Ada tiga peristiwa besar dalam hidup manusia, umumnya: kelahiran, pernikahan dan kematian. Dua dari tiga peristiwa itu ditandai dengan upacara dan mampu mengumpulkan sanak kerabat dan handai tolan, yang dekat maupun yang jauh. Pada kelahiran, meskipun nuansa-nya sama menggembirakannya dengan pernikahan, tetapi tak ditandai dengan upacara, hanya kabar gembira yang menyebar cepat dan ucapan selamat dan doa-doa yang hebat untuk si jabang bayi. Sebuah kehidupan baru yang penuh harapan. Pernikahan dalam adat timur, hampir semua suku di Indonesia dengan agama apapun, di-upacara-kan dengan meriah, penuh sukacita, bertabur doa dan harapan bagi kehidupan baru yang akan dijelang mempelainya. Sedang kematian juga melalui upacara perkabungan pemakaman yang biasa penuh isak dan tangis tertahan.
Monday, June 7. 2010
Pernikahan: Pertemuan dan Perpisahan
Pernikahan dalam Sakralnya Upacara
Pernikahan dengan adat berbagai suku di Indonesia, melalui serangkaian acara yang rumit dan sering tak rasional lagi bagi yang tak dibesarkan dalam ketatnya adat. Tetapi banyak dari orang tua kita masih setia menjalaninya, meski persiapannya juga sering bikin pusing kepala dan banyak biayanya.
Mengikuti upacara pernikahan dalam adat Jawa sangat rumit. Maka dari itu, banyak orang melakukan penyederhanaan rangkaian upacara, meski berusaha tetap mengikuti pakem. Dari memilih hari H saja, orang Jawa punya perhitungna yang njelimet, yang tak semua orang Jawa paham, bagaimana cara menghitungnya. Pada generasi yang lebih muda, meskipun tak paham, banyak yang tetap mengikutinya, bukan karena takut ancaman jika salah hitung, tapi lebih pada rasa gembira dan kesungguhan yang ingin ditunjukkan saat menjalani rangkaian upacara adat pernikahan.
Semua hari pada dasarnya baik, selalu ada yang bisa dikompromikan. Jadi meskipun ada pakem-pakem tertentu, kompromi selalu tersedia, alternatif selalu bisa dicari, jika satu hari kurang tepat dari alasan praktisnya, misal: bukan akhir minggu.
Berkumpulnya Sanak Kerabat dan Handai Tolan
Upacara pernikahan, mampu mengumpulkan sanak kerabat dan handai tolan. Semua berkumpul menghargai undangan yang empunya hajat, dan ingin ikut bergembira mengucapkan selamat dan doa-doa bagi mempelainya. Acara itu sering juga menjadi ajang bagi reuni kecil, bagi sanak kerabat, dan teman-teman masa kecil hingga dewasa. Akan terkumpul cerita-cerita masa kecil yang lucu-lucu, cerita-cerita yang layak diceritakan, yang indah dikenang sebagai bekal menuju pintu mahligai hidup bersama.
Pernikahan selalu menjadi saat yang membahagiakan jika dijalani dengan wajar, tanpa keterpaksaan atau bahkan ditutup-tutupi. Pernikahan siri contohnya, entah kenapa juga masih banyak yang melakukannya. Umumnya yang laki-laki kurang menghargai istrinya dengan melakukan pernikahan siri. Karena pernikahan tersebut secara membuat si istri tak terlindungi hak-haknya secara hukum, negara maupun adat.
Pernikahan adalah awal yang sakral bagi jenjang kehidupan yang lebih dewasa. Kehidupan setelah pernikahan, bukanlah hanya legalitas, seks atau pabrik anak. Tetapi lebih pada sebentuk pengabdian pada keluarga. Pengabdian yang bukan berarti menghilangkan pribadi-pribadi yang menyatukan diri dalam pernikahan, tetapi justru penemuan-penemuan kesejatian diri dalam pengabdian tersebut.
Si aku tak hilang dalam pernikahan dan lahirnya keluarga, si aku justru akan menemukan jalannya dalam pengabdian dan keikhlasannya, jalan utama menyatukan diri dengan kesejatiannya, dengan kasih sayang pencipta alam semesta.
Setelah Upacara Usai
Dalam bagian ini, pernikahan hampir tak beda dengan kematian. Ketika berita tersebar, ketika upacara dijalankan, orang-orang berdatangan: sanak kerabat dan handai tolan. Jika pernikahan: ikut berbahagia, pada kematian: ikut berbela sungkawa atau berbagi duka. Ketika semua berkumpul, semua terasa lebih ringan. Tak pernikahan tak kematian, semua orang yang datang dan berbagi ikut meringankan beban menjalani upacara.
Tetapi setelah upacara usai, pada pernikahan: setelah akad nikah dan resepsi, pada kematian: setelah jenazah dikuburkan, segalanya akan tinggal pada kita saja. Pada seorang ibu atau ayah yang ditinggal meninggal pasangannya, satu persatu anak-anaknya dan keluarga lainnya akan pergi kembali ke kehidupanya, pada kewajiban dan perjuangannya masing-masing. Pada pernikahan, tinggalah mempelai berdua yang siap menjalani hidup mereka. Orang tua yang menikahkan mereka, sering merasakan rasa bolong: satu lagi dari anak mereka akan pergi membentuk keluarganya sendiri.
Satu per satu mereka pergi, saudara-saudara, anak-anak dengan cucu-cucu yang lucu dan manis, sanak kerabat yang telah menyempatkan datang dari tempat-tempat yang jauh. Ada yang selalu terasa hilang dalam sesaat. Terasa waktu begitu cepat, dan segala yang geriap telah lewat. Setelah upacara usai, ada sebuah episode baru yang akan dimulai.
Pada saat seperti inilah terlihat, betapa hebatnya ibu-ibu kita. Dari susah payah membawa kita dalam perutnya selama sembilan bulan, perjuangan berdarah-darah melahirkan , tangis dan keringat membesarkan kita, hingga akhirnya harus melihat kita mesti pergi pula memisahkan diri sepenuhnya darinya untuk menjemput takdir hidup kita sendiri. Ketika semua jenis cinta selalu berujud dan berujung pada penyatuan (termasuk cinta kita pada Yang Maha Pengasih), seorang ibu justru dituntut ikhlas bahwa seluruh cintanya akan membawanya pada perpisahan dengan buah hatinya.
Setelah upacara pernikahan usai, adakah kita terpikirkan hal itu, ketika kita menjadi mempelainya? Adakah kemeriahan pesta dan penyatuan cinta membara kita masih bisa membuat kita sempat menengok ke belakang sejenak? Betapa hebatnya orang tua kita, betapa indahnya bisa mengumpulkan sejumlah besar keluarga dan kerabat, betapa banyak yang begitu ikhlas membantu kita, begitu besarnya biaya (uang , keringat, pikiran dan hati) yang dicurahkan untuk upacara kita?
Pada setiap upacara usai, melepas sanak kerabat dan teman-teman baik, selalu menerbitkan rasa haru saya. Betapa indahnya sebuah keluarga, pertemuan dan juga perpisahan. Semoga setiap mempelai yang menikah, mengerti bahwa doa dan harapan yang terucap, membuat mereka tak putus asa berjuang bersama apapun resikonya, dengan ridla Yang Maha Pengasih.
Pernikahan dengan adat berbagai suku di Indonesia, melalui serangkaian acara yang rumit dan sering tak rasional lagi bagi yang tak dibesarkan dalam ketatnya adat. Tetapi banyak dari orang tua kita masih setia menjalaninya, meski persiapannya juga sering bikin pusing kepala dan banyak biayanya.Mengikuti upacara pernikahan dalam adat Jawa sangat rumit. Maka dari itu, banyak orang melakukan penyederhanaan rangkaian upacara, meski berusaha tetap mengikuti pakem. Dari memilih hari H saja, orang Jawa punya perhitungna yang njelimet, yang tak semua orang Jawa paham, bagaimana cara menghitungnya. Pada generasi yang lebih muda, meskipun tak paham, banyak yang tetap mengikutinya, bukan karena takut ancaman jika salah hitung, tapi lebih pada rasa gembira dan kesungguhan yang ingin ditunjukkan saat menjalani rangkaian upacara adat pernikahan.
Semua hari pada dasarnya baik, selalu ada yang bisa dikompromikan. Jadi meskipun ada pakem-pakem tertentu, kompromi selalu tersedia, alternatif selalu bisa dicari, jika satu hari kurang tepat dari alasan praktisnya, misal: bukan akhir minggu.
Berkumpulnya Sanak Kerabat dan Handai Tolan
Upacara pernikahan, mampu mengumpulkan sanak kerabat dan handai tolan. Semua berkumpul menghargai undangan yang empunya hajat, dan ingin ikut bergembira mengucapkan selamat dan doa-doa bagi mempelainya. Acara itu sering juga menjadi ajang bagi reuni kecil, bagi sanak kerabat, dan teman-teman masa kecil hingga dewasa. Akan terkumpul cerita-cerita masa kecil yang lucu-lucu, cerita-cerita yang layak diceritakan, yang indah dikenang sebagai bekal menuju pintu mahligai hidup bersama.
Pernikahan selalu menjadi saat yang membahagiakan jika dijalani dengan wajar, tanpa keterpaksaan atau bahkan ditutup-tutupi. Pernikahan siri contohnya, entah kenapa juga masih banyak yang melakukannya. Umumnya yang laki-laki kurang menghargai istrinya dengan melakukan pernikahan siri. Karena pernikahan tersebut secara membuat si istri tak terlindungi hak-haknya secara hukum, negara maupun adat.
Pernikahan adalah awal yang sakral bagi jenjang kehidupan yang lebih dewasa. Kehidupan setelah pernikahan, bukanlah hanya legalitas, seks atau pabrik anak. Tetapi lebih pada sebentuk pengabdian pada keluarga. Pengabdian yang bukan berarti menghilangkan pribadi-pribadi yang menyatukan diri dalam pernikahan, tetapi justru penemuan-penemuan kesejatian diri dalam pengabdian tersebut.
Si aku tak hilang dalam pernikahan dan lahirnya keluarga, si aku justru akan menemukan jalannya dalam pengabdian dan keikhlasannya, jalan utama menyatukan diri dengan kesejatiannya, dengan kasih sayang pencipta alam semesta.
Setelah Upacara Usai
Dalam bagian ini, pernikahan hampir tak beda dengan kematian. Ketika berita tersebar, ketika upacara dijalankan, orang-orang berdatangan: sanak kerabat dan handai tolan. Jika pernikahan: ikut berbahagia, pada kematian: ikut berbela sungkawa atau berbagi duka. Ketika semua berkumpul, semua terasa lebih ringan. Tak pernikahan tak kematian, semua orang yang datang dan berbagi ikut meringankan beban menjalani upacara.
Tetapi setelah upacara usai, pada pernikahan: setelah akad nikah dan resepsi, pada kematian: setelah jenazah dikuburkan, segalanya akan tinggal pada kita saja. Pada seorang ibu atau ayah yang ditinggal meninggal pasangannya, satu persatu anak-anaknya dan keluarga lainnya akan pergi kembali ke kehidupanya, pada kewajiban dan perjuangannya masing-masing. Pada pernikahan, tinggalah mempelai berdua yang siap menjalani hidup mereka. Orang tua yang menikahkan mereka, sering merasakan rasa bolong: satu lagi dari anak mereka akan pergi membentuk keluarganya sendiri.
Satu per satu mereka pergi, saudara-saudara, anak-anak dengan cucu-cucu yang lucu dan manis, sanak kerabat yang telah menyempatkan datang dari tempat-tempat yang jauh. Ada yang selalu terasa hilang dalam sesaat. Terasa waktu begitu cepat, dan segala yang geriap telah lewat. Setelah upacara usai, ada sebuah episode baru yang akan dimulai.
Pada saat seperti inilah terlihat, betapa hebatnya ibu-ibu kita. Dari susah payah membawa kita dalam perutnya selama sembilan bulan, perjuangan berdarah-darah melahirkan , tangis dan keringat membesarkan kita, hingga akhirnya harus melihat kita mesti pergi pula memisahkan diri sepenuhnya darinya untuk menjemput takdir hidup kita sendiri. Ketika semua jenis cinta selalu berujud dan berujung pada penyatuan (termasuk cinta kita pada Yang Maha Pengasih), seorang ibu justru dituntut ikhlas bahwa seluruh cintanya akan membawanya pada perpisahan dengan buah hatinya.
Setelah upacara pernikahan usai, adakah kita terpikirkan hal itu, ketika kita menjadi mempelainya? Adakah kemeriahan pesta dan penyatuan cinta membara kita masih bisa membuat kita sempat menengok ke belakang sejenak? Betapa hebatnya orang tua kita, betapa indahnya bisa mengumpulkan sejumlah besar keluarga dan kerabat, betapa banyak yang begitu ikhlas membantu kita, begitu besarnya biaya (uang , keringat, pikiran dan hati) yang dicurahkan untuk upacara kita?
Pada setiap upacara usai, melepas sanak kerabat dan teman-teman baik, selalu menerbitkan rasa haru saya. Betapa indahnya sebuah keluarga, pertemuan dan juga perpisahan. Semoga setiap mempelai yang menikah, mengerti bahwa doa dan harapan yang terucap, membuat mereka tak putus asa berjuang bersama apapun resikonya, dengan ridla Yang Maha Pengasih.
Posted by Meta Nurwidyanto
in Glenyengan
at
18:51
| Comments (0)
| Trackbacks (0)
View as PDF: This entry | This month | Full blog
View as PDF: This entry | This month | Full blog
Trackbacks
Trackback specific URI for this entry
No Trackbacks

