Kesan dari sesuatu yang gratis itu adalah murahan, kesan lain adalah benar-benar tak ada investasi juga hasil yang bisa diharapkan dari gratisan. Padahal kenyataannya tak selalu demikian. Pada konteks pengembangan aplikasi dan piranti lunak komputer, tablet dan smartphone, yang gratis tak selalu murah ternyata. Bagi pengembang piranti lunak, kecenderungan pengguna untuk memilih yang gratis harus disiasati dengan cerdik. Sudah banyak contoh bahwa sesuatu yang nampak gratis sebenarnya mash menyimpan potensi yang bisa ditarik nilainya setara dengan hasil yang tak gratis.

Indonesia adalah negeri besar dengan kecederungan besar untuk memilih yang gratisan. Selain soal daya beli, ini juga soal edukasi dan kesan yang keliru tentang yang gratis. Pada layanan-layanan tertentu, bagi pengguna sebenarnya yang gratis menghilangankan potensi mendapatkan dukungan teknis dan sesuatu yang secara tak sadar harus kita bayar juga. Yang tak sadar itu misalnya adalah biaya iklan yang muncul berganti-ganti, yang secara diam-diam menguras quota penggunaan data kita. Bahkan meskipun kita menggunakan layanan koneksi unlimited, tetap menganggu karena kecepatan unduhan kita teralokasikan meski kecil tapi tetap, terus-menerus ke perusahaan pemasangan iklan.
Ada perbedaan mendasar layanan atau piranti lunak gratis dengan Opensource. Meski kelihatannya sama-sama tak berbayar, tetapi tekanan Opensource adalah pada kebebasan (termasuk bebas pakai dan bayar) bukan pada kegratisannya. Pada Google misalnya, layanan murah hati email dan lain-lain itu, apakah memberi hak anda untuk mencegah Google tak memindai isi email dan lain-lain itu? Tak sadarkah kita betapa berharganya privasi email, dokumen-dokumen dan sindikasi yang kita letakkan di Google? Bagi pengguna Android, apa yang menjamin data unduhan dari Android market kita tak digunakan oleh Google? Tapi itu juga adalah sebuah pilihan.
Bagi pengembang, ekosistem seperti App store dari Apple untuk iPhone, iPad dan iPod mereka adalah lingkungan yang menjanjikan. Bagi pengembang android, terbuka kemungkinan yang sama, tetapi kecenderungan pengguna smartphone dan tablet di Indonesia adalah mencari yang gratis. Android menyediakan kegratisan yang melimpah dari piranti lunaknya, tapi menyimpan bahaya pencurian data pribadi, pengambilan legal penggunaan data dan koneksi internet gadget kita dst. Meski begitu yang indah dari Android karena berasal dari Linux yang Opensource, juga karena menyediakan kemungkinan kita menangkal semua yang tak ingin diambil dari kita sebagai pengguna. Inilih yang tak gratis.

Yang tak gratis adalah waktu dan tenaga yang kita keluarkan untuk mengeksplorasi cara-cara menangkal yang tak ingin diambil dari kita: data quota dan koneksi internet. Jika Opensource menyediakan kebebasan itu, adalah karena kebebasan seperti itu memang tak gratis. Yang menarik adalah yang tak gratis itu termasuk ajakan bagi kita untuk berbagi. Inilah kuncinya, pada Opensource kuncinya adalah berbagi. Bahkan jika kita membayar dukungan teknis piranti lunak yang kita gunakan kepada pembuatnya atau penyedia layanan dukungan teknis, itu masih dalam semangat berbagi. Dan Android juga lahir dari itu, karena Google menyediakan kode sumber yang membuat orang bisa menambahkan ini dan itu, pada jerohan sistem operasinya: jadilah custom ROM, custom GUI dan tambahan lainnya. Orang ada yang menyebutnya keterpecahan (fragmentation). Tapi saya lebih suka menyebutnya keanekaragaman yang indah meriah.
Pada piranti lunak, banyak model pengembangan lain yang lebih adil dan tak rakus. Bagi pengembang piranti lunak, perlu kesabaran dan energi besar yang diinvestasikan ke dalam kreatifitas. Tetapi pada suatu titik, perlu ada semacam tanggung jawab. Kata kuncinya adalah BERBAGI. Ilmu pengetahuan adalah milik kemanusiaan, dan apapun yang dihasilkan dari itu selalu mengandung tanggung jawab bahwa selain menikmati hasilnya, harus ada yang kita kembalikan sebagai kontribusi kita pada kemanusiaan. Saya tak berpikir bahwa menjual piranti lunak dan melisensikannya itu jahat. Yang jahat adalah PEMBAJAKAN, titik. Tetapi menjual sesuatu yang bahkan setelah kita jual tak membuat pembelinya berhak untuk membongkar, membagi, memberikannya pada orang lain atau menjualnya kembali secara keseluruhan atau kepingan-kepingan adalah hal yang buruk.
Membayar biaya yang pantas bagi piranti lunak atau layanan yang kita pakai adalah baik bagi pengembang. Jika tak bisa dengan cara itu, pengembang layaknya juga bisa mencari model-model untuk mengambil nilai kreatifitasnya dan menggunakannya untuk hidup dan berkreasi lagi. Larinya pengembang-pengembang piranti lunak bagus kita ke luar Indonesia, bukan soal orang Indonesia suka yang gratisan. Tak ada yang salah dengan kesukaan akan yang gratis, karena yang gratis toh ternyata tak selalu berarti tak bayar sama sekali. Tapi tantangan, gengsi, rekan kerja yang hebat dan ekosistem pengembangan rasanya adalah alasan yang lebih logis.
'Malu Dong, Pakai Smartphone Aplikasi Gratisan'. Ada yang salah dengan hal itu? Untuk Indonesia rasanya yang lebih logis adalah ketidaktahuan.
Perlu ada edukasi bahwa, layanan atau piranti lunak tertentu perlu mengutip sesuatu yang pantas untuk pengembangan lanjut mereka. Mengutip itu bisa dalam bentuk uang untuk dukungan teknis langsung atau dalam bentuk iklan yang menempel pada layanan/piranti lunak tersebut. Saya percaya bahwa pada sebagian besar pengguna smartphone itulah yang terjadi. Dan pada tingkat ketidaktahuan itu, yang gratis itu tak akan jadi sepenuhnya gratis. Sebagian besar juga tak sadar bahwa apa yang didapatnya seolah gratis itu juga menghisap diam-diam secara legal apa yang mereka bayar sebagai ongkos penggunaan. Dan itulah yang terjadi.