuka browser, dan kita klik URL web sementara browser default adalah Firefox, maka waktu start Firefox yang lambat ini jadi sangat menganggu. Jadi seperti tak ada lagi yang perlu disesalkan meninggalkan Firefox untuk menjadikan Chromium browser utama di Ubuntu atau Linux distro lainnya.
Iron
Iron adalah browser yang dikembangkan dari source code Chrome oleh SRWare tapi dengan menghilangkan hal-hal yang dianggap ancaman ke privasi pengguna. Iron tersedia disini dalam bentuk instalasi dan portable. Bentuk portabel ini menarik sekali terutama jika kita memerlukan Iron dimanapun hingga bisa dikemas/bawa dengan USB Flash tanpa perlu instalasi dulu untuk menggunakannya. Iron berperilaku sama seperti halnya Chromium, termasuk juga dapat menggunakan seluruh extension dan theme Chrome. Hanya saja dari menu extension, jika kita klik gallery di halaman extension Iron, tak akan lari ke halaman extension Chrome secara langsung. Kita perlu pergi secara manual ke halaman-halaman extension dan themes Chrome dulu sebelum dapat memilih extension atau theme dan menginstalasikannya. Sebelum menggunakan Iron pun saya selalu mencoba berhati-hati jika menggunakan Google Chrome. Contoh kasus: jika kita sedang login ke email gmail, maka sebaiknya tidak melakukan aktifitas apapun termasuk mencari sesuatu ke mesin pencari Google sampai logout. Ini untuk menghindari Google merekam jejak kita dan mengasosiasikannya ke email gmail kita. Pada gilirannya nanti bisa ada penawaran-penawaran produk-produk tertentu berdasar hasil survey rekam jejak aktifitas kita selama login gmail.
Jadi saya terbiasa membuka gmail dari tempat lain. Email client seperti Thunderbird sudah mampu mengambil email-email kita di gmail secara langsung, karena gmail juga membuka layanan IMAP dan POP3 emailnya.
Beberapa Catatan
Kemarin saya baru saja menemukan bahwa Chrome untuk linux sudah tersedia disini. Jika kita klik URL tersebut saat kita ada di Linux, Google akan membawa kita untuk download Chrome untuk Linux. Tersedia versi 32bit dan 64bit untuk Debian (.deb) dan OpenSUSE/Fedora (.rpm). Saya mencoba download versi 64bit untuk Ubuntu (.deb). Maka selanjutnya tulisan ini disusun dan diunggah dengan menggunakan Chrome untuk Linux yang baru.
Karena fungsinya sama dan sejenis, saya uninstall dan buang Chromium dari daftar browser di notebook saya. Tapi bersamaan dengan ketika tulisan ini saya buat, saya sempat tak menemukan lagi www.chromium.org. Apakah ini berarti tak ada lagi Chromium? Barangkali selanjutnya memang lebih baik menyatukan brand. Karena Chromium bukan forking dari Chrome (beda dengan Iron). Chromium adalah opensource project yang dibuat untuk mengisi kekosongan hadirnya Chrome di Linux dan Mac. Jadi saya kira setelah saat ini Chrome telah hadir secara resmi untuk Linux dan Mac, update dan pemeliharannya menjadi tunggal: Chrome saja.
Menurut pendapat saya Opera sebenarnya bukanlah browser yang jelek. Kecepatannya sedikit diatas Firefox. Tapi Opera berjaya di ranah perangkat genggam (ponsel). Mozilla hadir terlambat dengan Fennec. Sementara menggunakan strategi Windows jaman jaya di desktop dulu, Apple Iphone/Ipad menempelkan Safari dan Google Android menempelkan Chrome di sistem operasi mereka masing-masing. Meski begitu Opera masih belum tergeser untuk tak dilirik jika kita bicara perangkat genggam. Saya heran jika Opera masih ngotot di desktop, sementara mereka dahsyat di dunia mini ponsel dan PDA. IE6/IE7/IE8? Jika anda masih menggunakan IE6, saya tidak tahu apakah bodoh, tidak perduli atau memang tidak tahu. Bahkan Microsoft sendiri sudah menganjurkan untuk migrasi ke IE7/IE8. Meski begitu IE7/IE8 akan masih tetap tak aman (berlubang-lubang keamanannya disana-sini), dan kita akan terpaksa melahap semua iklan yang menghabiskan jatah bandwidth kita, jika masih tak perduli terus menggunakannya. Karena sesederhana adblocker pun IE tak memilikinya sendiri.
Posted by Meta Nurwidyanto
in Browser
at
09:15
| Comment (1)
| Trackbacks (0)
View as PDF: This entry | This month | Full blog
View as PDF: This entry | This month | Full blog
Trackbacks
Trackback specific URI for this entry
No Trackbacks
Comments
Display comments as
(Linear | Threaded)
I am to submit a report on this niche your post has been very very helpfull
#1
here
(Homepage)
on
2011-07-15 19:00
(Reply)

