Begitu gegap gempitanya ide membawa Teknologi Komunikasi dan Informasi (TIK) ke Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sejak bertahun lalu, tetapi selalu saja benturannya adalah kemampuan adopsi, sumber daya manusia dan kurangnya ketersediaan solusi tepat guna TIK untuk UKM. Dengan kemampuan dan dukungan permodalan yang terbatas, tentu kapasitas membangun TIK yang dapat mendukung operasi dan ekspansi usaha UKM menjadi sangat terbatas. Meskipun telah banyak solusi vendor-vendor perangkat keras dari Intel, IBM, Cisco, Dell, HP dan Microsoft ngotot menawarkan solusi yang konon ditujukan kepada perusahaan-perusahaan UKM, tetap saja banyak tak terjangkau oleh UKM. Salah satunya adalah solusi mendia penyimpanan data: Storage Server.
Tuesday, October 5. 2010
Dari DAS ke SAN: Alternatif Storage Server untuk UKM
Mengapa DAS ke SAN?
Banyak jenis usaha UKM, atau bahkan omsetnya sudah melampaui kriteria UKM tak mengimplementasikan solusi berbasis TIK dengan tepat. Akibatnya adalah inefisiensi, pemborosan sumberdaya, pembengkakan total biaya kepemilikan dan muaranya adalah kegagalan dukungan TIK terhadap operasi perusahaan secara keseluruhan. Storage Server biasanya tak dianggap sebagai komputasi utama yang perlu dipersiapkan. Sebagian besar UKM hanya akan menggunakan Direct Attached Storage (DAS) berupa harddisk dapat ditambahkan atau diganti ke ukuran yang lebih besar. Ini adalah solusi sederhana dan tak terencana.
Storage Server akan disadari menjadi penting ketika sudah agak terlambat. Storage Server selalu berasosiasi dengan pemanfaatan akses jaringan bagi penyimpanan data atau Storage Area Network (SAN). TIK selalu mengikuti perkembangan teknologi-teknologi terbaru. Komputasi pendukung operasional dan manajemen data juga terus berkembang, mulai dari 4 yang utama: Mail Server, Database Server, Application Server dan File Server mengikuti arah perkembangan terakhir TIK. Solusi ini cukup menguras sumberdaya jika tak diterapkan dengan tepat. Ketepatan itu tak berarti mencari yang murah saja, tetapi juga berpikir sampai beberapa tahun ke depan.
Di dunia TIK, sebenarnya keterlambatan mengikuti perkembangan perangkat keras, masih dapat ditoleransi 3-4 tahun ke belakang atau bahkan lebih tua lagi sedikit. Artinya investasi pemeliharaan dan penambahan kemampuan pengelolaan data dari perangkat keras masih bisa ditahan 3-4 tahun ke belakang. Tapi penghematan itu hampir tak dapat dilakukan pada penyimpanan data. Hampir seluruh investasi baru dapat ditahan, kecuali untuk mengurangi penambahan kapasitas data. karena setiap data pelanggan, transaksi dan seluruh log yang ada, tak bijak jika tak dikelola dengan benar agar bisa terus dimanfaatkan untuk dianalisa lagi.
Data pelanggan sebuah perusahaan mungkin lambat bertambah, tapi data transaksinya tak berarti berhenti bertambah. Bahkan komputasi personal pun terus memerlukan penambahan kapasitas data. Jika tidak ditambah, maka akhirnya harus diadakan pemilihan data yang aktual saja yang bisa terus disimpan. Penyediaan ruang penyimpanan data ini, perlu perencanaan matang. Dari kapasitas aktual, kapasitas backup dan kapasitas yang dicadangkan untuk keduanya. Perhitungan ini perlu dianggarkan dengan tepat.
Solusi dari vendor-vendor ternama lebih sering tak pernah terjangkau oleh UKM. Jangankan untuk memikirkan kapasitas storage array dengan mirror dan redundancy, memikirkan kebutuhan operasional dan penyimpanan data aktual saja masih sulit. Maka lebih tak bijak jika solusi yang digunakan justru mengabaikan pemilihan teknologi dan penerapan yang tepat. Pemilihan teknologi ini menjadi penting karena selain penerapan yang tepat juga memperhitungkan efisiensi dan fleksibilitas ekpansinya di masa depan.
Soal Sumberdaya Manusia
Sumberdaya selalu menjadi masalah besar dalam penerapan TIK untuk UKM. Selain kapasitas pembiayaan, keterbatasan pengetahuan juga ketersediaan tenaga kerja yang terampil dan pengalaman, masih dirasa kurang sekali. Bahkan dengan menjamurnya sekolah-sekolah tinggi teknologi komunikasi dan informasi di kota-kota kabupaten, ternyata banyak belum mampu menjawab kebutuhan penyediaan sumberdaya manusia TIK yang dibutuhkan.
Banyaknya dukungan BUMN besar sering hanya berupa pemanis bibir saja. Dukungan dan dorongan pemerintah seperti biasa masih sangat kurang. Sementara ketersediaan tenaga terampil dan berpengalaman yang mampu memikirkan solusi TIK yang tepat guna untuk UKM sering sulit dipertemukan. Karena umumnya tenaga terampil yang ada berasal dari komunitas-komunitas opensource, maka mereka sendiri juga terbatas waktu dan kemampuannya untuk menjual dan memperkenalkan diri kepada jenis-jenis usaha UKM. Akibatnya lulusan sekolah-sekolah TIK yang ahli dan berbakat justru lebih mudah menawarkan diri mereka ke perusahaan-perusahaan asing dan akhirnya melayang ke luar Indonesia. Sisanya yang kurang terampil akan bekerja di luar bidang TIK atau menambah jumlah sarjana pengangguran.
Pengadaan Perangkat Keras Tepat Guna
Dengan memperhitungkan kebutuhan dan kemampuan, pada dasarnya storage server bisa dibangun sendiri dengan penyesuaian pada dua hal besar tersebut. Pengadaan ini dengan memperhitungkan fleksibilitas ekspansinya di masa depan. Dengan perhitungan yang tepat untuk kapasitas dan flksibilitas yang sama, pengadaan perangkat keras bisa diabaikan dengan membangun sendiri. Pada perangkat keras, memang perlu keseimbangan antara kebutuhan, anggaran dan kehandalan mesin. Jika kesulitan dengan SDM, maka perlu dukungan terhadap ketersediaan perangkat keras tambahan yang kita perlukan sewaktu-waktu. Sudah ada beberapa vendor lokal, yang bisa diajak bekerja sama dan cukup baik dukungan purna jualnya.
Jika mampu, sepenuhnya perangkat keras dibangun sendiri. Ini harusnya berlaku untuk industri piranti lunak lokal. Kerja keras ini sudah ditunjukkan pada kisah-kisah awal berdirinya raksasa Google. Kesuksesan mereka adalah kerja keras, diantaranya adalah bagaimana membangun teknologi backend yang mendukung komputasi algoritma dan media penyimpanan data seperti yang mereka butuhkan. Tidak ada yang serta merta untuk sampai ke titik itu. Pada UKM hal ini seharusnya menjadi bagian utama yang layak dipikirkan.
Memilih cloud technology di Indonesia rasanya masih belum tepat. Terutama karena harga layanan pita lebar yang masih sangat mahal. Jadi soal penyimpan data, metode konvensional masih lebih terjangkau. Metode konvensional adalah menyediakan membangun storage server sendiri yang terjangkau, mudah pengoperasian dan pemeliharaannya. Mesin-mesin untuk storage server bisa dimulai dari yang paling kecil, setidaknya menyediakan kapasitas yang besar. Saat ini memilih disk array akan lebih menghemat ruang dan catu daya daripada memilih penyediaan lebih dari satu mesin untuk mendukung pola redundancy. Tetapi memang paling mudah mencari dua mesin di pasar untuk redundant Storage Server. Dari yang paling sederhana, dengan dua mesin redundant, setidaknya hanya dibutuhkan mulai kurang dari 10 juta rupiah untuk membangun dual mesin Storage Server dengan kapasitas 4 TB SATA.
Memilih Piranti Lunak
Pertama, tentu Opensource! Solusi lain hanya pembajakan atau membayar lebih tinggi lagi. Pembajakan tidak akan menghindarkan dari resiko lain berupa ancaman keamanan, kehilangan dukungan dan memang sangat tak bijak untuk UKM dari sisi Total Biaya Kepemilikan. Opensource sudah menyediakan solusi jadi untuk itu.
Solusi dari Opensource berupa sistem operasi yang bisa mengubah sebuah PC biasa untuk difungsikan menjadi SAN (Storage Area Network) dan NAS (Network Attached Storage) sekaligus. Yang instan adalah FreeNAS dan Openfiler, dua dari yang beserak di dunia opensource. Menyebut yang lainnya adalah Nexenta Stor sampai kapasitas tertentu saja. Storage Server yang mampu bergunsi menjadi SAN/NAS sekaligus menjadi penting, jika pemeliharaannya sampai pada tingkat: anda tak perlu menyadarinya bahwa mesin itu ada, kecuali bahwa kapasitas yang anda butuhkan selalu tersedia. Bebas virus, hemat sumberdaya, tak perlu perangkat input/output standar PC: keyboard, mouse dan monitor. Yang kita perlukan hanya network card dan koneksi Storage Server ke jaringan. Pengaturan dan konfigurasi selanjutnya bisa dilakukan secara remote dari PC lain di dalam jaringan yang sama.
Seringkali saya dapati yang terjadi pada UKM adalah penggunaan sistem operasi bajakan, belanja harddisk berukuran kecil yang membingungkan manajemennya, pembangunan NAS (hanya berupa share disk) yang tidak terorganisasi dengan baik, pengaturan otoritas penggunaan yang merepotkan pemeliharaan ditambah ganggguan-gangguan lain yang mengancam keamanan data: virus, worm, dll. Memfungsikan sistem operasi desktop menjadi Storage Server amat tidak tepat. Bukan kapasitasnya, dan secara jangka panjang merepotkan pemeliharaan sistem dan data.
Panggilan Bagi Penggiat Opensource
Di Indonesia saat ini, sekolah-sekolah Teknologi Informasi sudah berjamur. Di banyak kota besar dan bahkan kota-kota kecil sudah menghasilkan sarjana-sarjana teknologi informasi yang masih terus bisa diserap. Hanya sayangnya penyerapan ini tidak dibarengi dengan peningkatan kualitasnya. Dari bibit sampai metode pengajarannya banyak yang kurang memberikan inspirasi bagi pelajar untuk menggali kemampuannya. Yang terjadi justru sekolah menjadi tak lebih dari tempat kursus kilat yang menghasilkan para pengguna yang bahkan masih belum terlatih.
Jadi masih sulit untuk menumbuhkan pengembang solusi kreatif yang mampu memberikan layanan tepat guna solusi penyimpanan data untuk UKM. Akibatnya solusi sederhana pun jadi nampak mahal, karena sedikitnya penyedia layanan tersebut atau langkanya tenaga terlatih. Dari komunitas Opensource, diharapkan mampu memberikan solusi tepat guna yang bersifat lebih masal. Artinya layanan pembangunan tersebut menjadi kemasan yang bisa diproduksi atau bahkan disalin dengan mudah secara masal. Misalnya dengan pengembangan distribusi sistem operasi siap pakai dari dunia Opensource yang dapat langsung digunakan secara instan untuk menangani penyimpanan data dalam ukuran besar dan membengkak cepat.
FreeNAS dikembangkan dari FreeBSD, Nexenta dikembangkan dari OpenSolaris dan Openfiler dari Linux. Rasanya masih selalu terbuka ruang bagi distribusi khusus menangani solusi penyimpanan data jaringan seperti ini. Komunitas Opensource Indonesia, kapan lahir distribusi khusus untuk SAN dari anda? Yang mudah, instan dan tepat guna masih akan selalu ditunggu UKM, daripada UKM harus belanja solusi vendor-vendor besar yang jelas tak ekonomis.
Banyak jenis usaha UKM, atau bahkan omsetnya sudah melampaui kriteria UKM tak mengimplementasikan solusi berbasis TIK dengan tepat. Akibatnya adalah inefisiensi, pemborosan sumberdaya, pembengkakan total biaya kepemilikan dan muaranya adalah kegagalan dukungan TIK terhadap operasi perusahaan secara keseluruhan. Storage Server biasanya tak dianggap sebagai komputasi utama yang perlu dipersiapkan. Sebagian besar UKM hanya akan menggunakan Direct Attached Storage (DAS) berupa harddisk dapat ditambahkan atau diganti ke ukuran yang lebih besar. Ini adalah solusi sederhana dan tak terencana.Storage Server akan disadari menjadi penting ketika sudah agak terlambat. Storage Server selalu berasosiasi dengan pemanfaatan akses jaringan bagi penyimpanan data atau Storage Area Network (SAN). TIK selalu mengikuti perkembangan teknologi-teknologi terbaru. Komputasi pendukung operasional dan manajemen data juga terus berkembang, mulai dari 4 yang utama: Mail Server, Database Server, Application Server dan File Server mengikuti arah perkembangan terakhir TIK. Solusi ini cukup menguras sumberdaya jika tak diterapkan dengan tepat. Ketepatan itu tak berarti mencari yang murah saja, tetapi juga berpikir sampai beberapa tahun ke depan.
Di dunia TIK, sebenarnya keterlambatan mengikuti perkembangan perangkat keras, masih dapat ditoleransi 3-4 tahun ke belakang atau bahkan lebih tua lagi sedikit. Artinya investasi pemeliharaan dan penambahan kemampuan pengelolaan data dari perangkat keras masih bisa ditahan 3-4 tahun ke belakang. Tapi penghematan itu hampir tak dapat dilakukan pada penyimpanan data. Hampir seluruh investasi baru dapat ditahan, kecuali untuk mengurangi penambahan kapasitas data. karena setiap data pelanggan, transaksi dan seluruh log yang ada, tak bijak jika tak dikelola dengan benar agar bisa terus dimanfaatkan untuk dianalisa lagi.
Data pelanggan sebuah perusahaan mungkin lambat bertambah, tapi data transaksinya tak berarti berhenti bertambah. Bahkan komputasi personal pun terus memerlukan penambahan kapasitas data. Jika tidak ditambah, maka akhirnya harus diadakan pemilihan data yang aktual saja yang bisa terus disimpan. Penyediaan ruang penyimpanan data ini, perlu perencanaan matang. Dari kapasitas aktual, kapasitas backup dan kapasitas yang dicadangkan untuk keduanya. Perhitungan ini perlu dianggarkan dengan tepat.
Solusi dari vendor-vendor ternama lebih sering tak pernah terjangkau oleh UKM. Jangankan untuk memikirkan kapasitas storage array dengan mirror dan redundancy, memikirkan kebutuhan operasional dan penyimpanan data aktual saja masih sulit. Maka lebih tak bijak jika solusi yang digunakan justru mengabaikan pemilihan teknologi dan penerapan yang tepat. Pemilihan teknologi ini menjadi penting karena selain penerapan yang tepat juga memperhitungkan efisiensi dan fleksibilitas ekpansinya di masa depan.
Soal Sumberdaya Manusia
Sumberdaya selalu menjadi masalah besar dalam penerapan TIK untuk UKM. Selain kapasitas pembiayaan, keterbatasan pengetahuan juga ketersediaan tenaga kerja yang terampil dan pengalaman, masih dirasa kurang sekali. Bahkan dengan menjamurnya sekolah-sekolah tinggi teknologi komunikasi dan informasi di kota-kota kabupaten, ternyata banyak belum mampu menjawab kebutuhan penyediaan sumberdaya manusia TIK yang dibutuhkan.
Banyaknya dukungan BUMN besar sering hanya berupa pemanis bibir saja. Dukungan dan dorongan pemerintah seperti biasa masih sangat kurang. Sementara ketersediaan tenaga terampil dan berpengalaman yang mampu memikirkan solusi TIK yang tepat guna untuk UKM sering sulit dipertemukan. Karena umumnya tenaga terampil yang ada berasal dari komunitas-komunitas opensource, maka mereka sendiri juga terbatas waktu dan kemampuannya untuk menjual dan memperkenalkan diri kepada jenis-jenis usaha UKM. Akibatnya lulusan sekolah-sekolah TIK yang ahli dan berbakat justru lebih mudah menawarkan diri mereka ke perusahaan-perusahaan asing dan akhirnya melayang ke luar Indonesia. Sisanya yang kurang terampil akan bekerja di luar bidang TIK atau menambah jumlah sarjana pengangguran.
Pengadaan Perangkat Keras Tepat Guna
Dengan memperhitungkan kebutuhan dan kemampuan, pada dasarnya storage server bisa dibangun sendiri dengan penyesuaian pada dua hal besar tersebut. Pengadaan ini dengan memperhitungkan fleksibilitas ekspansinya di masa depan. Dengan perhitungan yang tepat untuk kapasitas dan flksibilitas yang sama, pengadaan perangkat keras bisa diabaikan dengan membangun sendiri. Pada perangkat keras, memang perlu keseimbangan antara kebutuhan, anggaran dan kehandalan mesin. Jika kesulitan dengan SDM, maka perlu dukungan terhadap ketersediaan perangkat keras tambahan yang kita perlukan sewaktu-waktu. Sudah ada beberapa vendor lokal, yang bisa diajak bekerja sama dan cukup baik dukungan purna jualnya. Jika mampu, sepenuhnya perangkat keras dibangun sendiri. Ini harusnya berlaku untuk industri piranti lunak lokal. Kerja keras ini sudah ditunjukkan pada kisah-kisah awal berdirinya raksasa Google. Kesuksesan mereka adalah kerja keras, diantaranya adalah bagaimana membangun teknologi backend yang mendukung komputasi algoritma dan media penyimpanan data seperti yang mereka butuhkan. Tidak ada yang serta merta untuk sampai ke titik itu. Pada UKM hal ini seharusnya menjadi bagian utama yang layak dipikirkan.
Memilih cloud technology di Indonesia rasanya masih belum tepat. Terutama karena harga layanan pita lebar yang masih sangat mahal. Jadi soal penyimpan data, metode konvensional masih lebih terjangkau. Metode konvensional adalah menyediakan membangun storage server sendiri yang terjangkau, mudah pengoperasian dan pemeliharaannya. Mesin-mesin untuk storage server bisa dimulai dari yang paling kecil, setidaknya menyediakan kapasitas yang besar. Saat ini memilih disk array akan lebih menghemat ruang dan catu daya daripada memilih penyediaan lebih dari satu mesin untuk mendukung pola redundancy. Tetapi memang paling mudah mencari dua mesin di pasar untuk redundant Storage Server. Dari yang paling sederhana, dengan dua mesin redundant, setidaknya hanya dibutuhkan mulai kurang dari 10 juta rupiah untuk membangun dual mesin Storage Server dengan kapasitas 4 TB SATA.
Memilih Piranti Lunak
Pertama, tentu Opensource! Solusi lain hanya pembajakan atau membayar lebih tinggi lagi. Pembajakan tidak akan menghindarkan dari resiko lain berupa ancaman keamanan, kehilangan dukungan dan memang sangat tak bijak untuk UKM dari sisi Total Biaya Kepemilikan. Opensource sudah menyediakan solusi jadi untuk itu.
Solusi dari Opensource berupa sistem operasi yang bisa mengubah sebuah PC biasa untuk difungsikan menjadi SAN (Storage Area Network) dan NAS (Network Attached Storage) sekaligus. Yang instan adalah FreeNAS dan Openfiler, dua dari yang beserak di dunia opensource. Menyebut yang lainnya adalah Nexenta Stor sampai kapasitas tertentu saja. Storage Server yang mampu bergunsi menjadi SAN/NAS sekaligus menjadi penting, jika pemeliharaannya sampai pada tingkat: anda tak perlu menyadarinya bahwa mesin itu ada, kecuali bahwa kapasitas yang anda butuhkan selalu tersedia. Bebas virus, hemat sumberdaya, tak perlu perangkat input/output standar PC: keyboard, mouse dan monitor. Yang kita perlukan hanya network card dan koneksi Storage Server ke jaringan. Pengaturan dan konfigurasi selanjutnya bisa dilakukan secara remote dari PC lain di dalam jaringan yang sama.Seringkali saya dapati yang terjadi pada UKM adalah penggunaan sistem operasi bajakan, belanja harddisk berukuran kecil yang membingungkan manajemennya, pembangunan NAS (hanya berupa share disk) yang tidak terorganisasi dengan baik, pengaturan otoritas penggunaan yang merepotkan pemeliharaan ditambah ganggguan-gangguan lain yang mengancam keamanan data: virus, worm, dll. Memfungsikan sistem operasi desktop menjadi Storage Server amat tidak tepat. Bukan kapasitasnya, dan secara jangka panjang merepotkan pemeliharaan sistem dan data.
Panggilan Bagi Penggiat Opensource
Di Indonesia saat ini, sekolah-sekolah Teknologi Informasi sudah berjamur. Di banyak kota besar dan bahkan kota-kota kecil sudah menghasilkan sarjana-sarjana teknologi informasi yang masih terus bisa diserap. Hanya sayangnya penyerapan ini tidak dibarengi dengan peningkatan kualitasnya. Dari bibit sampai metode pengajarannya banyak yang kurang memberikan inspirasi bagi pelajar untuk menggali kemampuannya. Yang terjadi justru sekolah menjadi tak lebih dari tempat kursus kilat yang menghasilkan para pengguna yang bahkan masih belum terlatih.
Jadi masih sulit untuk menumbuhkan pengembang solusi kreatif yang mampu memberikan layanan tepat guna solusi penyimpanan data untuk UKM. Akibatnya solusi sederhana pun jadi nampak mahal, karena sedikitnya penyedia layanan tersebut atau langkanya tenaga terlatih. Dari komunitas Opensource, diharapkan mampu memberikan solusi tepat guna yang bersifat lebih masal. Artinya layanan pembangunan tersebut menjadi kemasan yang bisa diproduksi atau bahkan disalin dengan mudah secara masal. Misalnya dengan pengembangan distribusi sistem operasi siap pakai dari dunia Opensource yang dapat langsung digunakan secara instan untuk menangani penyimpanan data dalam ukuran besar dan membengkak cepat.
FreeNAS dikembangkan dari FreeBSD, Nexenta dikembangkan dari OpenSolaris dan Openfiler dari Linux. Rasanya masih selalu terbuka ruang bagi distribusi khusus menangani solusi penyimpanan data jaringan seperti ini. Komunitas Opensource Indonesia, kapan lahir distribusi khusus untuk SAN dari anda? Yang mudah, instan dan tepat guna masih akan selalu ditunggu UKM, daripada UKM harus belanja solusi vendor-vendor besar yang jelas tak ekonomis.
Posted by Meta Nurwidyanto
in Opensource
at
00:54
| Comments (2)
| Trackbacks (0)
View as PDF: This entry | This month | Full blog
View as PDF: This entry | This month | Full blog
Trackbacks
Trackback specific URI for this entry
No Trackbacks
Comments
Display comments as
(Linear | Threaded)
Kira2 arah perkembangan storage ke depannya gimana yah?
#1
sabix
on
2012-01-06 18:58
(Reply)
semakin network and cloud. GigaBit Network + 10GE sudah tersedia dan semakin terjangkau
#1.1
Meta Nurwidyanto
(Homepage)
on
2012-01-06 21:07
(Reply)

