Saat ini Frozen Yoghurt masih dominan di kancah Android 2.2 dengan lebih dari separuh perangkat Android di pasaran. Meski Android baru sebagian telah muncul dengan Gingerbread Android 2.3, tetapi beberapa vendor smartphone masih mengeluarkan versi Froyo dengan janji upgrade ke Gingerbread dalam waktu dekat. Sejak Google mengeluarkan Honeycomb yang ditujukan khusus untuk tablet, beberapa tablet edisi kuartal kedua 2011 sudah dengan Honeycomb seperti Motorola Xoom, LG Optimus Pad, Samsung Galaxy Tab 10 dll. Tapi HTC Flyer masih dengan Gingerbread, juga Samsung Galaxy Tab 7 (telah tersedia upgrade ke Gingerbread) atau bahkan si telat Dell Streak 7 dengan spesifikasi bagus tapi masih Froyo. Seberapa signifikan sebenarnya (F)royo ke (G)ingerbread atau (H)oneycomb?
Saturday, July 16. 2011
Dari Froyo ke Gingerbread
Froyo adalah lompatan serius dan ledakan meyakinkan Android dari Eclair 2.1. Lepas dari kasus tuntutan Oracle pada Google tentang Android, Android akan sulit tertahan melampaui yg platform lainnya.Fragmentasi
Bahkan di dalam Android sendiri saat ini masih ada Eclair, Froyo, Gingerbread dan Honeycomb yang beredar bersamaan di pasaran. Apakah developer terganggu? Barangkali iya, jika kita hanya membicarakan platform aplikasi (native) Android. Tapi pada tingkat layanan komputasi awan, seperti media dan jejaring sosial: Twitter, Youtube, Facebook, Foursquare dan sejenisnya hal ini tak terlalu berpengaruh. Saya kira para pemain besar adalah yang bergerak di layanan, sebagaimana Google sendiri, sehingga aplikasi di smartphone atau tablet hanyalah sebuah antarmuka lain dari layanan mereka.
Google memimpin di depan soal ini, mari kita simak. Meski ada aplikasi Gmail (antarmuka gmail yang bisa multi akun) atau Google Reader (untuk RSS agregator, pengumpul RSS), tetapi Google terus membenahi antarmuka web-nya. Tak sekedar memberikan halaman web biasa, tapi juga web untuk perangkat mobile yang nyaman dan intuitif. Dibanding mobile site Yahoo Mail, Gmail terasa berbeda. Gmail diakses dengan browser stock Android memberikan tampilan dan rasa yang kaya dan mudah bagi pengguna. Begitupun dengan Google Reader atau layanan Google lainnya: Google Map misalnya.Fragmentasi adalah berkah dan tantangan tersendiri di platform Android, barangkali diwarisi dari Linux. Tapi sebagaimana di Linux, kita memilih Linux yang butuhkan daripada Linux untuk semua urusan. Tantangan itu tak hanya di soal edisi Android tapi juga di soal varian dari perangkat keras. Dari resolusi layar, CPU, RAM dan seterusnya. Dalam kemajemukan perangkat dan edisi Android, ternyata bahkan memerdekakan para pendekar pengembang piranti lunak untuk mengoprek ROM sendiri. Lahirlah ROM-ROM alternatif selain versi resmi Google sendiri. Bahkan ROM alternatif ini kadang menawarkan apa yang orisinilnya tak ada: misal ROM dengan FM Radio buat smartphone Nexus One yang aslinya tak ada FM Radio meski chipnya mendukung.
Platform Merdeka
Android sampai sejauh ini benar-benar menawarkan kemerdekaan dengan pengalaman layar sentuh yang tak jauh dari iPhone, keterjangkauan harga perangkat layaknya Nokia Symbian di pada masa jayanya dan tampilang yang tak dipancung mati seperti Windows Mobile. Ini adalah platform terbuka yang membuat kita bisa memodifikasi bagian manapun dari perangkat kita dari lingkar terdalam sistem operasinya sampai lingkar luar aplikasi dan tema antarmuka.Froyo adalah versi terbesar saat ini dengan varian perangkat mulai Smartphone terendah dengan CPU 600-an MHz sampai era dual-core seperti Nvidia Tegra. Tapi banyak perangkat sudah ditawarkan untuk upgrade ke Gingerbread oleh vendor masing-masing perangkat. Gingerbread menjanjikan peningkatan kinerja perangkat, khususnya yang sudah menggunakan CPU 1 GHz keatas.
Di platform merdeka yang tersedia selalu pilihan. Dan yang paling saya anggap penting dari semua yang dijanjikan semua platform adalah pilihan. Pilihan untuk membeli atau tidak, untuk memiliki atau tidak, untuk upgrade atau tidak, untuk memodifikasi isi perangkat yang kita beli sepuasnya atau untuk hanya menggunakan saja tapi dengan seirit-irit biaya di luar kepentingan kita.

Cara Jaringan
Alih-alih hanya mengandalkan bluetooth, Google bahkan menyodorkan kemampuan semacam MIFI, Mobile Access Point, WiFI Tether, WiFI Direct dibandingkan hanya bluetooth. Dan beda dengan bluetooth yang hanya bertukar file, dengan WiFI Direct, lebih dahsyat yang ditawarkan. Bukan WiFI Adhoc yang seolah-olah access point, tapi bahkan access point dengan kemampuan bertukar file, directory, eksplorasi sampai sharing (Samsung misalnya, menggunakan Allshare application).Saya pribadi saat ini lebih sering menggunakan WiFI daripada bluetooth untuk bertukar file antar perangkat dengan kemampuan WiFI, karena semua fitur tersebut.
Tapi cara jaringan ini juga sangat memakan sumberdaya, sayangnya. Jika dulu di Symbian, kita paling tidak bisa 2 hari baru catu daya baterai lagi, maka saat ini tak sampai setengah hari dengan koneksi terus-menerus WiFI bisa menghisap tenaga baterai lebih cepat. Sebelum ini teratasi, kita harus pandai berhemat di platform Android. Dan Gingerbread memang juga menjanjikan penghematan dibanding Froyo, dan itu benar menurut saya. Meski begitu saya memilih untuk mematikan koneksi data (3G), WiFI atau bahkan pakai flight mode jika sedang menggunakan tablet untuk sekedar baca buku.
Catatan
Sampai saat ini saya tak merasa tablet bisa menggantikan banyak yang bisa dilakukan notebook. Tapi smartphone memang lebih menyenangkan dibandingkan menenteng-tenteng, jika itu berkisar pada pekerjaan yang mengakses internet. Menurut saya tablet Android tanpa 3G kecuali soal harga, jika di Indonesia tak sepenuh pengalaman smartphone Android. Untuk saat ini dibanding tablet WiFi saya pasti akan pilih notebook dan koneksi portabel WiFI tethering smartphone Android, apapun jenisnya.
Posted by Meta Nurwidyanto
in Android
at
13:24
| Comments (0)
| Trackbacks (0)
View as PDF: This entry | This month | Full blog
View as PDF: This entry | This month | Full blog
Trackbacks
Trackback specific URI for this entry
No Trackbacks

