Saya sedikit kecewa ketika akhirnya beberapa waktu lalu Canonical menghentikan dukungannya pada proyek Moblin saat Moblin bermetamorfosis menjadi Meego. Meego adalah gabungan kekuatan Intel dan Nokia untuk mencoba menyajikan sistem operasi ringan, multifungsi untuk beberapa varian perangkat: dari perangkat genggam dan mesin-mesin kecil berbasis prosesor Intel Atom. Ketika masih bernama Moblin, Intel telah menyerahkannya kepada Linux Foundation, sehingga membuka peluang vendor distribusi lain untuk ikut bergabung dengan varian distribusi mereka sendiri: Ubuntu, SUSE Linux, Fedora dan Mandriva. Moblin sendiri awalnya secara ofisial mengambil model distribusi rpm ala Fedora.
Monday, November 8. 2010
Dari Moblin ke Smeegol
Ubuntu Moblin Remix
Canonical sudah mendukung proyek Moblin sejak Ubuntu 9.04 resminya dengan panggilan Ubuntu Moblin Remix (UMR). Setelah saya bandingkan dengan Moblin versi resmi Intel, rasanya memang lebih fleksible UMR, barangkali karena saya lebih akrab dengan Ubuntu, .deb dan apt saja. Salah satu alasan utama pilihan saya pada UMR saat itu adalah ketersediaan piranti lunak dari kekayaan repository Ubuntu/Debian dan kemudahan.
Saya resmi menggunakan UMR pada notebook saya (bukan netbook) pada UMR berbasis Ubuntu 9.10 Karmic Koala, ulasannya disini. Tapi tampaknya Canonical lebih tertarik untuk melanjutkan versi netbook-nya sendiri yaitu Ubuntu Netbook Remix (UNR) dan mulai pada rilis Ubuntu 10.04 menggunakan Unity sebagai Desktop Manager. Pada dasarnya saya menyukai Mutter (Metacity Clutter) Moblin sebagai Desktop Manager yang enteng, tak banyak asesori dan bergaya di luar mainstream desktop Linux lainnya seperti: GNOME, KDE, LXDE, E17, OpenBox, Fluxbox dst.
Soal UNR dan Unity, Canonical tampaknya juga ingin bergaya lain di luar mainstream desktop, ketika mengumumkan akan menggunakan Unity sebagai desktop utamanya pada Ubuntu 11.04, Shuttleworth - boss Canonical menyebutnya Ubuntu Light. Pada UNR 10.10 Maverick Meerkat, tak banyak yang disajikan beda dan sama sekali tak ada hal baru yang menarik sehingga tak cukup berarti untuk meng-upgrade Ubuntu 10.04 Lucid Lynx di netbook saya dengan UNR Maverick Meerkat 10.10.
Munculnya Meego

Meego adalah gabungan proyek Moblin dari Intel dan Maemo dari Nokia. Meego diarahkan untuk menyediakan platform yang sama bagi banyak tipe dan model perangkat Intel dan Nokia, dimana dari Intel pada dasarnya adalah arsitektur berbasis prosesor Atom-nya. Meego 1.0 telah dirilis sejak tahun lalu. Ada yang berubah dari jerohan Meego dibanding Moblin. Meego sudah dibangun dengan QT Toolkit (basis dari KDE) dibanding Moblin yang banyak dibangun dengan pustaka GTK. Ini bisa dipahami, karena Nokia sudah membeli QT dan meng-opensource-kannya.
Tapi Meego 1.0 sama sekali jauh dari harapan saya dibanding Moblin lama dari Ubuntu. Saya masih terus menggunakan Moblin yang kemudian saya anggap sebagai Ubuntu dengan desktop manager yang berbeda saja. Saya suka sentuhan yang beda dari GUI Moblin. Moblin tak bisa dikatakan desktop minimalis kalau dari ukurannya, begitu juga Meego. Moblin saya untuk penggunaan optimal sehari-hari dimana saya mengganti browser utamanya dengan Chromium, dan codec non-free untuk memainkan file-file multimedia seperti mp3, 3gp, mov, mpg dll, saya perlu menambahkan pustaka codec, atau bahkan aplikasi tambahan dari yang sudah ada di Moblin. UMR yang saya gunakan menggunakan kekayaan repository Ubuntu, jadi menambahkan ini dan itu jelas sangat mudah. Applet NetworkManager Moblin untuk koneksi WIred, WIFI dan 3G tidak berfungsi di Moblin, jadi saya hampir tak pernah menggunakannya kecuali dengan cara lama Debian/Ubuntu. Dan sampai optimal untuk desktop sehari-hari yang saya perlu ruang harddisk paling tidak 3,5 GB, masih cukup hemat dibandingkan Windows (XP sekalipun), tapi lumayan besar dibanding desktop Linux lainnya.
Meego sudah hadir langsung dengan Chromium, tapi soal piranti lunak, Appication Garage sepertinya tak berbunyi apapun, karena sedikit sekali dari kebutuhan harian yang bisa temukan di situ. Saya bertanya-tanya, apa memang demikian? Jadi untuk sekedar mengetik pun, dengan Word Processor (OpenOffice Write) misalnya, saya mesti susah payah memasangnya. Baiklah jika Moblin memang bukan full-blown desktop, tapi tentu lebih baik jika full-blown Office Suite setidaknya juga ada di Application Garage. Meego 1.1 herannya juga mengabaikan Office Suite, jadi orang cuma dipersilahkan pakai Google Docs dan browsing saja. Di tempat fakir bandwidth macam Indonesia, hal ini sama saja dengan sistem operasi tak banyak guna, bukan ringan tepatguna.
Meego 1.1 sudah dapat dipasang berdampingan dengan Maemo pada N900. Tapi Meego 1.1 masih harus mengkonfigurasi codec-codec yang diperlukan untuk memainkan file-file multimedia non-free. Yang mengherankan adalah ketaktersediaan-nya di Application Garage. Tak banyak berguna jika diinstalasikan ke desktop netbook, apalagi pada notebook saya. Sudah rilis 1.1 masih jauh dari siap dan matang untuk dipergunakan di lingkungan desktop (netbook/notebook). Aneh!
Smeegol dari OpenSUSE
Ketika akhirnya Moblin menjadi Meego, hanya Goblin Team openSUSE yang masih menyatakan dukungannya. Meego sendiri kemudian juga menjadi lebih cenderung ke gaya openSUSE daripada Fedora, meski tanpa YaST (Yet another Setup Tool - SUSE) yang dahsyat itu. Smeegol dibangun dari openSUSE dengan SUSE Studio dan antarmuka diambil dari Meego. Jadi Smeegol adalah kerja sukarela dari komunitas openSUSE dan merupakan interpretasi openSUSE Goblin Team dari pengalaman antarmuka Meego. Banyak kustomisasi yang membedakannya dengan Meego. Tapi yang paling saya suka adalah ketersediaan repository kaya komunitas openSUSE untuk piranti-piranti lunak Smeegol.
Smeegol seolah membangkitkan kembali Ubuntu Moblin Remix yang sudah saya bunuh dari keseharian saya karena dukungan Ubuntu tak berlanjut lagi di rilis setelah Ubuntu 9.10. Meng-upgrade Moblin basis Ubuntu 9.10 saya ke Lucid Lynx banyak piranti lunak yang terputus pustakanya. Smeegol adalah jawabannya, meski dari openSUSE yang belum pernah saya gunakan sama sekali. Tapi Goblin Team openSUSE sudah melakukan kerja yang layak sekali dipuji. Smeegol menutup banyak kekuarangan Meego. Pada dasarnya perbedaan distribusi openSUSE dan Ubuntu tak besar-besar sekali jika soal cara pengelolaan paket. Siapa pengguna Linux lama tak kenal YaST? YaST adalah control center paling terpadu dan tangguh dari semua distribusi yang pernah saya kenal. Apalagi sekarang dengan adanya command line Zypper yang (barangkali terinspirasi) dari Apt Debian, segala sesuatunya jadi tak banyak beda dengan lingkungan Debian/Ubuntu. Jika mau atur-atur konfigurasi dengan GUI (Graphical User Interface), pakai YaST tak ada yang lewat dari kontrol.
Smeegol sudah hadir dengan Chromium, applet NetworkManager yang bekerja baik sekali dengan koneksi kabel, WIFI maupun 3G. Jika tak menggunakan DHCP, mudah sekali mengkustomisasikannya. Saya bisa tambahkan codec-codec yang saya perlukan untuk file-file multimedia, atur Smeegol seolah openSUSE dengan wajah lain saja. Jadi ketimbang kita tunggu-tunggu Meego menjadi matang, menurut saya Smeegol lebih layak diberi kesempatan coba. Ini bukan hanya bagi pengguna lama openSUSE tapi juga pengguna baru seperti saya. Dan Smeegol juga hadir untuk arsitektur 32 bit dan 64 bit. Jadi Notebook sama juga berhak jadi serba klik cepat dan instant macam yang versi Netbook. Lupakan Meego, simak saja Smeegol yang juga mendukung laptop Core2 dan CoreI kita daripada hanya Atom.
Karena notebook yang saya gunakan menggunakan RAM 4GB, maka saya upgrade kernel Smeegol dari openSUSE standard ke kernel pae, agar dapat mengenali penuh RAM 4GB tersebut. Tak ada kesulitan yang berarti, repository openSUSE dimana-mana di Indonesia, jadi cukup mudah dan cepat pada kondisi buruk dan mahal bandwidth internet Indonesia, kita main di mirror lokal saja
Setelah install kernel, reboot. Jika sudah masuk, cek dengan htop maka RAM 4GB setidaknya akan dikenali sepenuhnya, tidak hanya 3GB jika menggunakan kernel default. Ketika saya cobakan di netbook berdampingan dengan Windows7 atau Windows XP, rasanya tak kalah mudah dan mentereng antarmukanya. Kustomisasi Smeegol adalah kustomisasi standar openSUSE, untuk desktop harian, banyak system service yang perlu kita non-aktifkan. Tapi ini bukan prioritas jika netbook/notebook ber-RAM memadai. Loading time dari saat memilih GRUB boot manager, kurang dari setengah menit (mungkin bisa di-tweak lebih cepat lagi sedikit) dan shutdown kurang dari 5 detik. Ini yang bikin patut dijajal, bukan?
Catatan
Ada soal brand penggunaan nama Smeegol (entah asal katanya dari SUSE Meego atau bukan), yang plesetan bunyi mirip dari Smeagol, nama Gollum pemilik cincin dari kisah trilogi The Lord of The Ring JR. Tolkien. Smeegol sebenarnya adalah pilihan nama yang cerdas. Nama bagus yang dekat asosiasi bunyinya dengan Meego. Tapi rupanya pemilik brand The Linux Foundation merasakan kedekatan itu sebagai pencederaan brand (cedera apanya ya?), jadi mereka berunding dengan Goblin Team untuk menemukan nama baru selain Smeegol. Gantilah apapun namanya, bagi user seperti saya, tak banyak berarti, karena itu juga tak akan membuat Meego jadi jauh lebih menarik. Smeegol sudah lebih merebut hati: antarmuka sama, isi lebih tepatguna dan mudah pengelolaannya. Komunitas openSUSE lebih tua dan tak kalah dari Ubuntu, mirror tersedia di mana-mana (daripada Meego Application Garage), alhasil codec, plugin, pustaka, piranti lunak pun adalah kekayaan repository openSUSE jua. Jadi apalagi? Smeegol memang layak sekali dicicipi.
Canonical sudah mendukung proyek Moblin sejak Ubuntu 9.04 resminya dengan panggilan Ubuntu Moblin Remix (UMR). Setelah saya bandingkan dengan Moblin versi resmi Intel, rasanya memang lebih fleksible UMR, barangkali karena saya lebih akrab dengan Ubuntu, .deb dan apt saja. Salah satu alasan utama pilihan saya pada UMR saat itu adalah ketersediaan piranti lunak dari kekayaan repository Ubuntu/Debian dan kemudahan.Saya resmi menggunakan UMR pada notebook saya (bukan netbook) pada UMR berbasis Ubuntu 9.10 Karmic Koala, ulasannya disini. Tapi tampaknya Canonical lebih tertarik untuk melanjutkan versi netbook-nya sendiri yaitu Ubuntu Netbook Remix (UNR) dan mulai pada rilis Ubuntu 10.04 menggunakan Unity sebagai Desktop Manager. Pada dasarnya saya menyukai Mutter (Metacity Clutter) Moblin sebagai Desktop Manager yang enteng, tak banyak asesori dan bergaya di luar mainstream desktop Linux lainnya seperti: GNOME, KDE, LXDE, E17, OpenBox, Fluxbox dst.
Soal UNR dan Unity, Canonical tampaknya juga ingin bergaya lain di luar mainstream desktop, ketika mengumumkan akan menggunakan Unity sebagai desktop utamanya pada Ubuntu 11.04, Shuttleworth - boss Canonical menyebutnya Ubuntu Light. Pada UNR 10.10 Maverick Meerkat, tak banyak yang disajikan beda dan sama sekali tak ada hal baru yang menarik sehingga tak cukup berarti untuk meng-upgrade Ubuntu 10.04 Lucid Lynx di netbook saya dengan UNR Maverick Meerkat 10.10.
Munculnya Meego

Meego adalah gabungan proyek Moblin dari Intel dan Maemo dari Nokia. Meego diarahkan untuk menyediakan platform yang sama bagi banyak tipe dan model perangkat Intel dan Nokia, dimana dari Intel pada dasarnya adalah arsitektur berbasis prosesor Atom-nya. Meego 1.0 telah dirilis sejak tahun lalu. Ada yang berubah dari jerohan Meego dibanding Moblin. Meego sudah dibangun dengan QT Toolkit (basis dari KDE) dibanding Moblin yang banyak dibangun dengan pustaka GTK. Ini bisa dipahami, karena Nokia sudah membeli QT dan meng-opensource-kannya.
Tapi Meego 1.0 sama sekali jauh dari harapan saya dibanding Moblin lama dari Ubuntu. Saya masih terus menggunakan Moblin yang kemudian saya anggap sebagai Ubuntu dengan desktop manager yang berbeda saja. Saya suka sentuhan yang beda dari GUI Moblin. Moblin tak bisa dikatakan desktop minimalis kalau dari ukurannya, begitu juga Meego. Moblin saya untuk penggunaan optimal sehari-hari dimana saya mengganti browser utamanya dengan Chromium, dan codec non-free untuk memainkan file-file multimedia seperti mp3, 3gp, mov, mpg dll, saya perlu menambahkan pustaka codec, atau bahkan aplikasi tambahan dari yang sudah ada di Moblin. UMR yang saya gunakan menggunakan kekayaan repository Ubuntu, jadi menambahkan ini dan itu jelas sangat mudah. Applet NetworkManager Moblin untuk koneksi WIred, WIFI dan 3G tidak berfungsi di Moblin, jadi saya hampir tak pernah menggunakannya kecuali dengan cara lama Debian/Ubuntu. Dan sampai optimal untuk desktop sehari-hari yang saya perlu ruang harddisk paling tidak 3,5 GB, masih cukup hemat dibandingkan Windows (XP sekalipun), tapi lumayan besar dibanding desktop Linux lainnya.
Meego sudah hadir langsung dengan Chromium, tapi soal piranti lunak, Appication Garage sepertinya tak berbunyi apapun, karena sedikit sekali dari kebutuhan harian yang bisa temukan di situ. Saya bertanya-tanya, apa memang demikian? Jadi untuk sekedar mengetik pun, dengan Word Processor (OpenOffice Write) misalnya, saya mesti susah payah memasangnya. Baiklah jika Moblin memang bukan full-blown desktop, tapi tentu lebih baik jika full-blown Office Suite setidaknya juga ada di Application Garage. Meego 1.1 herannya juga mengabaikan Office Suite, jadi orang cuma dipersilahkan pakai Google Docs dan browsing saja. Di tempat fakir bandwidth macam Indonesia, hal ini sama saja dengan sistem operasi tak banyak guna, bukan ringan tepatguna.
Meego 1.1 sudah dapat dipasang berdampingan dengan Maemo pada N900. Tapi Meego 1.1 masih harus mengkonfigurasi codec-codec yang diperlukan untuk memainkan file-file multimedia non-free. Yang mengherankan adalah ketaktersediaan-nya di Application Garage. Tak banyak berguna jika diinstalasikan ke desktop netbook, apalagi pada notebook saya. Sudah rilis 1.1 masih jauh dari siap dan matang untuk dipergunakan di lingkungan desktop (netbook/notebook). Aneh!
Smeegol dari OpenSUSE
Ketika akhirnya Moblin menjadi Meego, hanya Goblin Team openSUSE yang masih menyatakan dukungannya. Meego sendiri kemudian juga menjadi lebih cenderung ke gaya openSUSE daripada Fedora, meski tanpa YaST (Yet another Setup Tool - SUSE) yang dahsyat itu. Smeegol dibangun dari openSUSE dengan SUSE Studio dan antarmuka diambil dari Meego. Jadi Smeegol adalah kerja sukarela dari komunitas openSUSE dan merupakan interpretasi openSUSE Goblin Team dari pengalaman antarmuka Meego. Banyak kustomisasi yang membedakannya dengan Meego. Tapi yang paling saya suka adalah ketersediaan repository kaya komunitas openSUSE untuk piranti-piranti lunak Smeegol.Smeegol seolah membangkitkan kembali Ubuntu Moblin Remix yang sudah saya bunuh dari keseharian saya karena dukungan Ubuntu tak berlanjut lagi di rilis setelah Ubuntu 9.10. Meng-upgrade Moblin basis Ubuntu 9.10 saya ke Lucid Lynx banyak piranti lunak yang terputus pustakanya. Smeegol adalah jawabannya, meski dari openSUSE yang belum pernah saya gunakan sama sekali. Tapi Goblin Team openSUSE sudah melakukan kerja yang layak sekali dipuji. Smeegol menutup banyak kekuarangan Meego. Pada dasarnya perbedaan distribusi openSUSE dan Ubuntu tak besar-besar sekali jika soal cara pengelolaan paket. Siapa pengguna Linux lama tak kenal YaST? YaST adalah control center paling terpadu dan tangguh dari semua distribusi yang pernah saya kenal. Apalagi sekarang dengan adanya command line Zypper yang (barangkali terinspirasi) dari Apt Debian, segala sesuatunya jadi tak banyak beda dengan lingkungan Debian/Ubuntu. Jika mau atur-atur konfigurasi dengan GUI (Graphical User Interface), pakai YaST tak ada yang lewat dari kontrol.
Smeegol sudah hadir dengan Chromium, applet NetworkManager yang bekerja baik sekali dengan koneksi kabel, WIFI maupun 3G. Jika tak menggunakan DHCP, mudah sekali mengkustomisasikannya. Saya bisa tambahkan codec-codec yang saya perlukan untuk file-file multimedia, atur Smeegol seolah openSUSE dengan wajah lain saja. Jadi ketimbang kita tunggu-tunggu Meego menjadi matang, menurut saya Smeegol lebih layak diberi kesempatan coba. Ini bukan hanya bagi pengguna lama openSUSE tapi juga pengguna baru seperti saya. Dan Smeegol juga hadir untuk arsitektur 32 bit dan 64 bit. Jadi Notebook sama juga berhak jadi serba klik cepat dan instant macam yang versi Netbook. Lupakan Meego, simak saja Smeegol yang juga mendukung laptop Core2 dan CoreI kita daripada hanya Atom.
Karena notebook yang saya gunakan menggunakan RAM 4GB, maka saya upgrade kernel Smeegol dari openSUSE standard ke kernel pae, agar dapat mengenali penuh RAM 4GB tersebut. Tak ada kesulitan yang berarti, repository openSUSE dimana-mana di Indonesia, jadi cukup mudah dan cepat pada kondisi buruk dan mahal bandwidth internet Indonesia, kita main di mirror lokal saja
$sudo zypper refresh && sudo zypper se kernel | grep pae
$sudo zypper in kernel-pae htop
Setelah install kernel, reboot. Jika sudah masuk, cek dengan htop maka RAM 4GB setidaknya akan dikenali sepenuhnya, tidak hanya 3GB jika menggunakan kernel default. Ketika saya cobakan di netbook berdampingan dengan Windows7 atau Windows XP, rasanya tak kalah mudah dan mentereng antarmukanya. Kustomisasi Smeegol adalah kustomisasi standar openSUSE, untuk desktop harian, banyak system service yang perlu kita non-aktifkan. Tapi ini bukan prioritas jika netbook/notebook ber-RAM memadai. Loading time dari saat memilih GRUB boot manager, kurang dari setengah menit (mungkin bisa di-tweak lebih cepat lagi sedikit) dan shutdown kurang dari 5 detik. Ini yang bikin patut dijajal, bukan?
Catatan
Ada soal brand penggunaan nama Smeegol (entah asal katanya dari SUSE Meego atau bukan), yang plesetan bunyi mirip dari Smeagol, nama Gollum pemilik cincin dari kisah trilogi The Lord of The Ring JR. Tolkien. Smeegol sebenarnya adalah pilihan nama yang cerdas. Nama bagus yang dekat asosiasi bunyinya dengan Meego. Tapi rupanya pemilik brand The Linux Foundation merasakan kedekatan itu sebagai pencederaan brand (cedera apanya ya?), jadi mereka berunding dengan Goblin Team untuk menemukan nama baru selain Smeegol. Gantilah apapun namanya, bagi user seperti saya, tak banyak berarti, karena itu juga tak akan membuat Meego jadi jauh lebih menarik. Smeegol sudah lebih merebut hati: antarmuka sama, isi lebih tepatguna dan mudah pengelolaannya. Komunitas openSUSE lebih tua dan tak kalah dari Ubuntu, mirror tersedia di mana-mana (daripada Meego Application Garage), alhasil codec, plugin, pustaka, piranti lunak pun adalah kekayaan repository openSUSE jua. Jadi apalagi? Smeegol memang layak sekali dicicipi.
Posted by Meta Nurwidyanto
in Linux
at
09:48
| Comments (0)
| Trackbacks (0)
View as PDF: This entry | This month | Full blog
View as PDF: This entry | This month | Full blog
Trackbacks
Trackback specific URI for this entry
No Trackbacks

